Hikmah Puasa dalam Pandangan Sufistik

 Hikmah Puasa dalam Pandangan Sufistik

Hikmah puasa dalam pandangan sufistik (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Bagi umat muslim, puasa menjadi kemestian yang kudu ditunaikan sampai rampung. Meski kewajiban puasa ini, dilakukan minimal hanya di bulan Ramadan saja. Pun melakukannya barangkali karena tergiur oleh kelipatan pahala yang ditawarkan selama bulan Ramadan itu berlangsung.

Kita mungkin pernah membaca di literatur tertentu, atau mendengar dari tutur cerita para alim di ceramah tentang orang yang bertirakat dengan puasa. Orang-orang ini sengaja memilih puasa sebagai ajang untuk meruwat diri dan membersihkan batin.

Dengan puasa, ada sekian pembelajaran yang dapat membuat manusia mentas dari polemik yang terjadi pada diri sendiri. Tetapi juga tidak sedikit orang yang memanfaatkan momentum di bulan Ramadan, kita mungkin masuk di kategori ini.

Menunaikan ibadah ini disertai sekian perbuatan baik lainnya seperti tadarus Alquran, tarawih, berbagi takjil, memberi sedekah, dan membayar zakat. Perbuatan baik yang mungkin sangat berat untuk ditunaikan di luar bulan Ramadan.

Ilmu Tasawuf & Hikmah yang Didapat

Puasa di bulan Ramadan juga dapat menjadi ajang untuk melihat ke dalam diri bahwa, manusia memang niscaya tidak berdaya. Safria Andry di artikelnya Hakikat Puasa Ramadan dalam Perspektif Tasawuf (2020) menguraikan ada empat hikmah yang diperoleh dari puasa di bulan Ramadan.

Sekali pun orang itu tergolong awam dan dengan semangat apa adanya. Ia mengurai empat hikmah puasa itu berangkat dari ayat 183 di surah al-Baqarah.

Ayat yang saya rasa kerap dikutip untuk dijadikan bahan ceramah oleh banyak ustaz di negeri ini, terlebih di saat bulan Ramadan.

1. Kejujuran

Pertama-tama hikmah yang didapat dari puasa di bulan Ramadan adalah kejujuran. Sebab, dalam ibadah puasa, yang tahu dirinya berpuasa hanya dirinya sendiri.

Orang lain tidak bisa mengidentifikasi secara jelas antara orang yang puasa dengan yang tidak. Kecuali memang ada yang memergoki dirinya dengan terang-terangan makan dan atau minum.

2. Mengakui ke-Mahakuasaan-Nya

Hikmah selanjutnya, secara tidak sadar, umat muslim mengakui eksistensi ke-Mahakuasaan-Nya. Perkara makan dan minum yang menjadi bagian dari harta manusia, ternyata hanya titipan yang dapat dimakan-teguk setelah mendengar kumandang adzan maghrib.

Sama halnya dengan harta lain di bumi yang dapat dinikmati secara paripurna nanti pada kehidupan selanjutnya. Tentunya dengan catatan, harta itu digunakan untuk kemanfaatan masyarakat luas.

Maka dari itu,kuasa-Nya itu menjadi jalan satu-satunya yang dapat menolong manusia, baik di dunia maupun kehidupan setelahnya. Belum tentu mereka yang berharta banyak, kedudukan tinggi dan privilese, serta koneksi dengan orang-orang terhormat bisa mendapat pahala banyak dari puasa.

Salah satu ahli sufi berkata, semua yang dimiliki di dunia itu sifatnya sementara dan relatif. Tetapi segala yang berkaitan dengan-Nya itu bersifat kekal dan abadi. Jadi lazim, jika ibadah ini juga menjadi momen untuk menginsyafi sikap serakah yang luput dilakukan.

3. Menahan Segala Sesuatunya

Kemudian hikmah yang terakhir, dapat membuat umat muslim untuk sementara waktu mengurangi hal-hal yang tidak perlu untuk disuarakan atau ditelan. Barangkali di luar bulan Ramadan, membual dan makan-minum sesukanya bisa dilakukan tanpa ada jeda.

Tetapi saat berpuasa, laku membual apalagi makan-minum cenderung dihindari dengan pertimbangan pahala puasa yang berkurang.

Hikmah-hikmah bernada sufistik semacam ini, saya rasa dapat memberi perpektif baru bagi umat muslim. Bahwa puasa di bulan Ramadan itu wajib, memang benar adanya.

Tetapi jika kewajiban itu ditunaikan dengan perspektif yang tidak sekadar memburu pahala. Saya duga, kualitas umat muslim dapat merangsek naik menjadi lebih baik. Semoga saja begitu.

Ahmad Sugeng Riady

Masyarakat biasa merangkap marbot di pinggiran kota Yogyakarta

Terkait

Leave a Reply