Inilah 2 Tanda Matinya Hati

 Inilah 2 Tanda Matinya Hati

Pesan Alquran Kepada Kaum Mustad’afin (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Buya Arrazy Hasyim menyebutkan ada dua tanda matinya hati manusia. Di antara tanda-tanda matinya hati itu dapat dikenali dari 2 hal ini:

1. Tidak ada rasa sedih atas ketaatan yang engkau luput mengerjakannya

2. Tidak ada penyesalan atas ketergelinciran dalam dosa yang engkau lakukan

Buya Arrazy dalam tausyahnya pun bertanya-tanya, sebenarnya kita ini sibuk apa, sampai tidak sempat berzikir pagi dan petang. “Adakah sesuatu yang menyibukkan selain Allah? Apakah ada sesuatu yang lebih besar dari Allah? Saya capek, gak sempat witir. Yaa Salam,” katanya ulama asal Sumatera Barat ini.

Buya Arrazy mengingatkan bahwa kita bisa bercapek-capek untuk dunia. Namun jarang sekali yang siap berlelah-lelah untuk akhirat sehingga menurutnya wajar jika kelak di akhirat jadi miskin. Lantaran saat di dunia tidak mau bekerja keras untuk akhirat.

Buya Arrazy menuturkan, orang yang saat usia muda malas-malasan maka tuanya akan miskin dan menyusahkan orang. Sedangkan orang yang di masa mudanya tidak mau belajar, maka di masa tuanya akan menyusahkan orang ‘alim.

“Yang kamu cari itu akhirat, berlelah-lelah lah untuk akhirat, maka temukanlah akhirat di dalam pekerjaanmu,” papar Buya Arrazy.

Istighfar sebagai Permohonan Agar Allah Menghapus Dosa

Adakah rasa menyesal akan masa lalu kita? Jika ada, itu merupakan indikasi bahwa hatinya masih sehat. Sebab, Buya Arrazy melanjutkan bahwa, setiap dari kita semua punya masa lalu.

“Masa lalu itu tidak perlu disebut-sebut ke orang, cukup kisahkan ini kepada Allah,” ujarnya.

Maka, apa pun kesalahan kita sebagai manusia di bumi ini hendaknya selalu mengutamakan zikir, misalnya istighfar. Jika hatinya tersentuh dengan istighfar, tandanya hati kita masih sehat.

Jika hati tidak tersentuh dengan istighfar, maka ada yang salah dalam diri kita sehingga perlu bertaubat dengan penyesalan. Sebab, tidak ada satu pun dari kita, seperti yang dikatakan Buya Arrazy dalam ceramahnya, yang dijamin terbebas dari maksiat.

Dengan begitu, manusia tidak perlu jumawa dan merasa suci karena kita tidak pernah tahu besok atau nanti. Apakah kita masih diberi kenikmatan berupa ketaatan dan jauh dari maksiat. Wallahu’alam bi-Showab.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply