Kebangkitan Kembali Menurut Al-Quran

 Kebangkitan Kembali Menurut Al-Quran

HIDAYATUNA.COM – Kebangkitan manusia dari kuburnya dan hidup kembali seperti sedia kala dan dalam kondisi dan alam yang sama sekali berbeda dari sebelumnya merupakan sesuatu yang fenomenal, dan tidak pernah terjadi sebelum-sebelumnya.

Kebangkitan ini menjadi fenomenal dan keluar dari kebiasaan akal normal dikarenakan manusia yang awalnya terdiri dari daging dan tulang belulang, dan mengalami proses kehancuran setelah tertimbun tanah dalam proses alamiah didalam kubur. Terkecuali jasad itu memang sengaja diawetkan menjadi mumi, dengan senyawa-senyawa kimiawi sehingga jasad bisa tetap awet, sekalipun tetap tidak bisa lepas dari pelapukan.

Lantas bagaimana proses kebangkitan kembali?  Mungkinkah jasad yang sudah hancur lebur dapat kembali lagi layaknya sediakala. Secara akal pertanyaan-pertanyaan ini sulit di jelaskan, dan sulit diterima, karena tumpuan berpikir manusia mengunakan akal yang normalnya berangkat dari hal-hal yang empiris, sedangkan kebangkitan Kembali ini tidak dapat diujicobakan dalam laboratorium kimia dan dengan teknologi apapun.

Kehidupan makhluk hidup memiliki dua dimensi yaitu dimensi jasad dan dimensi ruh, jika membangkitkan manusia atau makhluk hidup lainnya hanya sekedar jasad, mungkin teknologi saat ini bisa membuatnya, namun yang tidak pernah bisa dibuat adalah memasukan ruh, karena ruh adalah ciptaan Allah dan hanya Allah yang mengetahuinya dan berwenang atasnya.

Kebangkitan Kembali manusia dari kamatian kiranya tidak bisa dijelaskan oleh disiplin ilmu apapun, sekalipun dengan filsafat yang katanya berpikir mendasar, sengan sistematika yang terstruktur, dll. Kebangkitan Kembali hanya bisa didapat dari keimanan, disiplin keagamaan. Karena ini masalah keyakinan yang hanya perlu di Imani, manusia tidak bisa merekonstruksikan secara utuh, hanya bisa menebak-nebak apa yang akan terjadi dihari nanti. Allah Berfirman:

 وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا هَلْ نَدُلُّكُمْ عَلٰى رَجُلٍ يُّنَبِّئُكُمْ اِذَا مُزِّقْتُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍۙ اِنَّكُمْ لَفِيْ خَلْقٍ جَدِيْدٍۚ , اَفْتَرٰى عَلَى اللّٰهِ كَذِبًا اَمْ بِهٖ جِنَّةٌ ۗبَلِ الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِالْاٰخِرَةِ فِى الْعَذَابِ وَالضَّلٰلِ الْبَعِيْدِ.

Dan orang-orang kafir berkata (kepada teman-temannya), “Maukah kami tunjukkan kepadamu seorang laki-laki yang memberitakan kepadamu bahwa apabila badanmu telah hancur sehancur-hancurnya, kamu pasti (akan dibangkitkan kembali) dalam ciptaan yang baru. Apakah dia mengada-adakan kebohongan terhadap Allah atau sakit gila?” (Tidak), tetapi orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat itu berada dalam siksaan dan kesesatan yang jauh. (QS. Saba’ 34: 7-8)

Dalam tafsir al-Misbah Quraish Shihab mengatakan ayat ini merekam cemoohan orang kafir terhadap berita akan adanya hari kebangkitan. Pada dasarnya orang-orang kafir ini mengingkari tentang hari kebangkitan, bahkan mengatakan orang yang membahwa berita tentag kebangkitan Kembali dikatakan sebagai pembohong dan gila. orang-orang yang mengingkari kebangkitan biasanya berangkat dari pendapat bahwa kekuatan yang menjadikan manusia hidup dan mati tidak lain hanya siklus pergantian masa.

