Ciri-Ciri dan Doa Agar Terhindar dari Su’ul Khatimah

 Ciri-Ciri dan Doa Agar Terhindar dari Su’ul Khatimah

Doa Agar Terhindar dari Su’ul Khatimah (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, KH. Ahmad Idris Marzuqi (alm) menjelaskan ciri-ciri seseorang yang mendapatkan su’ul khotimah kelak di akhir hayatnya. Salah satunya faktor penyebab su’ul khotimah adalah berburuk sangka (suudzon) kepada orang lain.

Kiai Marzuqi mengingatkan agar menghindari berburuk sangka kepada orang lain, meskipun dalam kenyataan orang tersebut memang memiliki kejelekan. Memiliki kejelekan saja tidak boleh suudzon, apalagi jika itu tidak benar.

“Jangan mudah berprasangka jelek kepada orang lain. Sebab bersangka jelek pada orang lain dapat menimbulkan rasa benci, takabur, dengki, ujub, ria, dan lain sebagainya,” ungkap Kiai Marzuqi dalam Pengajian Al Hikam Lirboyo yang disampaikan ulang ulang akun Twitter @sejarahulama, dikutip Senin (25/04/2022).

“Sebaiknya, kita menjadi orang yang Husnudzan. Dengan berhusnudzan, baik itu benar atau salah, kita akan mendapatkan pahala. Berbeda dengan su’udzan, benar mendapat dosa, apalagi tidak benar Maka sebaiknya jadilah orang yang berhusnudzan saja,” tambahnya.

Kiai Marzuqi mengatakan jika seseorang pekerjaannya membenci kepada orang lain, atau sering bertengkar dengan orang lain, su’udhan kepada orang lain, berarti itu tanda-tanda dari su’ul khatimah. “Naudzubillah min dzalik,” katanya.

Asbabi su’il khotimah juga diterangkan dalam kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam Ghazali. “Untuk mengetahui orang yang wafat Su’ul Khotimah dan Khusnul Khatimah, bisa dilihat dari perilakunya,” kata Kiai Marzuqi.

Do’a agar terhidar dari Su’ul Khatimah

Imam Ghazali mengutarakan di dalam kitabnya agar terhidar dari su’ul khatimah adalah dengan membaca doa ini setiap ba’da shalat sebanyak tujuh kali yang berbunyi:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”. (QS: Ali Imran: 8)

“Disuruh untuk membaca rabbana la tuzikh qulubana ba’da idzhadaitana wahablana min ladunka rahmah innaka antal wahhab. Setiap habis shalat dibaca tujuh kali,” kata Kiai Marzuqi.

Romandhon MK

Peminat Sejarah Pengelola @podcasttanyasejarah

Terkait

Leave a Reply