Doa Buka Puasa Allahumma Laka Shumtu yang Dituduh Daif

 Doa Buka Puasa Allahumma Laka Shumtu yang Dituduh Daif

Ketupat Lambang Kebersihan Hati karena Cahaya Ilahi (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Benarkah doa buka puasa “Allahumma Laka Shumtu” yang sudah populer di kalangan Nahdliyyin daif? Beberapa orang bahkan kelompok pun menawarkan doa lain yang sahih menurut mereka.

Puasa itu waktu yang tepat untuk banyak-banyak ibadah, bukan menghujat atau menyalahkan. Apalagi saat-saat berbuka puasa adalah momentum tepat untuk berdoa kepada Allah.

Orang yang berbuka puasa ini diberi kemakbulan doa sebagaimana dalam hadis:

«ﺇِﻥَّ ﻟِﻠﺼَّﺎﺋِﻢِ ﻋِﻨْﺪَ ﻓﻄﺮﻩ ﻟَﺪَﻋْﻮَﺓً ﻣَﺎ ﺗُﺮَﺩُّ»

“Sungguh bagi orang yang berpuasa -saat berbuka- memiliki doa yang tidak akan tertolak.” (HR Ibnu Majah)

Hadis ini memiliki 3 jalur yang menguatkan antara satu dengan lainnya yang saya kutip dari sesama kelompok mereka, Syekh Syuaib Al Arnauth. Sebab, saat berbuka adalah waktu istijabah dalam berdoa maka boleh pakai doa apa saja.

Mau doa dari Nabi, doa sendiri atau apa pun. Sebab doa tidak ada syarat harus sahih atau dhaif.

Doa Rasulullah Saw Saat Buka Puasa

Terkait tuduhan daif dari pengikut Syekh Albani, maka saya sertakan penilaian sebaliknya dari sesama mereka. Simak saja penjelasan berikut:

عَنْ مُعَاذِ بْنِ زُهْرَةَ أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ « اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْق��كَ أَفْطَرْتُ ». (رواه أبو داود)

Telah sampai kepada Muadz bin Zuhrah bahwa jika Nabi shalallahu alaihi wasallam berbuka maka berdoa: “Ya Allah, hanya untuk Mu aku berpuasa, atas rezeki-Mu aku berbuka.” (HR Abu Dawud)

Doa ini dituduh bidah oleh sebagian kalangan lantaran statusnya adalah daif. Benarkah? Maka jawabannya adalah tidak benar. Sebab hadis ini memiliki banyak jalur, misalnya sebagai berikut :

(1) Dalam riwayat Thabrani di kitab Mu’jam Ausath, di dalamnya ada perawi Dawud bin Zabarqan, ia daif

(2) Riwayat Thabrani dalam Mu’jam Kabir, di dalamnya ada perawi Abdul Malik bin Harun, ia daif (Majma’ Az-Zawaid 3/204).

Kendati daif, ulama Salafi lainnya berkata dan menegaskan hadis ini memiliki banyak Syawahid:

تعقيب : قال عبد القادر الأرناؤوط 1 / 162 : و لكن له شواهد يقوى بها (روضة المحدثين – ج 10 / ص 304)

 

Catatan: Abdul Qadir Al-Arnauth berkata: “Namun hadis ini memiliki banyak riwayat eksternal yang menguatkannya.” (Hamisy Raudlah Al-Muhadditsin, 10/304)

Ma'ruf Khozin

Terkait

Leave a Reply