GNA: Kesepakatan Damai Libya Tak Akan Tercapai Jika Haftar Terus Menyerang

 GNA: Kesepakatan Damai Libya Tak Akan Tercapai Jika Haftar Terus Menyerang

GNA Tegaskan Bahwa Kesepakatan Damai Libya Tidak Akan Tercapai Jika Haftar Terus Menyerang. Sehingga Membuat Situasi Semaki Gaduh

HIDAYATUNA.COM – Pada hari Selasa kemarin, pasukan dari komandan militer pemberontak Khalifa Haftar, telah menyerang pelabuhan utama di Ibukota Tripoli, sebuah tindakan yang mendorong Government of National Accord (GNA) Libya yang dipimpin oleh Perdana Menteri Fayez al-Sarraj untuk menangguhkan partisipasinya dalam proses negoisasi yang bertujuan untuk mencapai status gencatan senjata yang abadi.

Kepala dari pemerintahan Libya yang diakui secara internasional itu mengatakan bahwa serangan di Ibukota Tripoli yang dilakukan oleh pasukan militer di timur tersebut telah mengguncang proses negosiasi gencatan senjata yang diperantarai oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang akan lanjut mengurangi harapan untuk diadakannya perundingan kembali, menyusul penarikan dari pihaknya dalam perundingan sebelumnya.

Pada hari Rabu, Misi Dukungan PBB di Libya (UNSMIL), telah mengutuk serangan militer Haftar terhadap pelabuhan tersebut, dengan mengatakan bahwa hal itu dapat menyebabkan ‘bencana yang fatal’ jika kapal di dekatnya yang sedang mengangkut gas cair ikut terkena serangan mereka. Tetapi dia juga menambahkan bahwa pihaknya masih berharap proses perundingan antara al-Sarraj dan Haftar dapat dilanjutkan kembali.

“Misi (kami) menyerukan untuk diakhirinya seluruh tindakan eskalasi dan provokatif, terutama perluasan wilayah konflik, dan mendesak semua pihak untuk menggunakan dialog sebagai satu-satunya sarana untuk mengakhiri krisis (di Libya),” katanya.

Pada hari Selasa, Ghassan Salame, kepala dari UNSMIL, meluncurkan putaran kedua proses perundingan di Jenewa antara GNA, yang diwakili oleh lima orang perwira seniornya, dan lima orang lagi dari Libyan National Army (LNA) yang ditunjuk langsung oleh Haftar untuk ikut serta.

Perlu diketahui, pada bulan April tahun lalu, LNA telah melancarkan serangan-serangan militernya yang bertujuan untuk merebut Ibukota Tripoli. Pertempuran sengit yang telah menewaskan lebih dari 1.000 orang dan memaksa 140.000 orang untuk mengungsi itu selama ini telah berakhir dengan kegagalan LNA untuk menembus pertahanan Tripoli yang diduduki oleh GNA.

Serangan di pelabuhan itu adalah pelanggaran terbaru dalam status gencatan senjata yang mulai berlaku pada tanggal 12 Januari, sebuah status yang ditengahi oleh Rusia, yang mendukung LNA yang dipimpin oleh Haftar, dan Turki, yang mendukung GNA yang dipimpin oleh al-Sarraj.

Pada hari Rabu, selama kunjungannya ke pelabuhan yang telah diserang oleh Haftar, al-Sarraj menolak keras seruan-seruan untuk segera kembali ke meja perundingan.

“Harus ada sinyal kuat dari semua pemain internasional yang ingin mencoba berbicara dengan kami,” katanya kepada wartawan. Dia juga mengatakan bahwa ini juga berlaku untuk diskusi paralel yang difokuskan pada masalah politik dan ekonomi.

Menurutnya ada kemungkinan bahwa pertempuran akan terus berlanjut dengan mengatakan, “Kami memiliki sinyal yang lebih kuat daripada hal itu (perundingan), yakni membela rakyat kami.”

GNA juga mengatakan dalam sebuah pernyataannya pada hari Selasa malam, bahwa tanpa adanya status gencatan senjata yang abadi, ‘negosiasi itu tidak masuk akal’.

“Tidak akan ada perdamaian di bawah serangan-serangan (yang terus berlangsung),” katanya.

“Sangat jelas tujuan serangan-serangan yang sistematis di daerah perumahan, bandara dan pelabuhan, di samping blokade total dari fasilitas dan ladang minyak, adalah untuk memprovokasi krisis bagi seluruh warga negara (Libya) dalam semua aspek kehidupan mereka,” tambahnya.

Dia menambahkan bahwa setelah kegagalannya merebut kekuasaan, pasukan Haftar terus ‘melakukan usaha yang sia-sia’ dalam mengacaukan negara mereka (Libya). (Aljazeera.com)

Redaksi

Terkait

Leave a Reply