Gus Baha Ungkap Ada Mandi Junub yang Tidak Sah

 Gus Baha Ungkap Ada Mandi Junub yang Tidak Sah

Mandi junub ada yang tidak sah (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Mandi junub merupakan sesuatu hal yang sangat penting untuk diketahui karena berkaitan dengan sah atau tidaknya suatu ibadah. Menurut Gus Baha, saat mandi junub, tidak boleh ada sabun atau sampo terlebih dahulu sampai mandi junubnya selesai.

Sampo atau sabun, lanjut Gus Baha, akan berpotensi mengubah sifat air sehingga dapat menyebabkan tidak sah.

“Syaratnya mandi atau wudhu itu jangan ada di tubuh sesuatu yang mengubah air, misal sabun, sampo atau yang lainnya,” ujar Gus Baha.

“Makanya kayak orang mandi junub itu banyak yang salah, jadi 1 ciduk air Lansung pakai sampo,” sambungnya.

Sabun dan sampo itulah yang kemudian membuat air berikutnya tidak bisa menghilangkan hadas besar.

“Berarti semua air ini tidak bisa menghilangkan hadas besar. Posisi air yang ke seluruh tubuh berbau sampo,” jelas Ulama kharismatik asal Rembang ini.

Oleh karena itu, beber Gus Baha, untuk mandi junub sebaiknya menggunakan air bersih hingga mandi junubnya selesa. Kemudian baru memakai Sampo.

“Tapi kalau kamu pakai sampo dulu, kalau rambutnya banyak, maka potensi air yang menyebar sudah menjadi Mutagoyyir,” terang Gus Baha.

***

Gus Baha menyebut salah satu syarat mandi junub adalah jangan ada sesuatu di tubuh yang disebut Yughoyyiru ma (mengubah). Gus Baha juga menjelaskan cara mandi Junub yang benar agar dapat menghilangkan hadas besar.

“Ketika mandi junub dari kepala, ya sudah, kepala itu awwalul gushli. Kalau kamu siram wajah dulu, ya wajah awwalul gushli,” kata Gus Baha.

Begitupun ketika orang mandi, disiramkan di dada saat pertama kali, berarti dada itu disebut awwalul Gushli.

“Pokoknya yang setiap bersamaan niat, Awwalul fardhi, paham ya, jadi bebas. Semua bentuknya awal bebas, cuma apa pun pilihan Anda, langsung dibersamai niat,” beber Gus Baha.

Gus Baha menegaskan sesuatu yang tidak dibarengi dengan niat, maka hal tersebut tidak dihitung sebagai mulai fardhu.

“Misalnya ada orang junub, terus ada sisa-sisa mani langsung dia mandi Junub disiram, kan air yang melewati Mani tadi. Potensinya menjadi Mutaghoyyir (berubah) karena mani Tadi,” tutur Gus Baha.

***

Jika air tersebut menjadi Mutaghoyyir, maka air tersebut tidak memiliki kemampuan rof’ul janabah.

“Makanya halangan-halangan ini harus dihilangkan, dan kotoran yang berpotensi mengubah air harus kita hilangkan. Termasuk adat memakai sampo itu hentikan ya, bahaya itu,” tambah Gus Baha.

“Jadi misalnya nawaitu raf’al hadtsil Akbar terus kamu pakai sampo. Resikonya tadi semua proses ini Mutaghoyyir karena berbau sampo,” sambung Gus Baha.

Kecuali, lanjut Gus Baha, jika Anda dapat memastikan sampo itu bersih. Namun kemungkinan hal itu sangat kecil.

“Ya itu tadi buktinya, barangkali kamu menyangka mandi sudah selesai. Begitu Pakai handuk masih berbusa, lah masih berbusa, kan bukti semua air tadi kita berbau sampo, berarti statusnya Mutaghoyyir.”

Oleh karena itu, Gus Baha berpesan, untuk mandi junub tidak perlu memakai sabun atau sampo terlebih dahulu sampai selesai mandi junub. Setelah itu baru Bisa memakai sabun atau sampo itu.

“Jadi nanti seumpama tidak bersih-bersih banget, sudah selesai. Ya, jadi jangan sampai ada sesuatu yang seperti meniru mutaghoyyir,” pungkasnya.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply