Iman: Tak Terlihat tapi Menentukan

 Iman: Tak Terlihat tapi Menentukan

Oleh: Muhammad Arifin. MA*

HIDAYATUNA.COM – Sering kali sesuatu yang memainkan peran sangat penting justru tidak terlihat. Dalam film-film, sutradara yang mengatur jalannya cerita, sering kali tidak tampak. Dia ada di belakang layar. Dalam konser-konser di panggung, manajer panggung adanya di belakang panggung. Tidak tampil. Tidak kelihatan. Besi tiang bangunan yang menopang kokohnya bangunan agar tidak runtuh, juga tidak terlihat.

Begitu pula kurang lebih keimanan kita. Iman memainkan peran sangat penting dalam diri dan kehidupan kita, tetapi ia tidak terlihat. Ia ada di dalam hati. Kepercayaan dan keyakinan memang soal hati. Ia tidak terlihat tetapi sangat penting.

Di mana letak pentingnya? Mari kita perhatikan firman Allah swt. pada ayat yang maknanya sebagai berikut ini: Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, sungguh, Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang selalu mereka kerjakan. (QS al-Nahl [16]: 97).

Perhatikan kata-kata yang dicetak tebal di atas. Pada ayat ini, Allah berjanji akan memberikan dua jenis balasan kepada orang yang mengerjakan kebajikan (kebaikan), yaitu kehidupan yang baik (di dunia) dan pahala yang lebih baik (di akhirat). Tetapi, pemberian itu ada syaratnya, yaitu orang yang mengerjakannya harus ber iman dengan keimanan yang kuat (mu’min). Dengan kata lain, kalau orang yang mengerjakannya tidak beriman, ia boleh jadi tidak mendapatkan kedua janji itu.

Misalnya orang yang menemukan listrik. Penemuan listrik itu tentu saja merupakan suatu kebaikan dan manfaatnya pun dirasakan oleh hampir seluruh umat manusia di dunia sampai sekarang. Manusia zaman kita sekarang sudah sangat bergantung pada listrik. Jika penemu listrik itu adalah orang yang beriman, ia akan mendapat kedua jenis balasan dari Allah, di dunia dan di akhirat. Tetapi, jika ia bukan orang yang beriman, maka ia tidak mendapat balasan di akhirat nanti.

Allah memberi balasan kepadanya berupa nama baiknya yang dikenang oleh dunia, dipelajari di sekolah-sekolah. Mungkin patungnya dibuat dan diabadikan. Mungkin juga dia mendapat penghargaan bergengsi dengan imbalan uang yang banyak. Itu membuktikan bahwa Allah tidak menzalimi dan tidak menyia-nyiakan perbuatan seseorang, siapa pun itu. Tapi, ya, hanya sampai di situ. Hanya sampai di dunia. Di akhirat tidak ada apa-apanya karena perbuatannya itu tidak dilandasi oleh keimanan.

Orang-orang yang menyerukan kebaikan, mengumpulkan dana sosial untuk disumbangkan kepada orang-orang yang membutuhkan, perbuatannya itu baik dan berguna untuk orang banyak, tetapi tidak membuahkan pahala di akhirat jika mereka tidak beriman. Sia-sia. Inilah yang dinyatakan di dalam Al-Qur’an pada ayat lain yang maknanya: Siapa yang kafir setelah beriman, maka sungguh sia-sia amalnya dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi. (QS al-Ma’idah [5]: 5).

Dulu kita pernah mendengar bahwa ada negara di Asia yang muslimnya hanya sedikit sekali tetapi jauh lebih bersih, lebih berdisiplin, dan lebih teratur daripada Indonesia yang muslimnya mayoritas. Padahal Islam mengajarkan kebersihan, mengajarkan hidup teratur melalui salat lima waktu. Orang kemudian menyimpulkan bahwa mereka lebih baik dari orang-orang muslim yang beriman. Pandangan itu boleh jadi ada benarnya. Tetapi, jika di negeri itu tidak ada orang ber iman, tidak ada orang yang sujud kepada Allah, negeri itu tidak lebih baik daripada kampung kecil yang terbelakang secara peradaban, tapi di dalamnya ada orang beriman. Ada orang sujud kepada Allah. Ada orang yang tunduk kepada Allah. Ada orang yang takut kepada Allah.

Begitulah. Keimanan, walaupun tidak terlihat dan adanya di dalam hati, tetapi ia menentukan posisi pemiliknya di sisi Allah. Di dunia dan di akhirat. Wallahu a’lam.

Source: FB Pusat Studi Alquran

Dewan Pakaq PSQ

Redaksi

Terkait

Leave a Reply