Dakwah Sunan Giri Memanfaatkan Media Tradisi dan Budaya

 Dakwah Sunan Giri Memanfaatkan Media Tradisi dan Budaya

HIDAYATUNA.COM – Lembaga Riset Islam Pesantren Luhur Sunan Giri Malang dalam Sejarah dan Dakwah Islamiyah Sunan Giri (1975), menemukan jejak sejarah bahwa salah satu bidang dakwah yang digarap Sunan Giri adalah Pendidikan. Dalam usaha dakwah lewat Pendidikan, Sunan giri tidak sekedar mengembangkan sistem pesantren yang diikuti santri-santri dari berbagai daerah mulai Jawa timur, Jawa tengah, Kalimantan, Makasar, Lombok, Sumbawa, Sumba, Flores, Ternate, Tidore, dan Hitu, melainkan menggembangkan pula system Pendidikan masyarakat yang terbuka dengan menciptakan berbagai jenis permainan anak-anak seperti Jelungan, jamuran, Gendi Gerit, dan tembang-tembang permainan anak-anak seperti Padang bulan, jor, Gula Ganti, dan Cublak-cublak Suweng.

Bahkan, Sunan Giri diketahui mencipta beberapa tembang tengahan dengan metrum Asmaradhana dan Pucung yang sangat digemari masyarakat karena berisi ajaran ruhani yang tinggi.

Salah satu tembang permainan anak-anak ciptaan Sunan Giri adalah Padang Bulan, yang isinya: padang-padang bulan/ ayo gage do dolanan/ dedolanan neng latar/ ngalep padang gilar-gilar/ nindung begog hanga tikar.

Sunan Giri tidak segan mendatangi masyarakat dan menyampaikan ajaran Islam di bawah empat mata.  Setelah keadaan memunginkan, dikumpulkanlah masyarakat sekitarnya dengan keramaian, misalnya, selamatan dan upacara-upacara lalu dimasukanlah ajaran Islam, sehingga suasana lingkungan lambat laun dan dengan cara-cara yang lunak mengikuti ajaran Islam, yang diterima sebagai kewajaran. Menurut R. Pitono dalam Tentang Sistem Pendidikan di Pulau Djawa Abad XVII-XVIII (1962), Pendidikan serupa ini, dalam dunia Islam dikenal dengan nama tabligh.

Sejalan dengan penelitian Lembaga riset Islam Pesantren Luhur Sunan Giri Malang, Aminuddin Kasdi dalam kepurbakalaan Sunan Giri: Sosok Akulturasi kebudayaan Jawa, Hindu dan Islam pada Abad ke-15-16 (1987), menegaskan bahwa Peranan Sunan Giri dalam Penyebaran Agama Islam adalah melalui jalan Pendidikan, politik, dan kebudayaan, yang tidak dapat dilepaskan hubungannya dengan kebijaksanaan para wali lainya. Kedudukan Sunan giri sebagai kepala wilayah suatu kekuasaan politisi, tampak dari gelar prabu satmata yang di sandang Raden Paku. Gelar prabu menunjuk pada kekuasaan politis, sedangkan nama Satmata adalah salah satu nama Dewa Suiwa, yaitu nama yang menandai sebuah kekuasaan bersifat Syiwais: ajaran yang paling banyak dianut masyarakat  Majapahit dewasa itu.

Raden paku, selain dikenal dengan gelar Prabu Satmata, juga mashyur dengan gelar Sunan Giri yang dalam Bahasa Jawa Kuno bermakna “Raja Giri” yang semakna dengan gelar Girinatha, yaitu nama Dewa Syiwa. Sebutan sunan pada nama Sunan Giri, berasal dari kata susuhunan: sapaan hormat kepada raja yang memiliki makna “Paduka yang Mulia” (Zoetmulder 1982) dan sekaligus sebutan hormat untuk guru suci yang memiliki kewenangan melakukan dilksha (baiat ) bagi murid-murid ruhaninya.

