Ketupat sebagai Lambang Kebersihan Hati karena Cahaya Ilahi

 Ketupat sebagai Lambang Kebersihan Hati karena Cahaya Ilahi

Ketupat Lambang Kebersihan Hati karena Cahaya Ilahi (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Saat Hari Raya Idul Fitri dan Lebaran Ketupat tiba, salah satu menu wajib yang dihidangkan adalah kupat.

Kupat atau ketupat ini merupakan makanan tradisional yang terbuat dari beras yang dimasukkan ke bungkus yang dibuat dari janur (daun kelapa) yang masih muda yang telah dibentuk menjadi belah ketupat.’ Kemudian beras tersebut direbus hingga masak. Jadilah ketupat, atau dalam bahasa lokal disebut Kupat.

Pada saat hari besar umat Islam inilah orang akan saling bermaaf-maafan. Saling mengakui kesalahan masing-masing dan minta halal atas perbuatan kita dari semua orang, tradisi ini disebut halal bil halal.

Biasanya sebelum itu orang akan membagi-bagikan kupat yang disertai masakan spesial hari fitri, seperti opor ayam, sambel goreng atau yang lainnya, yang biasa disebut punjungan.

Kupat berasal dari keratabasa ‘ngaku lepat’, atau terjemahannya ‘mengaku bersalah’. Sebab, anak Adam adalah tempat salah dan khilaf.

Sudah sepatutnya saling minta maaf dan saling memaafkan sehingga benar-benar kembali ke fitrah kita sebagai manusia yang berakhlak mulia dan dibersihkan dari segala dosa.

Filosofi Ketupat dalam Khazanah Islam

Kupat menggambarkan filosofi yang luar biasa. Kupat dibungkus oleh janur, merupakan keratabasa dari ‘sejatining nur’ yang merupakan nama lain dari Nur Ilahi/ Cahaya Tuhan.

Bentuk dari bungkusnya adalah belah ketupat, yang merupakan simbol dari bentuk hati manusia. Belah ketupat dalam khazanah Jawa Kuno merupakan simbol ketidaksempurnaan. Simbol ini dipakai sebagai perlambang pengakuan bahwa manusia tidak sempurna.

Dalam khazanah Islam, disebutkan bahwa Tuhan akan mengampuni sebesar apa pun dosa hamba-Nya jika mau bertaubat dan minta maaf padaNya. Namun, Tuhan tidak akan mengampuni dan memaafkan dosa sesama anak Adam, jika belum meminta maaf dan dimaafkan oleh orang yang disalahinya sekecil apa pun dosa itu.

Bila kita telah meminta mengakui kesalahan dan meminta maaf, maka diibaratkan kupat (hati) yang dibungkus oleh janur (cahaya Illahi) dan ketika dibelah maka isinya putih. Seputih hati kita yang telah bersih dari dosa sesama anak turun Adam karena mau saling memaafkan.

Hebatnya tradisi ini dibudayakan oleh para ulama dalam kehidupan nyata sehingga pada akhirnya tidak hanya dilakukan oleh Umat Islam saja. Akan tetapi siapa pun boleh berpartisipasi tanpa merasa dikotakkan oleh agama tertentu, tanpa ada paksaan dari siapa pun. Semua larut dalam kegembiraan dan permaafan.

Jadilah tradisi mengirim kupat dan punjungan sebagai budaya bangsa Indonesia. Tak peduli suku bangsa dan apa pun agamanya.

Shuniyya Ruhama

Pengajar Ponpes Tahfidzul Quran Al Istiqomah Weleri-Kendal

Terkait

Leave a Reply