Keutamaan Istighfar Dalam Qs. Nuh Ayat 10-12

 Keutamaan Istighfar Dalam Qs. Nuh Ayat 10-12

Oleh: Risky Aviv Nugroho

HIDAYATUNA.COM – Setiap orang pasti pernah berbuat salah. Baik itu disengaja ataupun tidak. Dalam ajaran Islam, seorang yang punya salah diajarkan untuk meminta maaf. Jika orang tersebut berbuat salah dengan sesama manusia, maka ia harus meminta maaf kepada orang yang disalahinya. Begitu juga ketika orang berbuat salah kepada Tuhannya, maka ia harus memohon ampun kepada-Nya. Allah Swt. Adalah Tuhan Yang Maha Pengampun. Oleh karenanya, setiap orang yang berbuat dosa atau kesalahan kepada-Nya, maka Allah Swt. akan memaafkannya apabila bersungguh-sungguh dalam meminta ampunan. Hal tersebut sesuai dengan QS. Nuh ayat 10.

فَقُلْتُ ٱسْتَغْفِرُوا۟ رَبَّكُمْ إِنَّهُۥ كَانَ غَفَّارًا

Artinya : “Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun

Dalam QS. Nuh ayat 10 ini Allah Swt. mendeklarasikan diri-Nya sebagai Maha Pengampun. Oleh karena itu, melalui Nabi Muhammad Saw. Allah menyeru kepada semua orang untuk memohon ampun kepada-Nya. Tentu hal tersebut dengan catatan harus bersungguh-sungguh dalam memohon ampunan. Seseorang harus bertekad untuk benar-benar bertaubat dari segala kesalahan yang dilakukan dan bertekad tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi. Dari penjelasan ini, Istighfar memiliki makna ampunan, yaitu memohon ampun kepada Allah Swt atas segala kesalahan dan kekhilafan.

Istighfar merupakan satu kalimat dengan banyak solusi. Kalimat istighfar mengandung banyak keutamaan selain permohonan ampun kepada Allah Swt. Syaikh Abdul Wahab As-Sya’rani dalam kitab Al-Minahus Saniyyah mengutip hadits Rasulullah Saw yang menyebut kelapangan rezeki sebagai salah satu keutamaan istighfar. Adapun hadisnya sebagai berikut :

Rasulullah Saw. Bersabda, ‘siapa saja mengekalkan bacaan istighfar, niscaya Allah jadikan baginya sebuah jalan keluar di tengah kesempitan dan sebuah kelonggaran di tengah kesumpekan, dan Allah kucurkan rezeki kepadanya dari jalan yang ia tidak perhitungkan.’

Kemudian, dalam QS. Nuh ayat 10-12 juga dijelaskan tentang keutamaan istighfar. Allah SWT. berfirman :

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا . يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا . وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

Artinya : Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10 – 12)

Dari makna QS. An-Nuh diatas, dapat diambil enam keutamaan dalam beristighfar. Pertama, Istighfar sebagai permohonan ampun kepada Allah Swt. kedua, menyuburkan tanah sehingga mendatangkan rezeki kepada manusia. Ketiga, melapangkan harta. Seseorang yang mau memperbanyak istighfar, maka Allah akan lapangkan hartanya. Keempat, mendatangkan keturunan. Bagi seorang yang sulit mendapatkan keturunan, hendaknya ia memperbanyak istighfar. Kelima, diberikan keluasan rezeki dengan memberikan beberapa kebun yang subur dan Keenam akan diberikan kemudahan dan keluasan rezeki melalui aliran-aliran air sungai sehingga lahan dan kebun yang dimiliki seseorang tidak kekeringan.

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Hasan al-Basri, suatu ketika ada seseorang yang datang kepadanya mengadu atas kefakiran yang dialami dengan kondisi ekonomi yang terpuruk. Ada lagi orang lain yang mengadu untuk meminta solusi atas masalah yang dialami yaitu telah lama menginginkan buah hati, namun belum juga dikaruniai. Al-Hasan juga didatangi oleh seorang petani yang tak juga menuai hasil dari apa yang ditanaminya. Justru malah yang terjadi adalah kerusakan pada tanamannya akibat kekeringan dan tanah yang tandus. Semua pertanyaan itu dijawab oleh al-Hasan hanya dengan satu kalimat yaitu :

اِسْتَغْفِرِ اللهَ

“Bacalah istighfar, mintalah ampunan kepada Allah.”

Begitu mengherankan, sangat banyak permasalahan yang diadukan kepadanya, namun ia hanya menjawabnya dengan satu kalimat itu. Al-Hasan meminta kepada semua orang yang meminta bantuan kepadanya itu untuk mengucap kalimat istighfar, memohon ampun kepada Allah Swt. Kemudian ada orang yang bertanya kepada Hasan, yaitu Rabi’ bin Shahib  bertanya, “ Wahai al-Hasan, banyak orang yang mendatangimu dengan mengadu berbagai permasalahan dan meminta pertolongan yang bermacam-macam kepadamu. Tapi mengapa hanya istighfar yang kau jadikan sebagai solusi jalan keluar?” al-Hasan pun terdiam kemudian membacakan beberapa ayat dari QS. Nuh diatas. Beberapa ayat tersebut akhirnya menjawab semua yang ditanyakan oleh Rabi’ bin Shahib sekaligus sebagai jawaban dari banyaknya problematika yang dialami oleh semua orang yang mengadukan masalahnya kepada al-Hasan.

Dari penjejelasan diatas dapat kita ambil hikmah dan pelajaran bahwa segala hal permasalahan yang ada di dunia ini, semuanya harus kita kembalikan pada Allah Swt. kita pasrahkan semuanya pada Allah Swt. dengan memperbanyak meminta ampunan atas setiap kesalahan sekecil apapun itu pada Allah Swt. Bisa jadi, setiap kesulitan yang kita alami adalah dari sedikit atau banyak kesalahan yang pernah dilakukan. Sehingga, hal tersebut menghambat kita untuk mendapatkan kemudahan dari Allah Swt untuk menyelesaikan segala masalah yang kita hadapi. Oleh karena itu, memperbanyak istighfar, memperbanyak memohon ampunan kepada Allah Swt. bisa menajdi solusi dari setiap masalah yang ada. Sebagaimana yang sudah dijelaskan dalam QS. Nuh ayat 10-11 diatas.


Pengajar lulusan S2 PAI FITK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2019

Redaksi

Terkait

Leave a Reply