Salah Satu Pemimpin BJP di India Serukan Boikot Pedagang Muslim

 Salah Satu Pemimpin BJP di India Serukan Boikot Pedagang Muslim

HIDAYATUNA.COM – Partai Bharatiya Janata, atau BJP, yang diketahui sedang berkuasa di India, telah mengeluarkan peringatan kepada salah satu pemimpinnya, setelah sebuah video muncul di tengah status lockdown nasional akibat virus corona, yang memperlihatkan ‘sang pemimpin’ meminta orang-orang untuk boikot sayuran dari pedagang Muslim.

“Ingat satu hal. Saya memberi tahu semua orang secara terbuka. Tidak perlu membeli sayuran dari ‘miyans’ (Muslim),” kata seorang legislator, Suresh Tiwari, dalam sebuah video yang menjadi viral pada hari Selasa kemarin.

Menurut data, saat ini jutaan orang di India sedang menghadapi krisis kelaparan dan kehilangan pekerjaan akibat pandemi dan status lockdown virus corona, dengan para pekerja harian, vendor-vendor, dan pemilik toko kecil menjadi yang korban paling terdampak.

Dan ketika tingkat kemarahan semakin meningkat, BJP India bertanya kepada Tiwari mengapa sebuah tindakan tak boleh dijatuhkan terhadapnya atas seruannya untuk boikot pedagang Muslim.

Sebuah laporan dari surat kabar Hindustan Times, mengutip perkataan dari Tiwari bahwa seruannya untuk boikot adalah sebagai ‘tindakan pencegahan dalam melindungi orang-orang agar tidak terinfeksi’ virus corona.

“Pada tanggal 18 April, saya sedang membagikan masker kepada orang-orang di Deoria, ketika orang-orang itu mengeluh bahwa Tabligh Jamaat telah menyebarkan infeksi (corona). Banyak dari mereka yang merasa khawatir bahwa pedagang Muslim menginfeksi sayurannya dengan air liurnya,” kata Tiwari kepada surat kabar itu.

“Sebagai seorang MLA yang bertanggung jawab, saya meminta mereka untuk tidak mengambil hukum dengan tangan mereka sendiri untuk menangani situasi itu, tetapi cukup dengan berhenti membeli sayuran dari mereka (Muslim) saja. Katakan pada saya tentang salah apa yang telah saya lakukan jika saya mengatakan hal-hal seperti itu?” tambahnya.

Seperti yang diketahui, menyusul adanya laporan penyebaran wabah COVID-19 pada pertemuan keagamaan yang diadakan oleh jamaah Tabligh Akbar di New Delhi pada bulan lalu, seluruh umat Muslim di India telah menjadi sasaran di berbagai daerah di negara itu.

Kekeliruan dari komunal India sendiri masih menitikberatkan pada kerusuhan mematikan yang terjadi di New Delhi pada bulan Februari lalu atas undang-undang kewarganegaraan baru yang isinya mengecualikan umat Muslim, dan dilebarkan lagi dengan tuduhan terhadap jamaah Tabligh Akbar.

Beberapa politisi dan jurnalis dari BJP, terlihat di TV menggambarkan insiden Tabligh Akbar itu sebagai sebuah aksi ‘terorisme corona’. Mereka juga menuduh bahwa komunitas Muslim pada umumnya sedang merencanakan ‘konspirasi’ untuk menyebarkan virus corona lebih luas lagi.

Seruan dari Tiwari untuk memboikot pedagang Muslim atau secara umum komunitas Muslim itu sendiri bukanlah sebuah insiden yang ditutup-tutupi.

Seperti contoh, kelompok sayap kanan di India terlihat membagikan bendera berwarna kuning jingga kepada para pedagang sayur di banyak tempat untuk memungkinkan para konsumen mengidentifikasi mereka sebagai penjual beragama Hindu.

Bahkan di wilayah tertentu di New Delhi dan negara bagian lainnya, termasuk Karnataka, Telangana, dan Madhya Pradesh, sampai memasang poster untuk menghentikan masuknya umat Muslim ke area lingkungan mereka.

Sementara itu, juru bicara dari pihak oposisi, Partai Samajwadi, Anurag Bhadoriya, mengatakan bahwa pihak berwenang harus mengajukan kasus terhadap Tiwari atas seruan boikotnya terhadap komunitas Muslim.

“Pada saat-saat krisis seperti ini, dia sibuk menyebarkan kebencian terhadap komunitas tertentu. Ini menunjukkan seberapa pedulinya dia dengan nilai kemanusiaan,” kata Bhadoriya kepada kantor berita Anadolu. (Aljazeera.com)

Redaksi

Terkait

Leave a Reply