Hukum Wanita Haidh Memasuki Masjid

 Hukum Wanita Haidh Memasuki Masjid

Bagaimana Hukum Wanita Haidh Memasuki Masjid? Simak Penjelasannya Soal Hukum Seorang Muslimah Haidh Masuk Masjid di Bawah Ini

HIDAYATUNA.COM – Masjid merupakan tempat istimewa bagi umat Islam. Tempat dimana umat Islam berkumpul untuk melakukan ibadah. Baik shalat berjamaah, menghadiri majlis ilmu ataupun sekedar iktikaf.

Seseorang sudah bisa disebut beribadah hanya dengan berdiam diri dalam masjid jika diniatkan iktikaf. Sungguh suatu bentuk ibadah yang sangat sederhana dan mudah. Hanya dengan duduk di masjid, serta berniat iktikaf maka seseorang mendapatkan pahala karenanya. Padahal secara dzahir tidak ada bedanya antara duduk di masjid dan di luar masjid. Namun pahala hanya bisa didapat jika kita lakukanya di masjid.

Inilah keistimewaan masjid yang tidak bisa kita nalar. Namun seiring dengan keutamaan yang ada, seseorang yang ingin masuk masjid juga harus mengikuti aturanya salah satunya dalah tentang wanita haidh yang ingin masuk masjid, bolehkah?

Hukum perempuan haidh masuk masjid terjadi sedikit perbedaan di kalangan ulama. Ada yang megharamkan secara mutlak. Baik sekedar untuk lewat saja tanpa duduk, lebih lagi jika sampai menetap. Namun ada pula yang masih membolehkan jika hanya sekedar lewat tanpa menetap. Tentunya jika tidak dikhawatirkan mengotori masjid. Namun jika dikhawatirkan akan mengotori maka tidak boleh.

Kedua pendapat di atas merupakan pendapat empat madzhab yang kita kenal. Namun ternyata masih ada pendapat diluar keduanya yang membolehkan perempuan haidh untuk masuk masjid secara mutlak. Baik untuk menetap di dalamnya ataupun sekedar lewat.

Pendapat pertama adalah pendapat yang mengatakan haramnya perempuan haidh masuk masjid secara mutlak. Baik hanya sekedar lewat ataupun untuk waktu yang lama. Pendapat ini merupakan pendapat dari madzhab Hanafi dan Maliki.

  • Mazhab Al-Hanafiyah

Al-Kasani salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah di dalam kitabnya Badai’ Ash-Shanai’ fi Tartibi As- Syarai’ menuliskan sebagai berikut:

وَأَمَّا حُكْمُ الْحَيْضِ وَالنِّفَاسِ فَمُنِعَ جَوَازُ الصَّلاَةِ، وَالصَّوْمِ، وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ، وَمَسُّ اْلمُصْحَفِ إِلَّا بِغِلاَفٍ، وَدُخُوْلُ الْمَسْجِدِ، واَلطَّوَافُ بِالْبَيْتِ

Artinya: “Adapun hukum bagi perempuan haidh dan nifas, maka dilarang untuk shalat, puasa, membaca Al-Qur’an, memegang mushaf kecuali sampulnya dan memasuki masjid.”

As-Sarakhsi salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah dalam kitab Al-Mabsuth menuliskan sebagai berikut :

وَلَيْسَ لِلْحَائِضِ مَسُّ الْمُصْحَفِ وَلَا دُخُوْلُ الْمَسْجِدِ

Artinya: “Dan tidaklah bagi wanita haidh menyentuh mushaf dan tidak pula memasuki masjid.”

  • Mazhab Al-Malikiyah

Al-Qarafi salah satu ulama mazhab Al-Malikiyah di dalam kitab Adz-Dzakhirah menuliskan sebagai berikut:

وَأَمَّا الْمَسْجِدُ فَلِقَوْلِهِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ لَا يَحِلُّ الْمَسْجِدُ لِحَائِضٍ وَلَا جُنُبٍ

Artinya: Adapun masjid, karena Rasulullah SAW saw bersabda: Tidak dihalalkan masjid bagi wanita haidh dan juga yang sedang junub.

Al-Kharasi salah satu ulama mazhab Al-Malikiyah di dalam kitab Mawahib Al-Jalil menuliskan sebagai berikut:

(��) وَدُخُوْلُ مَسْجِدٍ (ش) أَيْ وَيَمْنَعُ الْحَيْضُ دُخُوْلُهَا  الْمَسْجِدَ  لِمُكْثٍ  أَوْ  مُرُوْرٍ  وَيُنْدِرَجُ  فِيْهِ

الْاِعْتِكَافُ وَالطَّوَافُ

Artinya: (Masuk masjid) dilarang bagi wanita haidh masuk masjid. Baik untuk menetap atau sekedar lewat saja. Maka dari itu tidak diperbolehkan pula iktikaf dan thawaf.

Pendapat kedua mengatakan bahwa wanita haidh tidak boleh masuk masjid kecuali hanya untuk lewat. Pendapat ini dikemukakan oleh madzhab Syafi’i, Hambali dan sebagian ulama kontemporer seperti Lajnah Daimah dan Syaikh Utsaimin.

