Khazanah Pengobatan dan Kesehatan dalam Tradisi Islam

 Khazanah Pengobatan dan Kesehatan dalam Tradisi Islam

Khazanah Pengobatan dan Kesehatan dalam Tradisi Islam. Di bidang ini umat Islam sejak dahulu sudah memilikinya.

HIDAYATUNA.COM – Merebaknya wabah Covid-19 mempengaruhi berbagai lini kehidupan termasuk peraktek ibadah keagamaan. Himbauan dan fatwa ulama dunia tentang larangan berjamaah dan shalat jumat salah satunya. Alasan kesehatan dan melindungi jiwa manusia dijadikan dasar untuk mengeluarkan fatwa tersebut. Dalam konteks ini bagaimana sebenarnya khazanah Islam memandang masalah kesehatan dan pengobatan.

Perhatian Islam terhadap masalh kesehatan sangatlah jelas dan tidak terbantahkan lagi. Bagaimana tidak dalam salah satu qoul masyhur disebutkan bahwa “kebersihan sebagian dari iman” yang senada dengan hadis الطُّهُورُ شَطْرُ الإِيْمَانِ yang mecakup makna lebih luas “kesucian itu sebagian dari iman”. Kesuacian dalam hal ini dapat meliputi suci dari dosa, perbuatan tercela, kekufuran dan kemaksiatan bahkan sudah barang tentu mencakup kebersihan.

Kebersihan merupakan sebuah hal yang mendasar dalam upaya menjaga kesehatan secara fisik. Rujukan utama Islam dalam melihat berbagai persoalan adalah Alquran dan hadis, tentu jika ingin menelisik bagaimana perhatian Islam dalam bidang kesehatan dan pengobatan juga menggunakan dua rujukan tersebut.

Kesehatan masa Nabi

Perihal kesehatan dan pengobatan dalam Islam ada sebuah kecenderungan untuk merujuk thibb al-nabawi. Hal tersebut tidaklah salah karena memang jika mengkaji kesehatan dan pengobatan dalam Islam jelas harus merujuk pada perkataan, perbuatan dan pengakuan Nabi Muhammad.  Bagaimana Nabi menyikapi merebaknya wabah penyakit al-judzam (leprosy = lepra), mulai dari aspek pencegahan sampai dengan cara mengobati.

Baca Juga: Pertumbuhan Muslim di Kepulauan Cayman Berkembang Pesat

Penyikapan terhadap pendemi lepra dapat menjadi contoh umat dalam menghadapi wabah penyakit. Perintah untuk tidak dekat-dekat dengan orang yang sakit lepra adalah bentuk sosial distance dan menjaga jarah. Pun juga ketika memerintahkan untuk tidak memasuku suatu wilayah yang sedang terkena wabah dan larangan keluar bagi mereka yang ada diwilayah pusat wabah. Ini menunjukkan sangat majunya peradaban Islam ketika itu khususnya dalam kesehatan dan menangani wabah.

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا

Artinya: “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari).

Hadis-hadis lain yang membahas dan menyinggung kesehatan juga masih banyak, bahkan dalam Shahih Bukhari dikelompokkan tersendiri dalam Kitab al-Thibb. Kitab tersebut merefleksikan mengenai cakupan kesehatan dan pengobatan dalam Islam. Dalam menafsiri Kitab al-Thibb, Ibn Hajar al-Asqlani membagi cakupan kesehatan dalam dua jenis pengobatan yaitu pengobatan jasmani (thibb jasad) dan pengobatan rohani atau jiwa (thibb qalb).

Sementara itu, Ibn Ahmad al-Ayni yang juga menafsir Kitab al-Thibb mengemukakan pendapat bahwa pengobatan dan kesehatan dalam dua bagian yaitu teoritis dan praksis. Imam Bukhari  menyadari bahwa tugas utama kedokteran (pengobatan) terbagi dalam tiga bagian yaitu promosi kesehatan, pencegahan penyakit dan pemulihan kesehatan.

Promosi kesehatan adalah bagaimana upaya membentuk gaya hidup bagi umat agar tetap suatu. Makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang serta mengunyah dalam jumlah bilangan tertentu merupakan gaya hidup sehat yang diajarkan Nabi.

Bersiwak juga menjadi salah satu kebiasaan hidup yang baik untuk menjaga kesehatan  gigi dan mulut. Sebagaimana hadis Nabi yang diriwayatkan Imam Bukhari da Imam muslim berikut : “Seandainya aku tidak ingin terlalu membebani pengikutku, aku akan memerintahkan mereka menggunakan siwak setiap sebelum melakukan ibadah.”

Upaya pencegahan merupakan segala tindakan yang dilakukan agar tidak terkena atau tertular penyakit. Sebagaimana penjelasan diawal bahwa Nabi pernah berpesan untuk tidak mendekati wilayah yang sedang terkena wabah penyakit.

Sedangkan upaya pengobatan dalam tradisi Islam zaman Nabi meliputi tiga aspek yaitu meminum madu (atau ramuan herbal), bekam dan kauterisasi (menggunakan besi dipanaskan termasuk juga bedah). Nabi lebih menganjurkan upaya penyembuhan dengan madu dan bekam, kauterisasi merupakan opsi terakhir. Tiga opsi penyembuhan ini sebenarnya merupakan hal mendasar dalam bidang pengobatan.

Semua hal terutama terkait gagasan dan prinsip kesehatan serta pengobatan yang diajarkan Islam oleh Nabi masih berlaku hingga sekarang. Sehat dan sakit merupakan ketentuan Allah, juga ikhtiar menyembuhkan penyakit adalah wajib. Nabi telah meninggalkan pengetahuan berharga dalam bidang kesehatan dan pengobatan bagi kita semua. Juga dalam upaya melakukan pencegahan dan menanggulangi wabah penyakit. Wallahu a’lam.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply