Ilmuwan Muslim Bidang Kedokteran, Abu al-Qasim al-Zahrawi

 Ilmuwan Muslim Bidang Kedokteran, Abu al-Qasim al-Zahrawi

Rumah sakit zaman Nabi (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Dalam beberapa tahun terakhir, umat Muslim secara keseluruhan dinilai memiliki paradigma berpikir yang cenderung intuitif. Segala kerja dan kejadian yang terjadi melulu dikait-eratkan dengan unsur metafisika, termasuk berbagai penyakit yang diderita manusia. Bahwa medis diperlukan, memang benar adanya. Akan tetapi medis atau diagnosa dokter bukan menjadi satu-satunya jalan ke penyembuhan penyakit.

Padahal jika kita mau sedikit menelisik ke belakang pada kejayaan umat Islam di masa silam, kita akan menemukan nama Abu al-Qasim al-Zahrawi. Nama ini mungkin jarang terdengar. Lebih-lebih dikenal sebagai seorang ilmuwan yang dulunya juga memiliki kontribusi yang signifikan, terutama di bidang kedokteran.

Bermula saat Thariq bin Ziyad, salah satu panglima di Dinasti Umayyah yang diutus untuk melakukan ekspansi ke Eropa. Pasukan muslim di bawah pimpinannya ini kemudian lamat-lamat merangsek masuk menguasai sebagian wilayah Spanyol; Granada, Malaga, Cordoba, Sevilla, dan wilayah di sekitarnya. Di situ umat muslim juga menancapkan pengaruhnya dengan membangun peradaban.

Cerita singkatnya, ketika peradaban umat Islam mulai runtuh, ada banyak pengetahuan yang kemudian diadaptasi oleh Barat dengan cara menerjemahkan karangan para ulama muslim. Hanya saja karena peradaban Barat dimulai dengan paradigma yang positif, maka pengetahuan yang diambil hanya pengetahuan yang dapat diakses oleh pancaindera dan bersifat rasional. dibiarkan dibiarkan atau diketahui tanpa ada daya keinginan untuk mengembangkan lebih jauh.

Sementara itu, ilmu yang ditekuni Abu al-Qasim al-Zahrawi sendiri masuk dalam klasifikasi pengetahuan yang positivistik. sebelumnya ada nama Abu Bakar ar-Razi dan Ibnu Sina yang lebih dulu mempopulerkan seni pengobatan, namun nama mereka berdua hanya berpengaruh di dunia Timur. Baru Abu al-Qasim al-Zahrawi ini yang memformulasikan sekaligus mempopulerkan ilmu kedokteran di dunia Barat.

Karya Monumental Bidang Kedokteran

Nama lengkapnya adalah Abu al-Qasim Khalaf Ibn Abbas al-Zahrawi. Ia lahir pada 936 M di kota Az-Zahra di daerah Cordoba, pusat Dinasti Umayyah. Nama ‘Zahrawi’ dinisbatkan pada kota kelahirannya tersebut. Ia dikenal dengan berbagai nama seperti Abulcasis, Zahravius, dan Abu al-Jarahah. Leluhurnya bermuasal dari Suku Ansar yang bermigrasi ke Spanyol setelah umat muslim menguasai daerah tersebut.

Karyanya Tashrif Li Man ‘Ajiza’ An al-Talif menjadi karya monumental dalam bidang kedokteran. Sebelumnya ia juga pernah menulis buku berjudul Amar al-Aqaqir al-Mufradah wa al-Murakkab namun tidak terlalu populer, begitu juga dengan beberapa buku-bukunya yang lain.

Tashrif Li Man ‘Ajiza ‘An al-Talif sendiri terdiri dari 30 jilid yang berisi beberapa bab dan sub-bab yang saling berkaitan. Maher Abdel Kader Mohamed Ali dalam risetnya The Latin Translation of the Works of al-Zahrawi and Its Influence in Europe (2016) mencatat ada tiga benang merah dalam karya tersebut;

  1. Bagian pertama ada dua bab yang mewicarakan tentang ilmu kedokteran dan anatomi.
  2. Kemudian sebanyak 27 bab berbicara mengenai obat-obatan dan makanan.
  3. Dan terakhir ada satu bab yang menguraikan tentang ilmu pengetahuan bedah atau operasi.

Bab terakhir ini yang melambungkan nama Abu al-Qasim al-Zahrawi di dunia Barat. Karena sebelumnya bagi masyarakat Barat, bedah atau operasi dianggap sebagai ritual pengobatan yang dilakukan oleh dukun dan semacamnya dengan bantuan ilmu mistis.

Maka tidak jarang ada banyak orang yang mesti meregang nyawa saat bedah atau operasi ini dilakukan sehingga, masyarakat Barat memilih untuk tidak melakukan bedah atau operasi ketika penyakit yang dideritanya perlu penanganan khusus.

Pengobatan Medis Abu al-Qasim

Di bab terakhirnya itu, Abu al-Qasim al-Zahrawi membahas tentang luka dan cara pembedahannya; pengobatan tulang yang remuk; penyakit gigi sekaligus cara pengobatannya; pembakaran luka; dan pembersihan darah di dalam rahim setelah melakukan persalinan.

Selain mencatat tentang bedah, Abu al-Qasim al-Zahrawi juga menemukan perangkat yang mendukung agar pembedahan bisa dilakukan dengan aman dan lancar. Ia tercatat telah berhasil menemukan 26 perangkat bedah lengkap dengan cara penggunaannya untuk mengobati sekitar 325 macam gejala maupun penyakit yang dialami manusia.

Karya Abu al-Qasim al-Zahrawi ini saya rasa menjadi bukti sekaligus sindiran. Bukti bahwa dulunya ajaran Islam dengan perangkat yang ada di masanya bisa mencapai kemajuan, bahkan mempengaruhi peradaban. Sementara sindiran, karena umat muslim hari ini umumnya lebih jarang menggeluti secara serius tertentu sampai dijadikan acuan oleh masyarakat dunia.

Wallahul’alam

Ahmad Sugeng Riady

Masyarakat biasa merangkap marbot di pinggiran kota Yogyakarta

Terkait

Leave a Reply