  1. Mazhab Asy-Syafi’i

An-Nawawi salah satu ulama dalam mazhab Asy- Syafi’iyah di dalam kitabnya Al-Majmu’ Syarah Al- Muhadzdzab menuliskan sebagai berikut:

 وَيَحْرُمُ عَلَيْهِ اللبث ِفي الْمَسْجِدِ وَلَا يَحْرُمُ عَلَيْهِ الْعُبُوْرُ لِقَوْلِهِ تعالى (لَا تَقْرَبُوا الصَّلاَةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوْا مَا تَقُوْلُوْنَ وَلاَ جُنُبًا إِلاَّ عَابِرِي سَبِيْلٍ) وَاَرَادَ مَوْضِعَ الصَّلاَةِ

Artinya:Dan diharamkan bagi yang sedang junub(atau berhadats besar) itu berdiam di masjid tapi tidak diharamkan baginya hanya sekedar lewat, karean Allah berfirman: janganlah kalian mendekati shalat dalam keadaan mabuk sampai kalian sadar apa yang kalian katakan, dan tidak pula dalam keadaan junub, kecuali sekedar melewati saja (QS. An-Nisa: 43). Yang dimaksudkan shalat adalah tempat shalat.

  • Mazhab Al-Hanabilah

Ibnu Qudamah ulama dari kalangan mazhab Al- Hanabilah di dalam kitabnya Al-Mughni menuliskan sebagai berikut:

وليس لهم اللبث ِفى المسجد، لقول الله تعالى: {ولا جنبا إلا عابري سبيل حتى تغتسلوا} وروت عائشة قالت : جاء النبي صلى الله عليه وسلم ، وبيوت أصحابه شارعة ِفى المسجد، فقال وجهوا هذه البيوت عن المسجد؛ فإِنى لا أحل المسجد لحائض  ولا  جنب  (رواه  أبو  داود). ويباح  العبور للحاجة ِ من أخذ شيء، أو تركه، أوكون الطريق فيه، ، فأما لغير ذلك فلا يجوز بحال

Artinya: Dan tidaklah bagi mereka (yang junub, haidh dan nifas) ituberdiam diri di masjid, karena Allah berfirman: Dan tidaklah bagi yang junub(mendekati masjid), kecuali sekedar lewat. (QS. An-Nisa: 43). Dan riwayat Aisyah, dia mengataka: Suatu ketika Rasulullah SAW mendatangi rumah para sahabat yang sangat dekat dengan masjid, dan beliau mengatakan: palingkan rumah rumah ini dari masjid, sesungguhnya aku tidaklah menghalalkan masjid bagi wanita yang haidh atau yang orang junub (HR: Abu Daud). Dan Dibolehkan melewatinya untuk keperluan seperti mengambil atau meninggalkan sesuatu atau adanya jalan yang harus melewati masjid, adapun untuk selainnya, tidaklah dibolehkan.

Pendapat ketiga merupakan pendapat minoritas dari kalangan zhadiriyah. Yang mana seringkali pendapatnya menyelisihi pendapat empat madzhab. Dan jika sudah menyelisihi biasanya perbedaan mereka tidak dianggap dan disebut sebagai pendapat yang syadz atau menyimpang.

Pendapat ini mengatakan diperbolehkanya wanita haidh masuk masjid secara mutlak. baik untuk waktu yang lama ataupun sebentar.

  • Mazhab Azh-Zhahiriyah

Ibnu Hazm salah satu tokoh mazhab Azh- Zhahiriyah di dalam kitab Al-Muhalla bil Atsar menuliskan sebagai berikut :

وجائز  للحائض  والنفساء  أن  يتزوجا  وأن  يدخلا المسجد وكذلك الجنب لأنه لم يأت نهي عن شيء من ذلك وقد قال رسول الله صلى الله عليه وسلم – المؤمن لا ينجس –  وقد كان أهل الصفة يبيتون  ِفي المسجد بحضرة رسول الله صلى الله عليه وسلم وهم جماعة كثيرة ولا شك في أن فيهم من يحتلم فما نهوا قط عن ذلك

Artinya: “Dan dibolehkan bagi wanita haidh dan nifas menikah dan masuk masjid, begitupun yang junub. Karena tidak ada larangan apapun untuk yang demikian. Dan sungguh Rasulullah SAW saw telah bersabda: Seorang mukmin itu tidak najis. Dan begitu pula orang-orang shuffah pernah bermalam di masjid pada masa Rasulullah SAW saw, dan jumlah mereka banyak, tentulah diantara mereka ada yang bermimpi, maka sungguh tidaklah mereka dilarang sedikitpun dari yang demikian.”

Sumber:

  • Badai’ Ash-Shanai’ fi Tartibi Syara’i Karya Al-Kasani
  • Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq Karya Az-Zaila’i
  • Mughni Al-Muhtaj Karya Al-Khatib Asy-Syirbini
  • Al-Muhalla bil Atsar Karya Ibnu Hazm

Redaksi

Terkait

Leave a Reply