Bank Dunia Balik Desak Kreditor Bantu Ringankan Utang Negara Miskin

 Bank Dunia Balik Desak Kreditor Bantu Ringankan Utang Negara Miskin

HIDAYATUNA.COM – Pada hari Jumat kemarin, Presiden dari Bank Dunia, David Malpass, mengatakan bahwa kreditor komersial juga perlu mendukung upaya peringanan utang untuk negara-negara termiskin.

Dia pun menambahkan bahwa tidak akan bisa jika mereka hanya ‘menumpang gratis’ saja dengan penangguhan pembayaran utang oleh kreditor bilateral resmi.

Malpass mengatakan kepada Komite Pembangunan Bank Dunia, bahwa inisiatif peringanan utang yang telah disepakati oleh Group of 20 (G20) economies dan Paris Club pada minggu ini, adalah sebuah ‘pencapaian besar’ untuk membantu negara-negara termiskin dalam menghadapi dampak kesehatan dan ekonomi dari dari munculnya pandemi COVID-19 di negara mereka masing-masing.

Malpass mengatakan bahwa Bank Dunia akan mencari cara untuk memperluas lebih lanjut dukungannya kepada negara-negara termiskin, tetapi ia juga turut memperingatkan bahwa sangat penting untuk tetap melindungi kapasitas keuangan, rating kredit dan biaya rendah dari pendanaan yang ditawarkan oleh pinjaman bank.

Dia mengatakan bahwa pandemi COVID-19, penyakit pernapasan yang disebabkan oleh virus corona, telah menyebabkan resesi global yang dapat menjadi lebih parah daripada yang pernah terjadi selama krisis keuangan global pada tahun 2008-2009, dan itu akan menimpa negara-negara yang termiskin, yang paling rentan, dan yang paling mengalami kesulitan.

Menurut penghitungan Reuters, lebih dari 2,26 juta orang di seluruh dunia telah dilaporkan terinfeksi oleh virus corona, dan 154.726 orang di antaranya telah meninggal dunia akibat virus tersebut.

Malpass mengatakan bahwa Bank Dunia sedang membiayai dan mengimplementasikan program-program yang bertujuan merespon pandemi COVID-19 di 64 negara berkembang, dan jumlah itu pun akan terus bertambah menjadi 100 negara sampai pada akhir bulan April nanti.

Bank Dunia mampu menyediakan pembiayaan sebesar $160 miliar selama 15 bulan ke depan, dengan sekitar $50miliar dari jumlah tersebut dialokasikan untuk negara-negara termiskin, atau mereka yang memenuhi syarat untuk menerima bantuan dari International Development Association (IDA).

Tetapi masih ada lebih banyak tugas dan sumber daya lagi yang akan dibutuhkan, katanya.

“Sudah jelas bahwa itu tidak akan cukup. Jika kita tidak bergerak dengan cepat untuk memperkuat sistem dan ketahanannya, keuntungan dari pembangunan dalam beberapa tahun terakhir dapat dengan mudah hilang,” kata Malpass kepada para anggota komite, yang mengadakan konferensi melalui video pada hari Jumat kemarin.

Keringanan utang menjadi topik utama dalam konferensi tersebut.

Pada hari Kamis, China diketahui telah mendesak Bank Dunia untuk mengizinkan peminjam termiskinnya menangguhkan pembayaran utang untuk sementara, agar mereka bisa fokus memerangi pandemi virus corona yang muncul di negaranya.

China pun menekankan bahwa Bank Dunia, sebagai Multilateral Development Banks (MDBs) terbesar di dunia, harus ‘memimpin (para kreditor) dengan menjadi contoh’ lebih dahulu.

Sementara pejabat dari Bank Dunia sendiri masih merasa khawatir bahwa penangguhan pembayaran utang dapat merusak rating kredit yang sudah sangat baik, yang saat ini telah dipegang oleh obligasi IDA bank dan instrumen lainnya. (Aljazeera.com)

Redaksi

Terkait

Leave a Reply