Ketua HAM Islam London Ajak Muslim Lawan Tren Kebencian

 Ketua HAM Islam London Ajak Muslim Lawan Tren Kebencian

Toleransi ‘kebebasan berbicara’ diuji setelah kampanye pembakaran Alquran di Swedia (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, London – Pembakaran Alquran baru-baru ini di Swedia merupakan tren kebencian anti-Muslim di Barat yang dapat kembali dilacak. Ketua Komisi Hak Asasi Manusia Islam yang berbasis di London, Masoud Shajareh menyampaikan hal itu.

Rasmus Paludan, pemimpin Denmark dari partai sayap kanan Stram Kurs (Garis Keras), membakar salinan Alquran di Linkoping selatan, Swedia.

Tindakan penodaan tersebut telah banyak dikecam oleh negara-negara dan kelompok-kelompok Muslim. Mereka mendesak pemerintah Swedia untuk mencegah terjadinya peristiwa serupa di masa depan.

Dalam sebuah wawancara eksklusif, Masoud Shajareh mengatakan bahwa penghinaan terhadap Islam yang sedang berlangsung di Swedia bukanlah masalah baru. Untuk menemukan akarnya, orang harus melihat tren yang merekayasa lingkungan kebencian di Eropa Barat.

Rekayasa ini datang dari kebutuhan Barat untuk memiliki musuh dan menyalahkan Muslim atas penyebab masalah. Oleh karena itulah, mereka menciptakan lingkungan kebencian terhadap Muslim di Barat.

Kebebasan Berpendapat di Negara Barat

Ditanya soal kebebasan berbicara menjadi alasan untuk menghina kesucian agama lain, Shajareh mengatakan bahwa hal itu tidak ada gunanya.

“Jika tindakan yang sama dilakukan terhadap orang Yahudi dan kesucian mereka dinodai. Kita akan melihat bahwa negara-negara ini tidak dapat menerimanya dan media akan mencerminkan hal itu secara khusus.

“Mereka berusaha mengganti Islam dengan versi Eropa dan entah bagaimana mengkristenkan Islam,” tambah aktivis itu.

Mereka juga bertujuan untuk menghancurkan kepercayaan diri umat Islam, lanjutnya. Dengan harapan umat Islam akan melawan tren ini dengan percaya pada kekuatan mereka sendiri.

Mengenai tanggung jawab umat Islam dalam menghadapi tantangan ini, Shajareh mengatakan tidak akan membiarkan diskriminasi dan kebencian terhadap umat Islam menjadi masalah umum.

“Melihat sejarah Perang Dunia II, perang Bosnia, atau Myanmar menunjukkan bahwa kebencian selalu mengarah pada kekerasan dan perang. Oleh karena itu, kita harus melawan tren ini, jika tidak, kita akan memiliki tugas yang berat di masa depan.”

Saat ini, tren membangun kebencian ini mencapai klimaksnya dan sayangnya, organisasi-organisasi Islam telah gagal untuk mengambil tindakan yang efektif, kata Shajareh. Seraya menambahkan bahwa organisasi-organisasi internasional juga harus menindaklanjuti masalah ini karena efek negatifnya tidak akan terbatas pada umat Islam.

 

 

Sumber : IQNA

Redaksi

Terkait

Leave a Reply