Dalampenelitian Tim Balitbangda Kabupaten Gresik berjudul kajian sejarah Kyai Tumenggung Pusponegoro Bupati Gresik (2008) disebutkan bahwa keberadaan seorang penguasa, yaitu Bangsal dan Puri. Yang dimaksud Bangsal adalah pusat kekuasaan raja, yaitu sebuah kompleks perkantoran tempat raja bekerja menjalankan tugas sebagai kepala negara dan sebagai pemegang otoritas hukum dan keagamaan. Di kopleks Bangsal ini, raja menerima tamu negara, memimpin rapat para mentri, menerima persembahan upeti-upeti dan hadiah-hadiah, menjatuhkan keputusan-keputusan hukum, dan sebagainya.

Bangsal-bangsal tersebut dinamai sesuai fungsi masing-masing, seperti Bangsal Sri Manganti, Bangsal Manguntur Bangsal Sasana Sewaka, Bangsal Witana, Bangsal Panangkilan, dan Bangsal Pncaniti. Menurut Kajian toponimis penelitian Tim Balitbangda tersebut, Desa Menganti yang terletak di kecamatan Menganti Kabupaten Gresik, dulunya adalah bangsal utama yang menjadi pusat pemerintah Sunan Giri. Dan, sebagaimana lazimnya pemerintahan saat itu, di dekat Bangsal Sri Manganti terdapat kantor patih (Menteri utama/perdana mentteri) yang disebut kepatihan, yang saat ini tersisa menjadi Desa Kepatihan, yang terletak di sebelah utara Desa Menganti.

Kediaman pribadi raja dan keluarga raja yang disebut Puri, adalah suatu kompleks tempat raja menjalankan fungsi sebagai pemimpin keluarga sekaligus pemimpin adat dan tradisi. Di kompleks puri, selain terdapat kediaman raja dan keluarga, juga terdapat keputrian, tamansari, Gedung perbendaharaan raja, punggawa pengawal raja, juga terdapat kedhaton, makam dhatu leluhur raja, dan sebagainya. Nurhadi, dalam penilitian berjudul Tataruang Permuliman giri : Sebuah Hipotesa atas Hasil penelitian di Giri (1982), menggambarkan bagaimana puri kediaman Sunan Giri beserta keluarganya yang terletak di bukit Giri, yang pusatnya terletak di kedhaton. Pemilihan lokasi Kedhaton Giri ditandai candrasengkala “tinggali luhur dadi ratu” yang mengandung makna tahun 1402 Saka, yang sama dengan tahun 1479 Masehi, dan pembangunanya ditandai candrasengkala “tingali luhur dadi ratu” yang bermakna tahun 1403 Saka atau 1480 Masehi.

Bertolak dari keberadaan Bangsal Sri Manganti, Puri Kedhaton dan gelar Prabu Satmata atau Sunan Gir, keberadaan tokoh anggota Wali songo yang bernama pribadi Raden Paku atau Jaka Samudra itu dapat dipastikan, bukan saja seorang ulama penyebar Islam, melainkan juga seorang penguasa politik di wilayahnya. Kedudukan ganda Sunan Giri ini, oleh Sunan Ampel disebut sebagai “noto” dan “pandhito”, atau yang lazim digunakan masyarakat dewasa itu adalah sebutan “Pandhito Ratu”. Dengan kedudukan ganda sebagai ruhaniawan (pandhito) sekaligus raja (ratu), usaha dakwah islam yang dilakukan Sunan Giri jauh lebih luas dan lebih leluasa disbanding jika Sunan Giri hanya berkedudukan sebagai ruhaniwan. Menurut M. Ali dalam Sedjarah Perjuangan Feodal Indonesia (1963), peran raja-raja dalam membantu usaha dakwah Wali Songo dalam menyiarkan Agama Islam sangat besar, yang salah satu di antara raja-raja tersebut adalah Sunan Giri.

 Di dalam Literature of Java (1967-1980) Th. G.Th. Pigeaud menyebutkan bahwa pada tahun 1485 M, Prabu Satmata membangun kedhaton di puncak bukit. Pada tahun 1488 M, Prabu Satmata membangun Kedhaton di puncak bukit. Pada tahun 1488 M, Prabu Satmata membangun kolam, yang mungkin lengkap dengan balai kecil, yang biasanya disebut bale kambang. Bangunan “taman air” itu sejak dahulu kala merupakan bagian dari kompleks Istana Raja di Jawa. Memiliki taman semacam itu tentu menambah wibawa dan kekuasaan pemimpin agama pertama di Giri tersebut. Selanjutnya Th.G.Th Pigeaud dalam Javaansche Volksvertoningen (1938), menambahkan bahwa Prabu Satmata adalah orang pertama di antara ulama yang membangun tempat khalawat dan makam di atas bukit. Tempat keramat diatas gunung merupakan sesuatu yang penting dalam kehidupan keagamaan sejak sebelum zaman Islam di Jawa Timur.

