Di Tengah Pandemi COVID-19, ISIS Lancarkan Serangan-Nya di Suriah

 Di Tengah Pandemi COVID-19, ISIS Lancarkan Serangan-Nya di Suriah

HIDAYATUNA.COM – Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (HAM), mengatakan bahwa pasukan pro-pemerintah Suriah, yang didukung oleh serangan udara dari aviasi milik Rusia, telah berjuang mati-matian melawan pejuang dari Negara Islam Irak dan Syam (ISIS), untuk mencegah mereka memasuki kota gurun Al-Sukhna.

Bentrokan antara ISIS dan pasukan pro-pemerintah yang dibantu oleh serangan udara dari Rusia tersebut telah menewaskan 22 orang pejuang dari ISIS.

“Aviasi milik Rusia telah turun tangan untuk menghentikan para jihadis maju dan merebut kembali kota itu,” kata Rami Abdel Rahman, kepala Observatorium Suriah untuk HAM.

Namun, pada malam harinya, ISIS berhasil menerobos dan memasuki daerah-daerah di kota Al-Sukhna, dan mengambil kendali atas beberapa lingkungan sekitar di daerah tersebut, tambah Abdel Rahman.

Seperti yang diketahui, pasukan pro-pemerintah Suriah telah merebut kendali kota Al-Sukhna dari kelompok militan itu pada tahun 2017.

Serangan pada hari Kamis itu adalah serangan yang paling mematikan yang pernah dilancarkan oleh ISIS di daerah itu sejak bulan Desember lalu, ketika para pejuang ISIS menyerang sebuah garnisun tentara di sebuah fasilitas gas yang terletak di sebelah timur kota Homs, yang berakhir dengan tewasnya empat warga sipil dan 13 orang tentara atau milisi, kata Abdel Rahman.

Pada tahun 2014, ISIS telah memproklamasikan ‘kekhalifahan’ di beberapa bagian dari negara Suriah dan Irak.

Setelah bertahun-tahun melakukan berbagai serangan terhadapnya, akhirnya pasukan yang didukung Amerika Serikat (AS) berhasil mengusir kelompok tersebut dari wilayah terakhirnya di Suriah bagian timur satu tahun yang lalu.

Namun, kehadiran dan serangan-serangan mematikan dari ISIS masih tetap bisa dirasakan di gurun Badia, sebuah gurun yang membentang di sepanjang negara Suriah melalui provinsi Homs dan ke timur ke perbatasan Irak.

Perlu diketahui, sejak dimulainya perang Suriah pada tahun 2011, yang ditengarai oleh penindasan yang brutal terhadap aksi protes anti-pemerintah, ratusan ribu orang telah tewas, dan jutaan orang lainnya kehilangan tempat tinggalnya di negara tersebut. (Middleeasteye.net)

Redaksi

Terkait

Leave a Reply