Hagia Sophia Jadi Tempat Ibadah, Penganut Agama Monoteistik Rusia Senang

 Hagia Sophia Jadi Tempat Ibadah, Penganut Agama Monoteistik Rusia Senang

Hagia Sophia Jadi Tempat Ibadah, Penganut Agama Monoteistik Rusia Senang

HIDAYATUNA.COM – Pemulihan status Hagia Sophia sebagai tempat ibadah adalah kegembiraan yang besar bagi umat tiga agama monoteistik Muslim, Kristen, dan Yahudi di Rusia.

Hal tersebut sebagaimana disampaikan wakil kepala pertama Dewan Spiritual Muslim Rusia , Damir Muhetdinov. Menurutnya umat Islam, Kristen dan Yahudi di negara itu turut senang langkah yang diambil Turki terkait Hagia Sophia.

“Hagia Sophia sekali lagi akan menjadi tempat di mana nama Tuhan akan dihormati dan dipuji” kata Damir Muhetdinov, dilansir dari Anadolu Agency, Selasa (21/3/20).

“Kami menyambut kenyataan bahwa ada satu tempat ibadah di mana nama Tuhan diperingati di Bumi. Kami melihat ini sebagai kemenangan bersejarah lain untuk monoteisme,” kata Muhetdinov.

Menurut Muhetdinov dari awal diskusi mengenai status Hagia Sophia, Dewan Spiritual Muslim Rusia mengambil posisi tanpa campur tangan dalam masalah negara berdaulat, sambil menekankan pentingnya menjaga perdamaian antaragama dan bangunan itu sendiri, yang ditunjuk sebagai situs Warisan Dunia UNESCO.

“Menjadi obyek budaya yang penting di dunia, menurut kami, Hagia Sophia harus dapat diakses oleh orang-orang dari semua agama dan pandangan agama,” katanya.

Muhetdinov menyatakan keyakinannya bahwa orang-orang Turki dan kepemimpinan politik mereka akan menemukan “cara yang tepat” untuk melestarikan objek ini dan tidak melanggar hak-hak kelompok agama lain dan menadapat pengakuan.

“Dengan contoh Masjid Sultan Ahmed, kita tahu bahwa siapa pun, terlepas dari agama mereka, dapat datang ke tempat ini, untuk berdoa atau melihat keindahannya dan berkenalan dengan peribadatan Muslim. Oleh karena itu, usulan disuarakan sampai saat ini untuk melestarikan fungsi historis Hagia Sophia sebagai monumen arsitektur adalah benar dan akan berfungsi untuk melestarikan perdamaian, harmoni, dan pemahaman antara berbagai bangsa dan budaya, “katanya.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply