Berdakwah dengan Baik Terhadap Mualaf dan Murtadin

 Berdakwah dengan Baik Terhadap Mualaf dan Murtadin

Berdakwah dengan baik dengan mualaf dan murtadin (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Dalam salah satu hadis riwayat Imam al-Bukhari tercatat bahwa Nabi Muhammad saw memberi perintah berdakwah. Penggalan terjemah hadis tersebut kira-kira seperti ini, “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat!”.

Dalam sudut pandang yang sempit, hadis ini mungkin bisa diimplementasikan dengan kegiatan saling menasihati/mengingatkan antar-sesama umat Islam. Namun, dalam perspektif yang lebih luas, sasaran (pihak yang didakwahi) dari hadis tersebut adalah orang-orang non-muslim.

Hal ini sesuai dengan makna dari frasa ‘dakwah Islam’ secara harfiah, yakni mengajak orang (masuk) ke agama Islam. Bila kita melihat sejarah, kita akan menemukan perbedaan hasil dari metode-metode dakwah yang pernah dipraktikkan oleh para pendahulu.

Di Eropa, Islam masuk melalui jalur peperangan. Hasilnya? Keberadaan Islam di Eropa tak berusia lama. Sementara itu, di Indonesia Islam masuk melalui jalur perdagangan, budaya, juga pernikahan.

Metode ini nyatanya dapat membuat agama Islam justru melekat pada diri masyarakat Indonesia. Islam memiliki umur yang sangat panjang di Indonesia, bahkan Indonesia juga tergolong sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak.

Berdakwahlah dengan Kebaikan

Berkaca dari contoh termaktub, bisa dinyatakan bahwa dakwah dengan kedamaian selalu lebih baik daripada dakwah dengan kekerasan.

Kaitannya dengan metode dakwah, Alquran memaparkan 3 alternatif. Hal ini tercatat dalam surat al-Nahl/16 ayat 125, penggalannya sebagai berikut.

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik.

Dalam Tafsir al-Jalalain dijelaskan bahwa hikmah bermakna Alquran, mau’idhah hasanah berarti pelajaran yang baik atau nasihat yang lembut. Sementara bantahan yang baik bisa dilakukan dengan menyeru manusia agar menyembah Allah dengan menunjukkan tanda-tanda kebesaran-Nya pada mereka.

Saat ini media dakwah begitu beragam, dan yang paling digemari adalah media sosial. Alasannya sudah jelas, dakwah di media sosial mampu menjangkau audien secara luas. Selain memiliki jumlah pengguna yang sangat banyak, media sosial juga mempermudah akses dakwah untuk menyebar.

Kebanggaan Muslim pada Mualaf

Seperti telah disebutkan di awal, makna ‘dakwah Islam’ secara harfiah adalah mengajak orang (masuk) ke agama Islam. Berangkat dari sini, maka bisa dinyatakan bahwa salah satu tolok ukur keberhasilan dakwah adalah masuknya orang non-muslim ke dalam agama Islam.

Namun, bukan berarti dakwah dikatakan gagal apabila tidak ada non-muslim yang masuk Islam. Sebab, tolok ukur keberhasilan dakwah tak hanya satu.

Terlepas dari itu, tugas kita sebenarnya hanya berdakwah, menyampaikan ajaran Allah dan Rasul-Nya. Perkara berhasil atau tidak, perkara ada non-muslim yang bersyahadat atau tidak, itu semua di luar kuasa kita.

Ketika ada non-muslim yang menyatakan diri masuk Islam, menjadi muallaf, kita biasanya merasa sangat senang. Apalagi jika orang non-muslim tersebut adalah seseorang yang punya pengaruh besar.

Kita cukup sering membangga-banggakan hal tersebut. Hal ini dapat dimaklumi karena dua alasan:

1. Indikasi bahwa dakwah Islam berhasil

2. Jumlah umat Islam bertambah

Sebagai manusia, jelas perasaan kita akan sangat senang dengan hal tersebut. Namun, ketika yang terjadi sebaliknya, saat ada seorang muslim beralih ke agama lain, apa yang terjadi?

Perasaan kita seketika membencinya, amarah kita meluaap, hingga tak jarang semua itu berujung pada perbuatan menghina, merendahkan, juga mengutuk. Dalam proporsi kita sebagai manusia, muncul perasaan benci saat melihat saudara seagama pindah ke agama lain adalah satu hal yang lumrah.

Akan tetapi, jangan sampai perasaan tersebut membutakan kita dan membuat perbuatan kita lepas kendali. Adalah sesuatu yang kurang bijak apabila kita sampai merendahkan orang muslim yang pindah ke agama lain.

Bukan berarti saya membenarkan orang-orang yang keluar dari agama Islam. Hanya saja ada beberapa hal yang mesti kita renungkan terlebih dahulu sebelum terburu-buru menghakimi mereka.

Pertama, kita belum tentu tahu pasti apa yang melatarbelakangi orang tersebut pindah ke agama lain. Bisa jadi ada hal yang lebih kompleks daripada apa yang kita lihat.

Kedua, pintu taubat masih senantiasa terbuka untuk seluruh manusia, termasuk muslim yang pindah agama tersebut. Ketiga, kita tidak tahu akhir hidup manusia. Bisa saja saat ini orang tersebut keluar dari Islam, tapi di akhir hidupnya ia kembali menyatakan diri masuk Islam.

Memanusiakan Manusia dalam Islam

Jika kita merasa seorang muslim yang keluar dari Islam bukan lagi saudara seagama kita, setidaknya dia masih saudara kita sesama manusia. Oleh sebab itu, alih-alih menghakimi dan merendahkan, akan lebih baik bila kita mendoakannya supaya ia kembali memeluk Islam.

Membenci ketika kehilangan saudara (seiman) adalah hal yang manusiawi, tetapi menghakimi―bahkan menyatakan bahwa orang tersebut tidak lagi diampuni dosanya―bukan hak kita. Sebab, bagaimana pun pengampunan adalah milik Allah SWT. Dan, hanya Dia yang berhak dan tahu akan memberi ampunan pada siapa.

Belakangan ternyata beberapa di antara kita ada yang memberikan sedikit nyinyiran pada sebagian muallaf. Musababnya adalah muallaf- muallaf tersebut belajar agama pada guru (ustaz/kiyai) yang tak sama dengan kita.

Sikap seperti ini justru kian mempertebal sekat antara kita dengan saudara seagama yang berbeda ‘mazhab’. Padahal jika direnungkan, perbedaan guru (ustaz/kiyai) adalah hal yang biasa. Asalkan sang guru tersebut tidak mengajarkan untuk membunuh non-muslim dengan iming-iming surga, mengapa kita mesti mempermasalahkannya?

Tampaknya kita sangat perlu untuk mengendalikan emosi terhadap perbedaan, utamanya saat melihat saudara seiman keluar dari Islam. Kita sudah tahu bahwa Rasul saw diutus untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam, bukan hanya menjadi rahmat bagi sesama muslim.

Sebagai umatnya, kita seyogianya meneladani hal tersebut. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah tidak menghakimi secara serampangan terhadap muslim yang pindah agama, atau muallaf yang memilih guru yang berbeda dengan kita.

Bukankah perkara surga dan neraka itu bukan ranah urusan kita yang notabene hamba?

Mohammad Azharudin

Terkait

Leave a Reply