Gus Muwafiq Sebut Tumpengan Perekat Tali Persaudaraan

HIDAYATUNA.COM, Jakarta — Tumpeng atau sedekah bumi tidak terlepas dari tradisi dan budaya lokal nenek moyang. Lalu apa esensi dan tujuan dari upacara tersebut?

Pendakwah kondang, KH Ahmad Muwafiq atau lebih akrab disapa Gus Muwafiq menjelaskan bahwa tumpengan dapat merekatkan tali persaudaraan antar sesama.

“Islam itu tidak berbicara memandang sedekah bumi, lebih kepada apa yang ada dalam sedekah bumi dan tumpengan,” ujar Gus Muwafiq dilansir dari Republika, Kamis (07/04/2022).

Menurut Gus Muwafiq tradisi tumpengan itu, adalah upaya nenek moyang agar bisa makan bersama. Tujuannya adalah menjaga tali persaudaraan.

“Makanya nasi ini ditumpuk, ngumpul bareng makan bareng, ayam juga cuma satu, ingkung terus nanti ditarik bareng-bareng,” imbuhnya.

Tradisi dan Budaya Lokal Berhadapan dengan Syariat

Riuh rendah pembahasan tradisi dan budaya lokal yang dihadapkan dengan syariat Islam itu juga dijawab dengan candaan. Seolah hal tersebut sebenarnya tidak patut diperdebatkan, namun hanya perlu dipahami dan dihayati saja.

“Kalau zakat budayanya juga dipakai, masyarakat sana (Arab) zakatnya gandum karena budaya makannya gandum, kalo di sini zakatnya beras karena budaya makannya nasi, nah ini bedanya,” jelas mantan asisten pribadi KH Abdurachman Wahid atau Gus Dur ini.

Namun masalahnya, ada orang-orang yang tidak mau memahami ini karena dia punya merek yang lain lagi. “Sebenarnya sih gitu-gitu aja, itu kan problem market, manusiawi,” candanya.

Sama halnya dengan sedekah laut. Konteksnya, kata Gus Muwafiq, adalah wujud syukur kepada lautan. Para nelayan ingin bersyukur kepada makhluk-makhluk yang ada di dalam laut seperti ikan, lumba-lumba, terumbu karang dan sebagainya.

“Cuma, yang nggak tahu, dikira kasih makan ratu kidul atau apa. Itu kasih makan ikan saja yang di laut itu. Masa dikasih makan popok bayi, sampah, selama ini kan kita kasih makan laut bungkus plastik, sampah, bungkus popok. Maksud saya, yang tidak pernah bergerak di wilayah itu nggak usah ngomong, kalau Anda mau ngomong harus berada di situ, agar tahu,” tuturnya.

Pangkal masalah ini adalah soal pemahaman dan kontekstualisasi dengan zaman yang terus bergerak sehingga tidak bisa ada hal-hal yang dipaksakan dari zaman Rasulullah SAW, utamanya terkait budaya Arab, lalu ditransfer begitu saja di Indonesia, atau belahan bumi lain, khususnya para penganut agama Islam.

“Saya dulu belajar tentang ilmu telepati, puasa berhari-hari, tapi sekarang saya juga harus tahu diri, karena dengan Rp15 ribu kita pergi ke konter bisa beli kuota, ini zaman berubah,” tandasnya.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply