KH Sholeh Darat, Ulama Berjuluk ‘Imam Ghazali Kecil’

 KH Sholeh Darat, Ulama Berjuluk ‘Imam Ghazali Kecil’

HIDAYATUNA.COM – Syaikh Muhammad Sholeh bin Umar as Samarani atau yang sering dikenal dengan nama KH Sholeh Darat ini lahir pada tahun 1820 di Desa Kedung Cumpleng, Jepara. KH Sholeh Darat merupakan guru dari sederet tokoh terkenal di masa perjuangan, diantaranya, pendiri Nahdatul Ulama, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, Pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, dan Raden Ajeng Kartini.

Ayahnya Kyai Umar, merupakan tokoh ulama terpandang yang disegani khususnya oleh masyarakat utara Jawa. Selain itu, beliau adalah orang kepercayaan Pangeran Diponegoro yang menjadi pejuang pada Perang Jawa (1852-1830).

Nama ‘Darat’ diambil dari nama wilayah dimana KH Sholeh Darat tinggal. Darat yaitu suatu kawasan dekat pantai utara kota semarang tempat mendaratnya orang-orang yang datang dari luar Jawa.

Pendidikan

Sejak kecil, KH Sholeh Darat telah mendapatkan pendidikan langsung dari sang ayah, Kyai Umar. Saat usianya beranjak remaja, KH Sholeh Darat dikirim oleh ayahnya untuk menimba ilmu kepada para guru, diantaranya : Kyai Hasan Besari, Kyai Syada, Kyai Darda, Kyai Murthada dan Kyai Jamsari. Kyai Sholeh Darat juga menimba ilmu, khusunya ilmu fikih (Fath al Qarib, Fath al Muin, Minhaj al Qawim, Syarh al-Khatib, Fath al-Wahhab, dan lainnya) kepada Kyai Muhammad Syahid beliau juga mengaji Tafsir Jalalain kepada Kyai Raden Haji Muhammad Salih Ibn Asnami Kudus.

Selain itu, beliau juga mempelajari ilmu alat (Nahwu dan Sharaf) kepada Kyai Ishak Damaran Semarang, belajar ilmu Falak kepada Kyai Abu Abdillah Muhammad bin Hadi Baquni, seorang mufti di Semarang. Sedangkan untuk ilmu-ilmu yang berkaitan dengan Tasawuf dan Tafsir Al-Qur’an ia belajar kepada Kyai Ahmad Alim Bulus, Gebang, Purworejo. Oleh gurunya ini, ia kemudian diminta untuk ikut mengasuh sebuah pesantrren di Dukuh Salatiga, Desa Maron, Kecamatan Loana, Purworejo.

Dalam riwayat pendidikannya, KH Sholeh Darat sempat mengaji kitab Al-Masail as Sittin kepada Sayyid Ulamail Hijaz Syaikh Abdul Ghani Bima. Syaikh Abdul Gani Bima merupakan guru dari beberapa murid-muridnya antara lain, Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari, Syaikh Muhammad Ali bin Hussin. Syaikh Abdul Gani Bima mendapatkan gelar ‘Sayyid Ulamail Hijaz’  dari Negeri Timur, dan penyambung mata rantai jaringan Ulama Nusantara abad 19 dengan Timur Tengah.

Berguru di Makkah

Setelah belajar di beberapa daerah di Jawa, KH Sholeh Darat diajak ayahnya untuk memenuhi panggilan menunaikan ibadah haji. Selepas menunaikan ibadah haji, Kyai Umar wafat di Makkah dan dimakamkan di sana juga. Kemudian KH Sholeh Darat menetap selama beberapa tahun dan berguru kepada beberapa ulama Haramain. Pada masa itu, di Haramain sudah ada komunitas ulama Jawi. Yakni komunitas para ulama dan santri yang berasal dari Asia tenggara.

Selama berada di Makkah, KH Sholeh Darat berguru kepada beberapa ulama yang masyhur kala itu. Mula-mula, KH Sholeh Darat belajar ilmu akidah, khususnya kitab Umm al-Barabin kepada Syaikh Muhammad al-maqri al Mashri al Makki. Selanjutnya beliau berguru kepada Syaikh Muhammad bin Sulaiman Hasballah yang merupakan pengajar di Masjidil Haram dan Nabawi. Kepadanya, KH Sholeh Darat belajar Fikih dengan menggunakan kitab Al-Wahhab dan Syarh al-Khatib, serta Nahwu dengan menggunakan kitab Alfiyah ibn Malik.

Di samping itu beliau juga belajar kitab Ihya Ulumuddin kepada Sayyid Ahmad bin Zainal Dahlan dan Sayyid Muhammad Shalih al Zawawi al Makki, belajar kitab al Hikam kepada Syaikh Ahmad al-Nahrawi al-Mishri al Makki, belajar kitab Syarah at-Tharir kepada Syaikh Yusuf as-Sanbalawi al-Mishri. KH Sholeh Darat juga belajar tafsir Al-Qur’an kepada Syaikh Jamal, seorang mufti Mazhab Hanafi di Makkah.

Pemikiran

Dalam banyak literatur, KH Sholeh Darat kerap dipanggil ‘al-Ghazali kecil’. Julukan ini disematkan kepadanya karena pemikiran terkait dengan konsep keterunggulan antara ‘tarekat’ dan ‘Syariah’.

