Hikmah Dibalik Musibah dan Wabah Penyakit

 Hikmah Dibalik Musibah dan Wabah Penyakit

Penting untuk diketahui bahwa setiap musibah dan wabah penyakit itu selalu mengandung hikmah dibaliknya sebagai pembelajaran.

HIDAYATUNA.COM – Beberapa waktu terakhir pergaulan dunia berubah dan mengalamai pergeseran signifikan, biasanya orang keluar masuk dari satu negara atau wilayah sekarang tidak bisa lagi begitu. Semua diawasi, diperiksa dan ditelusuri riwayat bepergiannya. Beberapa negara sudah menutup diri dan tidak bisa dimasuki lagi . Ini adalah imbas wabah Corona yang muncul pertama kali di Wuhan Cina.

Wabah penyakit merupakan salahsatu bentuk musibah, sebagai seorang muslim kita harus selalu mempunyai perasangka positif. Bahwa selalu ada hikmah atas tiap kehendak Allah, keyakinan ini harus tertanam dan tertancap kuat dalam hati kita. Jangan kita menjadi hamba yang karena ketakutan justru menuntut dan mempertanyaan takdir Allah yang Maha Berkehendak.

Usaha untuk menghindari atau menghadapi musibah tidak hanya dilakukan dengan ikhtiar dhohir  (fisik), tapi ikhtiar batin (spiritual) juga harus dilakukan sebagai tanda kita merupakan orang beriman. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Atha’ilah dalam kitab Al-Hikam, jangan mengadukan musibah (termasuk wabah) kepada selain Allah. Bukankah Allah yang menurunkan cobaan dan bagaimana mungkin yang tidak bisa mengakibatkan musibah mengangkatnya. Sedangkan mengangkat musibah dari dirinya sendiri tidak bisa apalagi mengangkat musibah orang lain.

ليخفف ألم البلاء عنك علمك بأنه –سبحانه-هو المبلي لكو فالذي واجهتك منه الأقدار هو الذي عودك حسن الاختيار

Artinya: “Agar ujian terasa ringan, engkau harus mengetahui bahwa Allah lah yang memberimu ujian. Dzat yang menetapkan beragam takdir atasmu adalah Dzat yang selalu memberimu pilihan terbaik.”( Kitab Al-Hikam, Ibn Atha’illah)

Wabah penyakit Corona yang menyebar begitu cepat merupakan peringatan dari Allah agar hambanya tidak lalai. Segala kemudahan yang diperoleh dalam hidup untuk menggenggam dunia hanya merupakan alat untuk menju kepada-Nya. Harta benda yang kita miliki jelas tidak ada gunanya  dihadapan Allah. Harta benda kita juga tidak bisa menolong kita jika Allah sudah berkehendak.

Belum adanya obat yang ditemukan untuk mengatasi penyakit yang disebakan oleh Virus Corona ini mengharuskan kita untuk bersabar. Imam Al-Ghazali mengatakan, “Untuk mengatasi kendala yang disebabkan oleh musibah dan kesulitan hidup yang menimpa, cukup bagimu untuk bersabar. Bersabarlah dalam semua ikhwal kehidupan.

Kesabaran merupakan pelajaran mendasar yang harus dimiliki manusia sekarang ini. Pernahkah kita berfikir ditemukannya alat-alat elektronik, telekomunikasi, internet  bahkan robot membuat manusia lupa bersabar. Kebiasaan apa-apa langsung memerintah dan mendapatkan apa yang diinginkan telah membuat kita manja serta mudah marah. Semakin banyak orang marah karena persoalan sepele, mencaci jika terjadi kekhilafan yang dilakukan sesama manusia.

Melalui bencana wabah Virus Corona ini mari kita melatih kesabaran. Kita bangkitkan juga empati terhadap sesama. Yang biasanya acuh dan tidak peduli kepada saudara dan tetangga mari kita mulai belajar menayakan keadaan mereka. Tanyaka kesehatannya, jika sakit kita antarkan atau panggilkan petugas kesehatan agar segera diobati. Bagi yang sehat tapi tidak cukup punya bahan makanan kita bantu juga dengan memberi makanan. Dengan begitu kita akan membantu menghalau penyebaran penyebaran Virus Corona yang menjadi pendemi dunia.

Musibah adalah cobaan untuk menguji sejauh mana keimanan kita. Yakinlah apapun ketentuan yang Allah tetapkan adalah baik untuk kita hambanya.

 واعلموا ان البلية لم تأت المؤمن لتهلكه وانما اتته لتختبره

 Artinya: “Ketahuilah bahwa cobaan tidak datang kepada seorang mukmin untuk merusaknya, namun datang untuk menguji keimanananya.” (Sayyid Ja’far al-Barzanji, al-Lujaini ad-Dani fi Manaqibis Syaikh Abdil Qadir al-Jilani, t.t, Kediri, Maktabah Pondok Pesantren Tahfidh wal Qiraat Lirboyo, h. 136)

Musibah Terbesar Adalah Matinya Hati

Ketahuilah bahwa musibah Virus Corona ini dapat menjadi alat ukur untuk menilai apakah hati kita mati atau tidak?. Jika yang mati jasad orang tidak akan berbuat dosa lagi, tapi jika yang mati hati jasad masih hidup akan melakukan dosa-dosa terus menerus tanpa disadari. Naudhubillah.

Ini saatnya melakukan penelaahan, seberapa besar kepedulian dan rasa syukur kita kepada badan kita yang merupakan titipan Allah, kepedulian kepada anak-anak dan keluarga yang dititipkan dan menjadi tanggung jawab kita. Juga seberapa besar kepedulian kita kepada lingkungan sekitar. Apakah kita telah sangat lalai dan melupakan keberadaan mereka semua hanya untuk mengejar dunia.

Sekarang kita masih punya kesempatan untuk berbuat baik dan membayar kesalahan-kesalahan sebelumnya. Jangan sampai kehilangan kesempatan. Musibah wabah Corona ini yang mengharuskan kita mengisolasi diri merupakan kesempatan terbaik mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Kita mohon ampun atas segala dosa dan kelalain yang kita lakukan. Selalu ada hikmah atas segala musibah dan bersyukurlah jika kita dapat menyadarinya.  

Redaksi

Terkait

Leave a Reply