وَقَالُوْا مَا هِيَ اِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوْتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَآ اِلَّا الدَّهْرُۚ

Dan mereka berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.” (QS. Al-Jasiyah 45: 24)

Orang-orang yang mengingkari hari kebangkitan berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita hidup dan mati. Tidak ada kehidupan lain setelah kematian dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.” Perkataan mereka itu tidak berdasar pada ilmu dan keyakinan, tetapi hanya berdasarkan dugaan dan sangkaan belaka. Padahal dialektika kebangkitan Kembali manusia dari alam kubur sejatinya sudah ada sejak Nabi-Nabi terdahulu. Sebagaimana digambarkan oleh al-Qur’an.

اَوْ كَالَّذِيْ مَرَّ عَلٰى قَرْيَةٍ وَّهِيَ خَاوِيَةٌ عَلٰى عُرُوْشِهَاۚ قَالَ اَنّٰى يُحْيٖ هٰذِهِ اللّٰهُ بَعْدَ مَوْتِهَا ۚ فَاَمَاتَهُ اللّٰهُ مِائَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَهٗ ۗ قَالَ كَمْ لَبِثْتَ ۗ قَالَ لَبِثْتُ يَوْمًا اَوْ بَعْضَ يَوْمٍۗ قَالَ بَلْ لَّبِثْتَ مِائَةَ عَامٍ فَانْظُرْ اِلٰى طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْ ۚ وَانْظُرْ اِلٰى حِمَارِكَۗ وَلِنَجْعَلَكَ اٰيَةً لِّلنَّاسِ وَانْظُرْ اِلَى الْعِظَامِ كَيْفَ نُنْشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوْهَا لَحْمًا ۗ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهٗ ۙ قَالَ اَعْلَمُ اَنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Atau seperti orang yang melewati suatu negeri yang (bangunan-bangunannya) telah roboh hingga menutupi (reruntuhan) atap-atapnya, dia berkata, “Bagaimana Allah menghidupkan kembali (negeri) ini setelah hancur?” Lalu Allah mematikannya (orang itu) selama seratus tahun, kemudian membangkitkannya (menghidupkannya) kembali. Dan (Allah) bertanya, “Berapa lama engkau tinggal (di sini)?” Dia (orang itu) menjawab, “Aku tinggal (di sini) sehari atau setengah hari.” Allah berfirman, “Tidak! Engkau telah tinggal seratus tahun. Lihatlah makanan dan minumanmu yang belum berubah, tetapi lihatlah keledaimu (yang telah menjadi tulang belulang). Dan agar Kami jadikan engkau tanda kekuasaan Kami bagi manusia. Lihatlah tulang belulang (keledai itu), bagaimana Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.” Maka ketika telah nyata baginya, dia pun berkata, “Saya mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS: al-Baqarah 2:259)

Kisah tersebut mengambarkan betapa persoalan kebangkitan manusia di Hari Akhir masih memunculkan pertanyaan, meski untuk seorang Nabi sekalipun.tentu konteksnya bukan masalah percaya atau tidaknya jika seorang Nabi masih mempertanyakan hal demikian, melainkan lebih pada kaingintahuan mengenai detail prosesnya. Nabi-nabi sudah mempercayai dalam tataran ‘Ilmul yaqin’, tetapi belum pada tataran ainul yakin, karena kasus ini menyangkut persoalan yang akan datang dan belum pernah ada kejadiaanya sama sekali, jadi tidak ada contohnya. Namun pertanyaan yang dilakukan oleh Nabi terkait hal ini kiranya dapat dimaknai sebagi bocoran informasi yang membuat semakin meneguhkan keimanan mereka, dan untuk menenagkan hatinya.

Jika Nabi saja masih penasaran terhadap hal yang kepastian dan pengetahuan utuhnya hanya Allah yang tahu, maka menjadi wajar jika persoalan kebangkitan banyak dipertanyakan oleh umat manapun, oleh karena itu, al-Qur’an menjelaskan bahwa keberadaanya merupakan suatu keniscahyaan. Dan dalam menjelaskan hal ini, al-Qur’an mengunakan dua hal. Yaitu pendektan logika berpikir yang sehat dan melalui analogi yang ada di alam semesta. Wallahu A’lam.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply