Puasa Selama Ramadan Dipercaya Meningkatkan Imunitas Tubuh

 Puasa Selama Ramadan Dipercaya Meningkatkan Imunitas Tubuh

HIDAYATUNA.COM – Seperti yang kita semua ketahui, puasa bulan Ramadan di tahun tidak akan sama seperti di tahun-tahun sebelumnya, pada tahun ini puasa Ramadan akan berlangsung di bawah bayang-bayang pandemi COVID-19.

Bulan Ramadan, yang dimulai pada tanggal 24 April, akan dijalankan dengan berpuasa, beribadah, dan pengabdian kepada Allah selama sebulan penuh. Di bulan ini juga akan diperingati pertama kalinya Al Qur’an diungkapkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Umat Muslim yang cukup sehat untuk melakukannya, diwajibkan untuk berpuasa (tidak makan atau minum cairan sama sekali) dimulai dari matahari terbit sampai matahari terbenam, selama sebulan penuh. Selain sebagai bulan untuk merefleksi diri, secara tradisi, Ramadan akan menyatukan orang-orang di malam harinya untuk makan dan beribadah.

Masjid-masjid di seluruh dunia biasanya akan menjadi tempat yang paling sibuk selama satu bulan ini. Namun, akibat pandemi COVID-19, banyak dari mereka telah menutup pintu untuk para jamaahnya, ditambah lagi dengan aturan isolasi diri dan social distancing yang diterapkan untuk mencegah penyebaran virus corona, menjadikan Ramadan pada tahun ini akan sangat berbeda bagi banyak umat Muslim di seluruh dunia.

Tetapi bagaimana dengan implikasi kesehatan dari menjalani Ramadan di bawah status lockdown dan juga di bawah bayang-bayang pandemi virus corona?

Bisakah puasa mempengaruhi peluang seseorang untuk terkena virus corona?

Faktanya, puasa diyakini bermanfaat bagi tubuh dalam beberapa hal, termasuk melalui efeknya pada peningkatan sistem imunitas atau kekebalan tubuh kita. Ada kemungkinan bahwa nenek moyang kita telah menemukan manfaat dari puasa: Seperti halnya selama bulan Ramadan dalam kalender Muslim, puasa juga dijalankan oleh umat Kristen pada bulan Prapaskah menjelang Paskah, dan selama Yom Kippur bagi umat Yahudi.

Ada juga sebuah bukti bahwa orang Mesir kuno berpuasa dalam waktu yang lama untuk membersihkan tubuh mereka dari penyakit.

Baru-baru ini, penelitian telah menunjukkan bahwa berpuasa sebenarnya dapat memiliki efek menguntungkan pada sistem kekebalan tubuh dengan mengurangi jumlah peradangan umum yang dapat terjadi pada sel-sel di seluruh tubuh.

Berpuasa dianggap menempatkan tubuh ke dalam ‘mode konservasi energi’ karena kurangnya nutrisi yang masuk. Dalam upayanya untuk menghemat energi, tubuh akan mendaur ulang banyak dari sel imun yang lama atau telah rusak, yang kemudian akan mempromosikan sel-sel generasi baru, sel-sel imun yang lebih sehat ketika periode puasa telah berakhir.

Sel-sel baru ini akan lebih cepat dan lebih efisien dalam memerangi segala macam infeksi sehingga kekebalan keseluruhan akan meningkat.

Kunci utama yang membedakan puasa Ramadan dari diet yang mempromosikan penurunan berat badan melalui rezim puasa intermiten, adalah pantang dari masuknya air minum. Ini mungkin yang akan membuat semuanya jadi berbeda.

Meskipun sebuah penelitian telah menunjukkan bahwa puasa air putih yang berkepanjangan melebihi 12 hingga 24 jam dapat memiliki sedikit efek merusak pada sistem kekebalan tubuh, yang akan menempatkan anda pada sedikit peningkatan risiko terkena segala jenis infeksi, penelitian itu juga menunjukkan bahwa kekebalan tubuh akan kembali lagi ke keadaan yang lebih baik segera setelah makan dan minum lagi.

Memang, studi ini tidak melihat secara spesifik puasa yang terjadi di bulan Ramadan, tetapi studi terpisah menunjukkan bahwa puasa Ramadan memiliki manfaat kesehatan yang sebanding dengan jenis puasa lainnya. Ini datang dengan peringatan bahwa anda harus tetap memiliki pola makan yang sehat di masa-masa antara puasa itu: Kita semua tahu bahwa bagi orang yang berpuasa, akan ada kecenderungan untuk terlalu banyak mengonsumsi makanan goreng-gorengan seperti samosa dan pakora selama mereka berbuka, dan itu tentu saja tidak akan membantu sedikit pun dalam sistem kekebalan tubuh.

Waktu berpuasa sendiri akan bervariasi panjangnya tergantung pada di bagian mana seseorang tinggal di dunia, dan tahun berapa serta bulan Ramadan jatuh, tetapi bukti menunjukkan bahwa berpantang makan dan minum hingga 12 jam dapat memiliki efek menguntungkan secara keseluruhan pada sistem imun anda.

Sangat penting untuk ditekankan bahwa dalam kepercayaan agama Islam, puasa hanya diwajibkan dari mereka yang cukup sehat untuk menjalankannya, dan puasa tidak boleh digunakan hanya untuk sebagai cara meningkatkan sistem kekebalan tubuh anda.

Karena ini akan menjadi Ramadan pertama kita di tengah pandemi virus corona, tidak mungkin untuk mengetahui apakah puasa dapat menawarkan tingkat perlindungan terhadap wabah tersebut, dan meskipun itu tidak di luar kemungkinan, sangatlah penting untuk tetap berpegang teguh pada hal-hal yang kita tahu akan berhasil: yaitu social distancing, mencuci tangan, kebersihan dan isolasi diri. (Aljazeera.com)

Redaksi

Terkait

Leave a Reply