Dalam banyak karya dan ajarannya, konsepsi Imam al-Ghazali selalu menjadi rujukan utama. KH Sholeh Darat yang menyadari bahwa perselisihan antara para ahli syariah dan ahli tarekat dimasanya membuat gesekan yang seharusnya tidak terjadi. KH Sholeh Darat berusaha kuat mencegah orang-orang dizamannya  yang secara berlebihan mencerca para penganut tarekat begitu pun sebaliknya. Keduanya merupakan dua ajaran yang seharusnya saling berjalin karena memang keduanya bersambung dan bersumber dari Rasulullah SAW.

Selain itu, upaya penyadaran yang dilakukan oleh KH Sholeh Darat ini merupakan sikap moderatnya agar masyarakat awam dapat terlindungi dari penyimpangan ajaran dari sebagian komunitas Jawa yang cenderung mengabaikan ajaran syariah dan memfokuskan diri terhadap tarekat semata.

Bagi KH Sholeh Darat, kondisi ini tentu akan menjadi permasalahan yang berat jika orang-orang awam tidak diberi penjelasan secara benar. KH Sholeh Darat bahkan sempat melarang masyarakat awam membaca atau mempelajari suluk-suluk yang disusun oleh ahli tarekat mistik Jawa, terutama yang mengajarkan hal-hal yang menyimpang dari ajaran Rasulullah.

Upaya yang beliau lakukan tidak sebatas pada pelarangan saja, namun beliau memperkenalkan kitab-kitab tauhid dan fikih yang ia terjemahkan dalam bahasa Jawa yang menggunakan aksara Arab (pegon). Hal ini dapat dilihat dari salah satu karyanya, buku Tarjamah al-Abid ala Jauhar at-Tauhid yang merupakan terjemah dari kitab Jauhar at-Tauhid karya Ibrahim Laqani. Inilah wujud perhatian beliau kepada masyarakat Awam. Jika masyarakat awam keliru dalam memahami kitab-kitab, terutama yang berbahsa Arab, maka mereka bisa tersesat jauh dimana mereka yakin menuju kebenaran.

Karya Tulis

Seperti diketahui, banyak karya tulis dari KH Sholeh Darat yang merupakan terjemahan dari kitab berbahasa Arab ke dalam bahasa Melayu Pegon, diantaranya : Maj’muat Syariat al-Kafiyat li al Awam, Munjiyat Metik Saking Ihya’ Ulum ad-Din al-Ghazali, Al-Hikam karya Imam Ahmad bin ‘Athaillah, Lathaif ath-Thaharah, Manasik al-Hajj, Kitab Pasholatan dan masih banyak lainnya. Karya beliau berisi berbagai macam hal, yakni Fikih, Hakikat, cara ibadah haji serta Hadis.

Pertemuan dengan RA Kartini

Selain alim dalam bidang tauhid dan fikih, KH Sholeh Darat juga dikenal sebagai ahli tafsir. KH Sholeh Darat kerap memberikan pengajian tafsir Al-Qur’an di beberapa pendopo kabupaten di Sepanjang pesisir utara Jawa.

Suatu ketika, KH Sholeh Darat diundang untuk memberikan pengajian tentang tafsir Surah Al-Fatihah di rumah Bupati Demak, Pangeran Ario Hadiningrat, yang tak lain merupakan paman dari RA Kartini. Pada saat yang bersamaan, RA Kartini sedang mengunjungi rumah pamannya tersebut. RA Kartini ikut mendengarkan pengajian bersama para Raden Ayu yang lain dibalik hijab (tirai). RA Kartini kemudian menjadi tertarik dengan materi tafsir yang diberikan oleh KH Sholeh Darat.

Seusai pengajian, RA Kartini meminta pamannya agar bersedia menemaninya untuk menemui KH Sholeh Darat. RA kartini kemudian berterima kasih kepada KH Sholeh Darat karena ia merasa tercerahkan. Surat Al-Fatihah yang dijabarkan oleh KH Sholeh Darat dalam bahasa Jawa menjadi sangat mudah dipahami oleh RA Kartini.

Pada kesempatan lain, RA kartini meminta K.H Sholeh Darat agar menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa-Pegon seperti yang ia lakukan untuk surat al-Fatihah. Kitab tafsir dan terjemahan Al-Qur’an ini kemudian diberi nama kitab Faidh ar-Rahman, buku Tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab. Kitab ini pula yang kemudian menjadi dihadiahkannya kepada RA Kartini saat menikah dengan RM Joyodiningrat, seorang Bupati Rembang.

Dalam banyak suratnya kepada Abendanon, RA Kartini banyak mengulang kata “Dari Gelap menuju cahaya”, dan oleh Armijn Pane ungkapan tersebut kemudian diterjemahkan menjadi “Habis gelap terbitlah terang” yang menjadi judul untuk buku kumpulan surat-suratnya.

KH Sholeh Darat wafat di semarang pada 28 ramadhan 1321 H/18 Desember 1903 M. Beliau dimakamkan di sebuah masjid yang diberi nama dengan namanya. Meski masjid itu tidak terlalu terawat, namun masih banyak peziarah yang datang untuk beliau. Seluruh kehidupannya ia dedikasikan untuk berdakwah dan membimbing umat pada jalan yang lurus. Upaya yang beliau lakukan dalam memperkenalkan ajaran Islam dengan cara menerjemahkannya ke dalam aksara pegon merupakan contoh langkah kreatif seorang ulama ditengah-tengah ancaman dan larangan penjajah Belanda.  

Redaksi

Terkait

Leave a Reply