Jejaring Murid Syaikhona Kholil Bangkalan dan Syathibi Gentur di Tatar Sunda

 Jejaring Murid Syaikhona Kholil Bangkalan dan Syathibi Gentur di Tatar Sunda

Jejaring Murid Syaikhona Kholil Bangkalan dan Syathibi Gentur di Tatar Sunda

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Pakar filologi Islam, Ahmad Ginanjar Sya’ban baru-baru ini melakukan penulusuran tentang jejaring murid dari salah satu ulama berpengaruh di tanah Jawa yakni Syaikhona Kholil Bangkalan dan Syathibi Gentur di Tatar Sunda.

Dalam laporannya, Ginanjar Sya’ban menemukan jejaring tersebut. Dimana pada Ahad (20/7/2020) kemarin, dirinya mengunjungi beberapa pesantren tua dan menziarahi makam para ulamanya yang terletak di beberapa titik di Sukabumi dan Cianjur.

“Mula-mula kami menziarahi makam KH. Ilyas b. Said dan KH. Jufri di Babakan Bandung, Sukabumi. KH. Ilyas b. Said adalah kakak KH. Syathibi b Said Gentur (w. 1947),” ungkap Ginanjar dalam ulasannya yang diunggah di akun Facebooknya dikutip Hidayatuna.com, Senin (27/7/2020).

Ginanjar menjelaskan, sosok KH. Syathibi Gentur adalah tokoh penting dalam sejarah jaringan pesantren dan transmisi intelektual ulama Sunda (Jawa Barat dan Banten) pada paruh pertama abad 20 M. Dalam ulasannya, ia menggambarkan kondisi makam KH. Ilyas Babakan Bandung. Dimana makamnya tampak sangat sederhana, bahkan cederung tak terawat dengan baik.

“Nisan makam hanya berupa bongkahan batu sungai tanpa epitaph,” jelasnya.

Berbeda dengan nisan makam KH. Jufri, mertua dari KH. Ilyas, yang terdapat epitaf. Di sana, tertulis keterangan jika empunya nisan wafat pada hari Senin, 25 Rajab tahun 1323 Hijri (bertepatan dengan 25 September 1905).

Dari Babakan Bandung ia kemudian menuju pesantren al-Wardayani di Warudoyong, Sukaraja (Sukabumi). Pesantren itu didirikan KH. Inayatillah, murid dari KH. Ahmad Syathibi Gentur. Pesantren Warudoyong terkenal sebagai pesantren tradisional yang konsen mengajarkan ilmu gramatika dan retorika Arab hingga hari ini.

“Kedalaman ilmu pesantren Warudoyong dapat kita simak melalui beberapa kitab “taqrirat” (semacam syarah) yang dibuat oleh para Kiyai pesantren ini atas beberapa teks acuan (matan). Saya pun sempat membeli beberapa “taqrirat” Warudoyong, seperti taqrirat atas Alfiyyah Ibn Malik, taqrirat atas Sullam Munawwaraq, taqrirat atas Uqud al-Juman dan lain-lain,” ujar Ginanjar.

Dari Warudoyong, selanjutnya ia menuju pesantren “Riyadhul Muta’allimin” di Gasol, Cugenang (Cianjur). Pesantren itu didirikan pada tahun 1918. Pengasuhnya yang paling terkenal adalah almarhum KH. Hanbali, yang masih terhitung sebagai murid dari KH. Syathibi Gentur dan KH. Tubagus Bakri Sempur (Purwakarta).

“KH. Tubagus Bakri Sempur sendiri tercatat sebagai murid dari Syaikhona Kholil Bangkalan,” ungkapnya.

Sama seperti pesantren Warudoyong, pesantren Gasol lanjut Ginanjar juga terkenal sebagai pusat pengkajian ilmu tata bahasa Arab. Kitab andalan yang rutin diajarkan sepanjang tahun di pesantren ini adalah Alfiyyah Ibn Malik.

“Kami lalu menziarahi masjid tua, pesantren dan makam KH. Opo Musthofa b. Arkan di Kandang Sapi, Maleber (Cianjur). KH. Opo Musthofa masih terhitung sebagai murid dari Syaikhona KH. Kholil Bangkalan (Madura),” ujar Ginanjar.

KH. Opo Musthofa sendiri kata dia, lahir pada 1848 dan wafat pada usia 123 tahun (hitungan Hijri, atau 120 tahun hitungan Masehi). Beliau mulai mendirikan pesantrennya di Kandang Sapi, Cianjur pada tahun 1897.

“Bangunan masjid KH. Opo masih tampak orisinil. Kuno sekali. Termasuk bedug, kentongan, bancik dan kolam wudhunya. Bangunan tersebut bermodel rumah panggung, berbahan utama kayu serta anyaman bilik bamboo,” katanya.

Dari KH. Opo, dirinya lalu melanjutkan perjalanan ke makam KH. Yasin di Sodong. Jaraknya tak terlalu jauh dari KH. Opo. KH. Yasin Sodong adalah guru dari KH. Syathibi Gentur dan KH. Iyas b. Ali Cibitung, Gununghalu (Bandung Barat).

“Sosok terakhir ini, yaitu KH. Ilyas Cibitung, selain berguru kepada KH. Yasin Sodong, juga tercatat pernah belajar kepada Syaikhona KH. Kholil Bangkalan (Madura),” jelasnya.

Dari Sodong, perjalalan dilanjutkan ke pesantren al-Alawiyyin di Pasir Terong (Cianjur). Di sana ia juga mampir ke makam pengasuhnya yang terkenal yaitu KH. Ingi Badruzzaman (w. 2015).

“KH. Ingi adalah murid dari KH. Ishaq Farid Cintawana (Tasikmalaya) dan juga murid dari Syaikh Yasin Padang di Makkah. KH. Ingi terhitung produktif melahirkan karya. Beliau banyak menulis syarah atas pelbagai macam kitab. Di antaranya beliau menulis “al-Quthuf al-Daniyah” sebagai syarah atas kompilasi fatwa Sayyid Alwi b. Abbas al-Maliki al-Makki,” ujar Ginanjar.

Kebetulan saat ia mengunjungi pesantren al-Alawiyyin, sedang berlangsung pengajian kitab “Fath al-Mu’in” yang dibacakan oleh putra KH. Ingi.

“Menurut salah satu santri yang kami temui, pengajian “Fath al-Mu’in” ini berlangsung selama dua bulan lamanya sejak pertengahan bulan Syawwal,” katanya.

Selain “Fath al-Mu’in”, kitab lainnya yang dibacakan di pesantren al-Alawiyyin Pasirterong adalah “Alfiyyah Ibn Malik” yang dibacakan selama 1.5 bulan sejak Mulud, lalu kemudian kitab “Tafsir al-Jalalain” yang dibacakan selama 22 hari sejak bulan Sya’ban.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply