Ibadah dan Surga dalam Minhajul Abidin Karya Terakhir Imam Ghazali

 Ibadah dan Surga dalam Minhajul Abidin Karya Terakhir Imam Ghazali

HIDAYATUNA.COM – Kalangan cendikiawan muslim siapa yang tidak kenal dengan Imam Ghazali. Bukti kepopuleran beliau diantaranya adalah digunakannya nama beliau oleh masyarakat muslim tidak terkecuali di Indonesia. Bukan tanpa alasan beliau sangat terkenal bahkan dijuluki dengan “Hujjatul Islam” atau bahasa sederhananya yaitu argumentasi Islam. Pandangan dan pemikirannya dianggap mewakili Islam dalam berbagai aspek.

Karya-karya Imam Ghazali selalu menyajikan pemahaman yang komplit dan disusun secara sistematif dan komprehensif sesuai konteks zamannya. Tidak heran jika kemudian sampai sakarang karyaya masih dipelajari dan menjadi kajian wajib di pesantren-pesantren  Nusantara.

Salah satu Kitab yang mashur karya Imam Ghazali adalah Minhajul Abidin yang merupakan karya pamungkas sebelum beliau wafat. Sebagai sebuah karya terakhir tentu kitab ini sangat sepesial, karena hanya sedikit murid beliau yang berkesempatan mempelajarinya secara langsung.  

Ditilik dari penamaan kitab Minhajul Abidin ditujukan untuk menjadi pedoman bagi para ahli ibadah. Tentu pembahasan di dalamnya membahas Ibadah yang didalamnya menguraikan rahasia-rahasia mendekatkan diri kepada Allah. Juga mengungkapkan perspektifnya dalam menyusuri Ibadah sebagai sebuah jalan menuju Allah.

Mengawali pembahasan dalam kitab ini dijelaskan bahwa sejatinya Ibadah merupakan wujud penghambaan yaitu melayani Allah layaknya budak melayani tuannya. Bagaimanapu seorang budak tentulah harus memenuhi segala keinginan tuannya, apalagi dalam hal ini tuannya adalah Allah. Tujuan diciptakan manusia dengan adanya akal semata-mata untuk beribadah.

Akal yang menjadikan manusia berbeda dengan hewan. Dengan akal manusia dapat memperoleh ilmu, buah ilmu adalah ibadah. Hanya orang-orang yang berakal dan memiliki ilmu yang dapat memahami kekuasaan Allah. Yang mampu berfikir tentang adanya langit, bumi dan seisinya hanya orang berakal. Kalau ada orang beribadah tanpa ilmu, bisa dipastikan ibadahnya tidak sah.

Ibadah dalam hal ini hanya dapat dilakukan atau akan sukses dijalan kan oleh kesuksesan hamba yang kuat. Kenapa begitu karena jalan ibadah merupakan dagangan para wali, jalannya orang-orang bertaqwa, bagiannya orang-orang mulia, tujuan orang-orang memiliki cita-cita, sesuatu yang dikenal dari orang-orang mulia, pekerjaan orang-orang dewasa dan upaya orang-orang memiliki akal.

Disebutkan bahwa Ibadah merupakan jalan menuju kebahagiaan dimana imbalannya adalah surga. Ditinjau menurut ukuran keimanan seorang hamba surga merupakan sebuah ujung atau goalnya. Ibaratnya jika seseoarang memenangkan lomba, Surga adalah hadiah atau pialanya. Besar kecilnya nilai hadiah itu tergantung siapa yang menyelenggarakan dan cakupan perlombaan. Nah, dalam hal ini yang membuat arena perlombahan adalah Allah, tentu dapat kita bayangkan bagaimana nilainya Surga itu.

Dalam konteks ini surga diciptakan untuk orang-orang yang beribadah atau menjadi imbalan untuk orang yang mengambil jalan Ibadah. Jika merujuk kisah-kisah yang kita dengar dan penjelasan dalam Alquran mengenai gambaran surga sangatlah istimewa, dunia ini hanya sepersekiannya saja. Bagaimana tidak disana manusia hidup kekal tidak menua, semua yang diinginkan terpenuhi, tidak ada halal haram lagi.

Karena imbalan Ibadah adalah jalan surga, maka sangat wajar jika sulit ditempuh, banyak tantangannya, sangat berat, jaraknya jauh, penuh dengan bahaya, banyak hambatan serta rintangannya, banyak ancaman yang dapat mencelakai, banyak musuh bahkan rampoknya. Tentu jalan yang demikian sangat sedikit yang menempuhnya.

Jika selama ini kita pernah mendengar syair nasyid jika jalan surga itu mudah, sebenarnya tidak sepenuhnya tepat. Bagaimana mungkin surga yang penuh kemuliaan ditebus dengan mudah. Jika hotel bintang lima saja yang ada di dunia ini ongkosnya mahal apalagi surga.

Surga dikelilingi oleh segala sesuatu yang tidak disukai karena menuntut ketakwaan, keistiqomahan, ketundukan. Sementara neraka dikelilingi segala sesuatu yang disukai oleh hawa nafsu dan syahwat. Tidak sedikit yang terjebak dan menikmatinya karena tunduk pada hawa nafsunya.

Namun, terlepas dari itu semua Allah akan menutun orang-orang yang memiliki kesungguhan dan mau melihat. Mereka yang mendapat petunjuk  hatinya akan menjadi terang dan mudah melalui semua rintangan yang ada. Allah akan menyesatkan orang yang dikehendaki ataupun memberi petunjuk pada sesorang yang dikehendaki.

Uraian ini sebenarnya ingin mengajak untuk merenungi agar kita sebagai hamba tidak berputus asa dalam menuju Allah. Menjalankan segala perintah syariat dan beribadah dengan penuh kekhusuan mengharap ridho Allah. Wallahu A’lam.

Baca Juga: Perdebatan Sains dan Agama, Haidar Bagir Minta Tiru Al-Ghazali

Redaksi

Terkait

Leave a Reply