Bolehkah Menyembah Makhluk dengan Niat Menyembah Sifat Allah?

 Bolehkah Menyembah Makhluk dengan Niat Menyembah Sifat Allah?

Menyembah hanya pada Allah atas sifat-sifat yang Dia miliki (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Allah Maha Tunggal dalam mengatur alam semesta. Dia sama sekali tidak dibantu siapa pun dan ini semua tergambarkan dalam sifat-sifat kemuliaan-Nya.

Ketika orang kafir memohon kesembuhan pada sesembahan-Nya, pada hakikatnya yang bisa memberi kesembuhan adalah Allah, bukan sesembahannya. Ini adalah hakikat yang dipahami oleh semua muslimin dan ini bukanlah rahasia yang hanya diketahui segelintir orang.

Akan tetapi yang harus dipahami dalam perspektif ini adalah perspektif Top-Down alias sisi tindakan dari Allah ke makhluk. Adapun aktivitas penyembahan adalah sisi bottom-up yang merupakan kebalikannya.

Penyembahan adalah tindakan makhluk untuk memilih siapa pihak yang ia jadikan objek sesembahan. Ketika dia memilih objek selain Allah, maka dalam islam itu disebut kufur atau syirik.

Semua muslim berakal harusnya tahu ini, tapi entah bagaimana bisa kelompok—yang menyebut dirinya sebagai ribath ini—menyatakan tidak masalah menyembah orang yang bisa menghidupkan. Mereka membawa dalil bahwa sifat menghidupkan hanya dimiliki Allah?

Ini sungguh kesesatan yang nyata. Ingat, yang kita bahas di sini adalah menyembah orang, bukan menyembah Allah.

Nalar sesat mereka sebenarnya sama persis dengan nalar yang dipakai orang Kristen yang menyembah Yesus. Umat kristiani berdalih bahwa Yesus adalah kalimatullah alias salah satu sifat Allah.

Nalar Samiri Ketika Menyembah Berhala

Lalu, ayat manakah dalam Alquran yang menganggap tindakan mereka benar? Justru dengan gamblang Allah menyalahkan mereka dalam banyak ayat.

Saya kira tidak perlu saya kutip ayat-ayatnya sebab terlalu umum diketahui. Nalar yang sama persis juga dipakai oleh Samiri yang diceritakan dalam ayat Thaha: 96 berikut.

قَالَ بَصُرۡتُ بِمَا لَمۡ يَبۡصُرُواْ بِهِۦ فَقَبَضۡتُ قَبۡضَةٗ مِّنۡ أَثَرِ ٱلرَّسُولِ فَنَبَذۡتُهَا وَكَذَٰلِكَ سَوَّلَتۡ لِي نَفۡسِي

“Dia (Samiri) menjawab, “Aku mengetahui sesuatu yang tidak mereka ketahui, jadi aku ambil segenggam (tanah dari) jejak Rasulullah (Jibril) lalu aku melemparkannya (ke dalam api itu), demikianlah nafsuku membujukku.”

Dalam ayat itu, Samiri dikisahkan melihat rahasia yang tidak dilihat oleh orang lain. Dia tahu bahwa jejak kaki kuda yang ditunggangi oleh Jibril menyebabkan munculnya kehidupan (tanaman) dari tanah yang dipijaknya.

Sebab itu, dia sengaja mengambil segenggam tanah dari jejak tersebut lalu dia campurkan dalam adonan pembuatan sosok berhala sapi. Benar saja, patung sapi itu pun bisa bersuara sehingga orang-orang bodoh pun menyembahnya.

Apakah tindakan Samiri yang “sok hakikat” ini dibenarkan oleh Nabi Musa? Apakah gara-gara Samiri tahu bahwa kehidupan berhala sapi itu disebabkan kekuatan ilahi lantas dia dianggap tidak bersalah? Semua tahu bagaimana kisahnya yang berakhir tragis.

Nalar Kaum Quraisy dalam Menyembah Berhala

Nalar sesat semacam itu sebenarnya juga dipakai oleh musyrikin Quraisy ketika menyembah berhala. Di antara kredo yang mereka ucapkan setelah berkata bahwa tidak ada sekutu bagi Allah, mereka memberi pengecualian:

إلَّا شَرِيكًا هو لَكَ، تَمْلِكُهُ وَما مَلَكَ

‘Kecuali sekutu yang memang menjadi sekutu-Mu. Engkau lah yang memilikinya dan Dia tidak memiliki apa pun”

Maksudnya, mereka meyakini bahwa sebenarnya memang tiada sekutu bagi Allah. Adapun berhala-berhala itu memang dijadikan sekutu oleh Allah sendiri dan mereka pada hakikatnya tidak memiliki apa pun sebab pemilik segalanya adalah Allah semata. (Lihat: Ibnu Asyur, Tafsir at-Tahrir wa at-Tanwir)

Apakah lantas musyrikin Quraisy dianggap benar karena berdalih begitu? Sama sekali tidak, dan celaan Rasulullah pada ucapan mereka itu sangat jelas dan tegas. Hanya orang bodoh yang bisa menyimpulkan bahwa musyrikin Quraisy bertauhid atau tidak bermasalah gara-gara pernyataan seperti itu.

Jadi, dalam ketiga kasus di atas, yakni kasus Yesus, Samiri dan Kaum Quraisy, Alquran menjelaskan bahwa dalih “sok hakikat” semacam itu sama sekali tidak dibenarkan. Meskipun seseorang tahu betul bahwa hanya Allah saja yang menghidupkan, mematikan, memberi manfaat dan bahaya, kalau ujungnya dia menyembah orang atau menyembah makhluk, maka dia syirik.

Hal ini adalah dosa yang paling besar. Ingat, yang kita bahas di sini adalah “menyembah”, bukan tabarrukan dan semisalnya yang bukan ibadah. Jadi jangan sampai ada yang salah paham lagi, ini adalah sisi bottom-up, jangan dicampur aduk dengan sisi top-down.

Abdul Wahab Ahmad

Ketua Prodi Hukum Pidana Islam UIN KHAS Penulis Buku dan Peneliti di Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur dan Pengurus Wilayah LBM Jawa Timur.

Terkait

Leave a Reply