Kapan Kita Perlu Tabayyun dan Tidak?

 Kapan Kita Perlu Tabayyun dan Tidak?

30 hak seorang Muslim kepada Muslim lainnya bila dilanggar mendapat dosa (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Pertanyaan ini ringan, tapi banyak yang menjawabnya kurang tepat. Sebenarnya apa sih konteks kita wajib tabayyun dan tidak perlu tabayyun? Yuk kita bahas satu persatu.

1. Wajib Tabayyun

Seseorang diwajibkan tabayyun ketika mendengar pernyataan tidak langsung. Dalam arti, misalnya Anda mendengar bahwa si B berbicara begini dan begitu tetapi Anda tidak mendengarnya langsung namun melalui penuturan si A.

Maka, sebelum mengambil keputusan atau kesimpulan, Anda wajib bertabayyun ke si B dulu apa betul dia berkata demikian dan maksudnya seperti penuturan si A. Kasus seperti inilah yang melatarbelakangi turunnya ayat al-Hujurat: 6 yang terkenal itu.

Skema “mendengar tidak langsung” ini juga merupakan kebanyakan kasus yang disidang di pengadilan. Dengan begitu, majelis hakim selalu mengundang saksi mata atau pelaku untuk bertabayyun sebelum memutuskan.

Kasus lainnya yang juga wajib tabayyun adalah ketika berurusan dengan vonis kafir atau murtad. Ini kasus yang sangat serius sehingga meskipun misalnya Anda mendengar langsung sebuah pernyataan dari seseorang yang dapat ditafsirkan membuat dia murtad atau jatuh kafir.

Maka haram divonis murtad apabila masih ada celah bahwa tafsiran Anda keliru. Dalam kasus ini wajib bertabayyun dulu ditanyakan apa maksud pernyataan itu dan, ini seharusnya dilakukan oleh seorang Kadi (hakim) di pengadilan.

2. Tidak perlu tabayyun

Tidak perlu tabayyun ketika skemanya seperti kasus pertama di atas, namun sumber yang menyampaikan adalah sumber yang betul-betul kredibel (‘adil). Misalnya Anda mendengar keterangan resmi polisi bahwa Si A adalah pelaku kejahatan yang ditangkap berdasarkan barang bukti yang ada.

Maka anda bisa mempercayainya tanpa harus bertanya terlebih dahulu kepada si A apa betul kejadiannya seperti itu. Para ulama tafsir juga membahas hal ini dalam tafsir mereka terhadap ayat al-Hujurat: 6 di atas.

Kasus lain yang mirip dengan ini adalah ketika Anda mendengar rekaman video. Isinya jelas menyatakan suatu hal atau jelas merekam suatu kejadian tanpa ada kecurigaan adanya manipulasi.

Maka anda dapat langsung menarik kesimpulan tanpa perlu tabayyun terlebih dahulu sebab rekaman video semacam itu dianggap kredibel. Kasusnya sama dengan melihat dan mendengar secara langsung. Bahkan rekaman kadang lebih jujur daripada pernyataan manusia saat ditabayyuni.

Jadi, jangan asal nyuruh orang lain tabayyun dulu dalam segala hal. Perintah semacam itu ada konteksnya yang realistis.

Jangan juga tebang pilih soal ini; Giliran yang terkena kasus adalah musuhnya maka langsung divonis salah meski belum jelas betul. Tapi giliran yang terkena kasus adalah idolanya maka langsung diminta tabayyun meskipun sudah jelas dan nyata bukti-buktinya.

Abdul Wahab Ahmad

Ketua Prodi Hukum Pidana Islam UIN KHAS Penulis Buku dan Peneliti di Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur dan Pengurus Wilayah LBM Jawa Timur.

Terkait

Leave a Reply