Gizi Buruk Terus Teror Kehidupan Anak-Anak di Yaman

 Gizi Buruk Terus Teror Kehidupan Anak-Anak di Yaman

Gizi Buruk Terus Teror Kehidupan Anak-Anak di Yaman (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Krisis yang dialami Yaman akibat perang memunculkan beberapa dampak negatif bagi rakyat Yaman, terutama masalah kelaparan dan gizi buruk pada anak-anak. Anak-anak berada di tenda pengungsian hidup dalam kondisi memprihatinkan.

Reuters dalam laporannya menjelaskan, kekurangan gizi pada anak di masa perang dan pasca perang sudah terjadi beberapa tahun terakhir. Kekurangan gizi semakin memburuk, jika pertempuran kembali terulang, atau dana kemanusiaan tidak lagi ada.

“Dampak dari minggu-minggu pertama gencatan senjata sudah signifikan,” kata Erin Hutchinson, Direktur Yaman untuk Dewan Pengungsi Norwegia dikutip Senin (25/04/2022).

Kelompok tersebut telah mampu memberikan bantuan kepada 12.000 orang di satu kabupaten di provinsi Hajjah yang belum terjangkau selama lebih dari tiga tahun. Lebih dari tujuh tahun konflik di Yaman telah menghancurkan ekonomi.

Konflik juga membuat jutaan orang terlantar dan mendorong harga pangan di luar jangkauan banyak orang. Lonjakan harga bahan pokok dan komoditas global menambah keprihatinan rakyat Yaman.

“Puluhan juta orang di Yaman hidup dari mulut ke mulut,” kata Richard Ragan dari Program Pangan Dunia (WFP), yang mencoba memberi makan setengah dari 30 juta orang Yaman di salah satu program terbesarnya.

Balita di Kamp Pengungsian dalam Kondisi Darurat

Akibat kekurangan gizi seorang balita, Jiad Jalal yang berusia satu tahun kulitnya kering dan berkerut di atas tengkorak, tungkai, dan perutnya yang menonjol. Balita itu tinggal di kamp pengungsian darurat di Khadish, Hajjah, salah satu daerah termiskin di Yaman.

Menurut perkiraan PBB sebelum gencatan senjata, Jalal adalah salah satu dari 2,2 juta anak balita dari jumlah 538.000 yang kekurangan gizi parah tahun ini.

“Kami hanya makan apa yang bisa kami dapatkan dari lembaga bantuan. Gandum, kacang-kacangan dan barang-barang semacam itu. Jika kami tidak menerima makanan, maka suatu hari kami makan, dan hari-hari lain kami kelaparan,” kata neneknya, Zahra Ahmed.

“Kami terjebak antara lapar dan lelah. Lihat anak-anak,” tambahnya. Ia menunjuk ke Jalal kecil yang tidak mampu mereka bawa ke ibu kota, Sana’a, untuk perawatan.

Kelaparan dan kekurangan gizi memburuk kondisi kondisi rakyat Yaman saat ini. Data PBB bulan Maret menunjukkan bahwa, antara Juni dan Desember, mereka yang tidak dapat mengamankan nutrisi minimum akan mencapai angka tertinggi baru 19 juta, naik dari 17,4 juta saat ini

Jumlah yang mengawatirkan dapat terus meningkat. Hal tersebut dapat dilihat dari 31.000 menjadi 161.000 orang, kata analisis Klasifikasi Fase Ketahanan Pangan Terpadu PBB.

Romandhon MK

Peminat Sejarah Pengelola @podcasttanyasejarah

Terkait

Leave a Reply