Benarkah Nafsu Laki-Laki Lebih Besar daripada Perempuan?

 Benarkah Nafsu Laki-Laki Lebih Besar daripada Perempuan?

Nafsu Laki-Laki Lebih Besar daripada Perempuan (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Kenapa korban kekerasan seksual selalu perempuan dan predatornya laki-laki? Benarkah ini ada hubungannya dengan nafsu atau syahwat laki-laki lebih besar daripada perempuan?

Sedangkan ada juga yang mengatakan bahwa perempuan mempunyai nafsu banyak, dan akal satu. Begitu pula sebaliknya, laki-laki mempunyai nafsu sedikit dengan porsi akal yang lebih banyak. Benarkah demikian?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, setidaknya bisa dilihat dari sisi teologis dan sisi medis. Teologis berbicara mengenai riwayat-riwayat terkait hal itu.

Sedangkan dari sisi medis berbicara mengenai perspektif medis terkait syahwat laki-laki. Ibnu Muflih di dalam al-Adab al-Syari’ah mengomentari beberapa hadis tentang perbandingan syahwat laki-laki dan perempuan.

Salah satunya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah: “Wanita menikmati kelezatan hubungan badan 99 kali dibandingkan dengan lelaki, hanya saja Allah menutupi mereka dengan rasa malu.” (Ibn Abd. Barr)

Lalu Ibnu Aqil dalam al-Funun bahwa syahwat wanita sembilan kali di atas syahwat pria, namun hadis ini didoifkan oleh Albani.

Jika Syahwat Perempuan Lebih Besar Tidak Ada Syarat Poligami?

Melihat beberapa riwayat di atas, terkesan justru perempuanlah yang mempunyai syahwat yang lebih besar daripada laki-laki. Tapi melihat realitas yang terjadi, banyak korban dari kaum Hawa dan pelaku yang memulai dari kaum Adam.

Oleh karenanya perlu perspektif lain dan penalaran lebih jauh terkait dengan hadis-hadis di atas. Uniknya dari ulama Hanabilah mengomentari hadis-hadis ini dengan penalaran yang cukup rasional.

Padahal notabene basic pemikiran mereka adalah tekstualis sebagai lawan dari mazhab Hanafi. Mereka berkomentar bahwa jika memang syahwat wanita lebih besar harusnya laki-laki tidak diperbolehkan menikahi empat wanita atau berhubungan badan dengan budaknya.

Dengan kata lain, seharusnya tidak ada yang namanya syariat poligami. Sementara wanita tidak boleh menikahi lebih dari satu laki-laki, berarti hanya mendapatkan seperempatnya saja.

Tentu hal ini tidak sesuai dengan hikmahnya di mana yang lebih membutuhkan justru keadaannya dipersulit. Dengan kata lain, jika memang syahwat wanita lebih besar harusnya poliandri dijadikan syariat agar memenuhi kebutuhan daripada perempuan itu.

Syahwat Lelaki Lebih Besar karena ‘Darah Panas’

Hal ini didukung juga oleh pendapat Ibnu Qoyyim bahwa tidak benar pernyataan syahwat perempuan lebih besar daripada laki-laki. Lantaran syahwat muncul dari hararah (darah panas).

Jelas hararah laki-laki lebih kuat daripada perempuan karena wanita seringkali longgar tidak berkegiatan. Tidak bekerja kasar dan keras seperti laki-laki dan juga tidak terpancing untuk melampiaskan syahwatnya.

Lebih lanjut Ibnu Qoyyim menyatakan bahwa bukti laki-laki lebih bersyahwat adalah mungkinnya berhubungan bada dengan istri-istrinya di waktu yang bersamaan atau dalam satu malam. Sepeti yang pernah dilakukan oleh Nabi Sulaiman yang menggauli 90 istrinya dalam satu malam, tidak bagi perempuan.

Berdasarkan penelitian, laki-laki lebih banyak menghasilkan hormon testosteron kurang lebih 30 – 45 menit sekali. Hormon tersebutlah yang menyebabkan syahwat laki-laki meningkat.

Hal ini dikuatkan oleh Psikiater R.S. Jiwa Darmawangsa dr. Agnes Tineke bahwa struktur otak tertentu di hipotalamus, yaitu nukleys supra kiasmatikus pada laki-laki lebih besar. Hal ini menghasilkan testosteron lebih tinggi, ibarat jika wanita kompor panas maka pria microwave yang cepat panas.

Pengendalian Emosional pada “Seksualitas” Lelaki

Hasil penelitian dari University of Texas menyatakan bahwa pria lebih mudah terangsang.Sebenarnya sama, tapi pria menerima lawan jenis yang lebih menarik hampir empat kali lebih kuat daripada perempuan.

Banyak anggapan yang menyatakan bahwa jika pria itu, seks dulu baru emosional. Sedangkan wanita emosional dulu (merasa nyaman dan dilindungi) baru seks.

Paul Eastwick menambahkan bahwa ada pengaruh juga dari teori evolusi. Dalam teori tersebut disebutkan, wanita hamil itu dalam kondisi yang sengsara dan kepayahan sehinga jadi lebih selektif siapa yang bisa meniduri mereka.

Meskipun demikian, pria gampang merayu bahkan ketika hormon testosteron rendah, namun dengan banyak latihan dan kontrol diri hal itu bisa dicegah. Kiranya dua perspektif tersebut bisa menjawab pertanyaan siapakan yang lebih besar syahwat antara laki-laki dan perempuan.

Tentu dengan kenyataan demikian harusnya kaum Adam harus bisa lebih mengontrol diri. Kaum Adam diberi fitrah syahwat yang lebih besar agar bisa digunakan sebagaimana mestinya dan sesuai dengan tempatnya.

Muhamad Firdaus

Terkait

Leave a Reply