Kaum Nuh Dan Kebenaran Legenda Bahtera

 Kaum Nuh Dan Kebenaran Legenda Bahtera

Kaum Nuh tinggal di sebelah selatan Irak, yang sekarang terletak di kota Kufah. Pada awalnya umat Nabi Nuh adalah umat yang telah menjadikan patung-patung sebagai tuhan mereka. Karena kekafiran kaum ini, Allah mengutus Nabi Nuh untuk membawa ajaran-Nya kepada kaumny. Nabi Nuh adalah seorang hamba yang akalnya tidak terpengaruh oleh polusi kolektif yang menyembah selain Allah SWT seperti Nabi Ibrahim.

Nuh membuat revolusi pemikiran kepada kaumnya, ia adalah seorang yang memiliki kecerdasan dan kemuliaan. Ia merupakan manusia terbesar di zamannya, beliau bukanlah seorang raja, atau penguasa dan bukan pula yang memiliki kekayaan diantara kaumnya.  Kebesaran Nabi Nuh terletak pada kebersihan hati, kesucian nurani dan kemampuan akal untuk mengubah kehidupan disekitarnya. terdapat sebab lain berkenaan dengan kebesaran nabi Nuh. ketika ia bangun, ketika makan, dan mengenakan pakaian, ketika masuk atau keluar ia selalu bersyukur kepada Allah SWT dan memujinya.

Nabi Nuh keluar menuju kaumnya dan memulai dakwahnya “Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kalau kamu akan tertimpa adzab hari yang besar. (QS. Al-A’raf :59)

Setelah mendengan dakwah Nabi Nuh, kaumnya terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok orang-orang lemah, fakir, pekerja sederhana dan orang-orang yang menderita, dimana mereka merasa dilindungi oleh dakwah Nabi Nuh. Dan kelompok orang-orang kaya dan penguasa dimana mereka menghadapi dakwah Nabi Nuh dengan keraguan. Bahkan ketika ada kesempatan, mereka menyerang Nabi Nuh dengan tuduhan-tuduhan.

Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: “Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti Kami, dan Kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara Kami yang lekas percaya saja, dan Kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas Kami, bahkan Kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta”. (QS. Huud : 27)

Dalam tafsir al-Qurtubi mengatakan bahwa “masyarakat yang menentang dakwahnya adalah pembesar kaumnya. Merka dikatakan al-Mala’ karena seringkali berkata “Wahai Nuh engkau hanyalah seorang manusia biasa”. Padahal Nabi Nuh sellau mengatakan bahwa ia memang manusia biasa. Allah SWT mengutus rasul dari manusia ke bumi karena bumi dihuni oleh manusia, jika bumi dihuni oleh malaikat, niscaya Allah akan mengirim rasul dari malaikat.

Penjelasan yang normal, argumentatif dan meyakinkan dihadapi dengan kebekuan sikap umatnya. Mereka tetap enggan untuk mengakui kekuasaan Allah. Perdebatan antara Nabi Nuh dan kaumnya terus berlangsung. Nuh mematahkan semua argumentasi dari kaumnya yang kafir dengan logika nabi yang mulia. Hingga suatu ketika rezim penguasa mulai bosan dengan debat yang disampaikan oleh Nabi Nuh As. Dalam Al-Qur’an diceritakan :

Mereka berkata “Hai Nuh, Sesungguhnya kamu telah berbantah dengan Kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap Kami, Maka datangkanlah kepada Kami azab yang kamu ancamkan kepada Kami, jika kamu Termasuk orang-orang yang benar”. Nuh menjawab: “Hanyalah Allah yang akan mendatangkan azab itu kepadamu jika Dia menghendaki, dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri. Dan tidaklah bermanfaat kepadamu nasehatku jika aku hendak memberi nasehat kepada kamu, Sekiranya Allah hendak menyesatkan kamu, Dia adalah Tuhanmu, dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan”. (QS. Huud : 32-34)

Peperangan berlanjut, dan perdebatan antara kaum kafir dan Nabi Nuh semakin melebar, dan ketika argumen-argumen mereka terpatahkan dan mereka tidak dapat mengatakan lagi sesuatu yang pantas, mereka kemudian keluar dari batas-batas dan berani mengejek Nabi Nuh.

Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata: “Sesungguhnya Kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata”. (QS. Al-A’raf : 60)

Nuh menjawab: “Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikitpun tetapi aku adalah utusan dari Tuhan semesta alam”.”Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku memberi nasehat kepadamu. dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui” (QS. Al-A’raf : 61-62)

Nabi Nuh tetap melanjutkan dakwahnya hari demi hari, waktu demi waktu dan tahun demi tahun. Berlalulah masa yang panjang itu. Nabi Nuh berdakwah siang dan malam, sembunyi-sembunyi dan terang-terangan. Namun setiap kali diajak, mereka akan meletakkan jari ditelinga mereka dan menunjukkan kesombongan. Allah pun menceritakan dalam firman-Nya :

Nuh berkata: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka, dan melakukan tipu-daya yang Amat besar”. Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr. Dan sesudahnya mereka menyesatkan kebanyakan (manusia); dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan.

Nabi Nuh tetap menjalankan dakwahnya selama kurang lebih 950 tahun

Dan Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, Maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim. (QS. Al-Ankabut : 14)

Allah SWT kemudian berfirman dalam surat Hud :

Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan. Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan aku tentang orang-orang yang zalim itu; Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. (QS. Huud : 36-37)

Nabi Nuh pun mulai membuat perahu, dan ketika orang-orang kafir lewat didepannya saat ia serius membuat bahtera tersebut. Saat itu cuaca sangat kering, tidak ada laut atau sungai di sekitar tempat tersebut. Bagaimana perahu ini akan berlayar wahai Nuh? Apakah ia akan berlayar diatas tanah? Sungguh Nuh telah gila! Orang-orang kaifr semakin mengejek Nabi Nuh.

Pucak pertentangan kisah nabi Nuh ada pada masa ini, mereka menganggap bahwa dunia adalah milik mereka dan bahwa mereka akan selalu emndapat keamanan dan tidak akan mendapat siksaan. Namun anggapan itu tidak terbukti. Datangnya angin topan menjungkirbalikkan semuanya. Allah SWT pun berfirman :

Dan mulailah Nuh membuat bahtera. dan Setiap kali pemimpin kaumnya berjalan meliwati Nuh, mereka mengejeknya. berkatalah Nuh: “Jika kamu mengejek Kami, Maka Sesungguhnya Kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa oleh azab yang menghinakannya dan yang akan ditimpa azab yang kekal.” (QS. Huud : 38-39)

Selesailah pembuatan perahu dan hanya menunggu perintah Allah SWT. Allah pun mewahyukan kepada Nabi Nuh bahwa jika keluar air dari at-Tannur (oven) yang ada di dalam rumah nabi Nuh, maka itu merupakan perintah bagi Nabi Nuh untuk bergerak. Maka, pada suatu hari keluarlah air dari at-Tannur, dan segeralah nabi Nuh membuka perahunya dan mengajak orang-orang mukmin untuk menaikinya. Malaikat Jibril pun turun ke bumi membantu Nabi Nuh utnuk menggiring para binatang secara berpasang-pasangan menaiki perahu Nabi Nuh. 

Topan mulai datang, air hujan terus berjatuhan dan dari bumi, keluarlah air yang menutupi seluruh permukaannya. Air pun meninggi diatas kepala, dan ia melampaui ketinggian pohon, bahkan puncak gunung. Topan yang dialami oleh Nabi Nuh berlangsung selama beberapa zaman dimana kita tidak emngetahui masanya. Kemudian datanglah perintah ilahi agar langit menghentikan hujannya dan membuat bumi tenang, dan agar kayu perahu berlabuh di al-Judi, yaitu nama suatu tempat di zaman dulu.

Judi adalah bukit yang berhadapan dengan semenanjung Ibnu Umar, yang sekarang menjadi perbatasan Suria-Turki, di tepian sebelah timur sungai Tigris. Bukit Judi ini terlihat jelas dari daerah Ainu-Diwar, Suriah.

Di akhir zaman ini, seperti yang telah disampaikan oelh buku-buku sejarah, telah terjadi topan besar yang disertai banjir yang menimpa negeri maa baina bahrain (negeri yang terletak diantara dua sungai). Berbagai penggalian yang dilakukan di Ur, Uruk, Keisy dan Syurubak, menetapkan adanya kejadian banjir bandang antara zaman abied dan zaman sulalat pertama. Seorang arkeolog bernama Wolly telah menemukan lapisan lumpur setebal 2.5 meter di kota Ur. Wolly juga menemukan beberapa peninggalan tempat tingal manusia diatas lapisan-lapiran lumpur. Dari penelitian ini telah membenarkan bahwa apa yang tertulis di kitab suci Al-Qur’an adalah benar adanya. Subhanallah.  

Redaksi

Terkait

Leave a Reply