H.J. De Graaf dan Th.G.Th. Pigeaud dalam Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa Peralihan dari Majapahit ke Mataram (1985), menyimpulkan bahwa Prabu Satmata dari Giri dan ibu angkatnya yang sudah beragama Islam, Nyai Gede Pinatih dari Gresik, berperan besar dalam pembentukan masyarakat beragama Islam di Gresik sebagaimana di Surabaya dilakukan oleh Sunan Ampel. Tindakan Prabu Satmata dari Giri itu dapat dianggap sebagai suatu usaha memantapkan dan menguatkan pusat keagamaan dan kemasyarakatan ini, bagi kepentingan para pedagang Islam yang sering kurang semangat agamanya. Biasanya mereka adalah keturunan asing dan berasal dari golongan menengah yang berada atau kurang berada, dan mungkin sejak abad ke -14 sudah bertempat tinggal di kota-kota atau kota-kota kecil di Jawa.

Dari kedhatonnya yang terletak di bukit Giri, Sunan Giri mengembangkan dakwah Islam melalui Pendidikan masyarakat dengan memanfaatkan seni pertunjukan yang sangat menarik minat masyarakat. Sunan Giri tidak saja dikenal sebagai pencipta tembang-tembang dolanan anak-anak, tembang tengahan dengan metrum Asmaradhana dan Pucung yang sangat digemari masyarakat, melainkan telah pula melakukan perubahan reformatif atas seni pertunjukan wayang. R.M. Sajid dalam  Bau Warna Wajang menyatakan bahwa Sunan Giri memiliki peranan besar dalam melengkapi hiasan-hiasan wayang seperti kelat bahu (gelang hias di pangkal lengan), gelang, keroncong (gelang kaki), anting telinga, badong (hiasan pada punggung), zamang (hiasan kepala) dan lain-lain.

Selain itu, Sunan Giri juga mengarang lakon-lakon wayang lengkap dengan suluknya. Bahkan, tambahan tokokh-tokoh wayang dari golongan wanara (kera) juga dilakukan Sunan Giri sehingga selain tokoh wanara Hanoman, Sugriwa, Subali, Anila, Anggada, dan Anjani, dibikin wayang-wayang wanara baru seperti Kapi Meda, Kapi Sraba, Kapi Anala, Kapi Jembawan, Kapi Winata, Urahasura, dan lain-lain.

Kebesaran Prabu Satmata Sunan Giri sebagai seorang penguasa yang berhasil membawa kemakmuran bagi masyarakat muslim di Gresik terlihat pada masa kekuasaan Pangeran Zainal Abidin di daerah agraris di pedalaman. Pangeran Zainal Abidin diketahui Tome Pires sebagai penguasa Islam tertua di kota-kota pesisir Jawa tengah dan Jawa timur, yang bersahabat baik dengan Pate Rodim tua (Raden Patah ) dan Pate Rodim muda ( Sultan Trenggana), penguasa Demak. Oleh karena jasa-jasanya yang sangat besar dalam pengembangan Islam.

Puncak kejayaan Giri ditandai dengan naiknya cucu Sunan Giri bernama Pangeran Pratikha yang masyhur di sebut Sunan Giri Prapen. Sebab, saat itu tidak sekedar memperbaiki dan memperbesar kedhaton dan masjid Giri serta makam Prabu Satmata, dakwah Islam pun dikembangkan sampai ke Kutai, Gowa, sumbawa, Bima, bahkan ke maluku. Meski Tindakan-tindakan besar dalam dakwah dilakukan Sunan Giri Prapen, keagungan, kehormatan, kemuliaan, dan kewibawaan rohani tetap diberikan kepada Sunan Giri Prabu Satmata yang sampai saat ini makamnya dijadikan tempat peziarahan oleh umat islam.

Sumber : Atlas Wali Songo

Redaksi

Terkait

Leave a Reply