Kenabian Lelaki Quraisy, Muhammad bin Abdillah

 Kenabian Lelaki Quraisy, Muhammad bin Abdillah

Kenabian Lelaki Quraisy, Muhammad bin Abdillah (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Pondasi iman paling dasar adalah kenabian Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Kalau ini dipercaya, maka seluruh bangunan agama bisa tegak.

Bila ini diragukan, maka tidak ada Alquran, tidak ada hadis dan tidak ada semua turunannya sehingga otomatis tidak ada agama. Lalu apa bukti bahwa seorang lelaki dari bangsa Quraisy bernama Muhammad bin Abdillah adalah benar seorang nabi bukan orang yang hanya mengaku-ngaku?

Berikut beberapa bukti Muhammad bin Abdillah adalah benar seorang nabi:

1. Kualitas pribadi beliau tidak diragukan

Beliau memenuhi semua syarat primer untuk menjadi sosok Nabi. Muhammad bin Abdillah memiliki perangai jujur dalam perkataan dan tindakan, berani menyampaikan kebenaran apa pun risikonya dan cerdas.

Di samping itu, beliau juga memiliki sifat ideal sebagai seorang manusia.

2. Membawa banyak bukti mukjizat

Ada yang mencatat setidaknya 8000 kali kejadian luar biasa yang membuktikan bahwa beliau benar-benar seorang Nabi, bukan orang biasa. Ini membuat orang-orang di masanya takjub dan takluk.

Mukjizatnya ada hingga kini. Nyaris semua mukjizat para nabi hanya tinggal sejarah atau kisah masa lalu.

Oleh karena itu, banyak pengingkar yang tidak percaya dan dengan mudah menyebutnya sebagai mitos atau omong kosong. Tapi mukjizat Nabi Muhammad tetap ada dan dapat diteliti kebenarannya hingga kini, yaitu Alquran.

Sisi kemukjizatan Alquran sangat banyak sehingga yang mengetahuinya tidak mungkin membantah bahwa itu mukjizat.

3. Nabi Muhammad tidak punya guru dan juga buta huruf

Bagi orang lain mungkin ini kekurangan, tapi bagi sosok Nabi adalah hal penting, terutama bila Nabi tersebut memiliki mukjizat berupa kitab suci. Banyak sekali informasi tentang dunia luar di dalam kitab suci, seperti Alquran.

Keberadaan guru dan wawasan literasi akan membuat orang curiga jangan-jangan informasi luar biasa yang diceritakannya berasal dari guru atau bahan bacaannya. Tapi dalam kasus Nabi Muhammad, celah kecurigaan ini tidak ada sama sekali sehingga hanya menyisakan satu kemungkinan bahwa itu berasal dari wahyu.

Abdul Wahab Ahmad

Ketua Prodi Hukum Pidana Islam UIN KHAS Penulis Buku dan Peneliti di Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur dan Pengurus Wilayah LBM Jawa Timur.

Terkait

Leave a Reply