Diplomasi Abdul Muthalib Kakek Rasulullah dengan Raja Abrahah

 Diplomasi Abdul Muthalib Kakek Rasulullah dengan Raja Abrahah

Diplomasi Abdul Muthalib Kakek Rasulullah dengan Raja Abrahah

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Ulama muda ‘alim sekaligus pakar turats klasik Islam, Gus Baha atau KH. Ahmad Bahauddin Nursalim mengkisahkan bagaimana cara diplomasi yang dilakukan kakek Nabi Muhammad SAW yakni Abdul Muthalib dengan Raja Abrahah saat Ka’bah akan dihancurkan.

Gus Baha menjelaskan bahwa sosok Abdul Muthalib kakek Rasulullah ini memiliki tingkat keimanan yang luar biasa tinggi.

Saya cerita sedikit betapa pentingnya tauhid. Ketika pasukan Abrahah membawa Pasukan Gajah saat mau menyerang Ka’bah,” ungkap Gus Baha saat mengisi pengajian di PBNU dalam potongan video yang diunggah akun Facebook Sinau Urip dikutip Hidayatuna.com, Sabtu (11/7/2020).

Menurut Gus Baha, pasukan Abrahah sebelum melakukan penyerangan, semua aset-aset milik orang Quraish ditawan dan diambil. Termasuk harta milik Abdul Muthalib.

Dialog Abdul Muthalib dengan Raja Abrahah

Sebelum masuk Ka’bah atau saat hendak masuk ke Makkah, Raja Abrahah bertanya kepada penduduk di sana, Man sayyidul hadzal wadi? Siapa yang kamu tuakan, (atau siapa) yang kamu pertuan di sini?” kata Abrahah.

“Abdul Muthalib,” jawab orang Quraish.

Maka Abdul Muthalib pun kemudian dipanggil. Abdul Muthalib adalah sosok pemimpin Quraish yang memiliki aura luar biasa berwibawa.

Hal ini membuat Abrahah yang berada di tempat perkemahannya dalam posisi duduk di atas, karena ia seorang raja, membuatnya tidak berani untuk duduk di atas.

Saking wibawanya Abdul Muthalib. Ini kakeknya Rasulullah SAW” ujar Gus Baha.

Akhirnya Abrahah bilang begini kepada Abdul Muthalib, “Saya duduk di bawah gak mungkin, karena saya raja. Kamu duduk bersanding (juga) ndak mungkin, karena nanti umat saya kecewa, (masak) raja disaingin begitu.

Ya sudah sambil berdiri saja kita berbicara,” kata Abrahah.

Kemudian Raja Abrahah bicara dengan Abdul Muthalib dan berkata, “Saya ini tidak ingin merusak orang-orang Mekkah, orang-orang Quraish. Saya hanya kecewa punya tempat ibadah (al Qulays) dikencingi, diberakin. Sehingga saya ingin merobohkan Ka’bah. Tapi dengan damai, gak ada perang.”

Apa jawabanya Abdul Muthalib? “Ndak apa-apa Ka’bah kamu robohkan, ndak apa-apa. Yang penting unta saya yang kamu sita, kembalikan. Harta saya yang seratus unta yang kamu sita kembalikan.”

Raja Abrahah Heran dengan Jawaban Abdul Muthalib

Mendengar pernyataan tersebut, Abrahah benar-benar dibuat kaget bukan main. “Kamu itu pemimpin (macam) apa? Tadi saya hormat ke kamu, karena kamu orang hebat. Hazdihil ka’bah dinnu abaika, ini Ka’bah itu agama kamu. Pas saya hancurkan, kok kamu tenang-tenang saja,” kata Abrahah.

“Pas mau saya hancurkan kamu tenang-tenang saja. Malah tanya unta kamu. Kamu itu bagaimana?” sambung Abrahah.

Apa jawabnya Abdul Muthalib? Inna lihazdal baiti robban khamahu. Sebab Ka’bah itu ada yang punya. Dan (yang punya) pasti akan melindungi Ka’bah. Tapi kalau unta ini milik saya. Ini unta urusan saya ini. Jadi Inna lihazdal baiti robban khamahu, itu (Ka’bah) ndak milik saya, itu ada yang punya. Ya sudah biarkan yang punya saja yang jaga. Itu ndak urusan saya.

Akhirnya apa kata Gus Baha? Unta milik Abdul Muthalib dan harta benda orang Quraish dikembalikan. Sehingga aman hartanya.

Setelah itu Abdul Muthalib kemudian bergegas pergi ke Ka’bah dan menghadap ke halaqotil bab. “Fa akhodhal halaqotil bab.”

Halaqotil bab karena dulu itu yang dipakai pegangan (Ka’bah) bentuknya bulat. Makanya diistilahkan halaqoh,” ujar Gus Baha.

Abdul Muthalib Berdoa di Kabah

Lantas dipeganglah halaqotil bab Ka’bah itu. Kemudian Abdul Muthalib berkata begini, “Ya Allah, Ka’bah ini mau dihancurkan oleh Abrahah. Ka’bah ini milik Kamu. Saya mau ke gunung, mau lihat apa yang Engkau lakukan terhadap orang yang mau merusak Ka’bah.”

Setelah itu, Abdul Muthalib mendatangi umatnya dan mengajak mereka naik ke gunung. “Ayo kita ke gunung, melihat ma fa’ala robbuna, apa yang akan dilakukan Tuhan kita terhadap orang yang akan menghancurkan Ka’bah,” ajak Abdul Muthalib.

Jadi lanjut Gus Baha, dalam situasi seperti Abdul Muthalib tetap santai saja. Ia kemudian naik gunung bersama orang-orang Quraish. Sementara itu, Abrahah sudah datang dan hendak merusak Ka’bah.

“Terus terjadi alam taro kaifa fa’ala robbuka biashabil fil. Itu (Abdul Muthalib) melihat. Dan betul, Ka’bah dijaga Allah,” tandasnya.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply