Bagaimana Jika Setan Dibelenggu Terus, Apa Manusia Selalu Taat?

 Bagaimana Jika Setan Dibelenggu Terus, Apa Manusia Selalu Taat?

Jika Setan Dibelenggu Terus (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – “Jika telah datang bulan Ramadan maka pintu-pintu surga akan dibuka, pintu-pintu neraka akan ditutup dan setan-setan akan dibelenggu dengan rantai.” (HR. Bukhari dan Muslim)”

Meski anggapan manusia umumnya mengatakan pada bulan Ramadan setan dibelenggu. Namun bagaimanapun setan akan terus menganggu agar manusia lalai dari semua perintah dan senantiasa melaksanakan larangan-Nya.

Tak heran bila kemudian muncul ekspektasi “jika setan terus dibelenggu, pasti manusia akan lebih taat beribadah. Anggapan bahwa “jika setan dibelenggu, maka manusia leluasa bertaqarrub tanpa henti lantaran tidak ada yang mengganggu lagi”.

Pengandaian setan agar dibelenggu sepanjang waktu terus bergema dan berharap agar terus dekat dengan kesalihan. Usut punya usut, keinginan dan harapan tersebut untuk menjeruji setan sempat dialami Nabi Sulaiman alaihi salam.

Nabi Sulaiman Ketika Meminta Setan Dikurung

Kisah ini saya nukil dari tulisan Rusdi Mathari yang bertajuk Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya: Kisah Sufi dari Madura (2021, p. 53-56) . Kala itu Nabi Sulaiman memohon kepada Allah agar diizinkan menangkap setan untuk dikurungnya dengan berkata:

“Ya Rabb, Engkau telah menundukkan untukku bangsa manusia, binatang, jin, burung-burung, dan malaikat. Kali ini izinkan hamba untuk menangkap iblis dan memenjarakannya agar manusia tidak bermaksiat dan berbuat dosa lagi.”

Allah bertanya kembali pada Sulaiman: “Wahai Sulaiman, apa gerangan dirimu ingin menangkapnya, sesungguhnya menangkap dan memenjarakannya tidak akan menghadirkan kebaikan bagimu dan bagi manusia”.

Nabi Sulaiman tetap memohon dan ingin membuktikan bahwa ketiadaan setan barangkali sesaat atau beberapa hari. Jika dipenjara akan membuat keadaan manusia lebih tunduk dan tidak bermaksiat.

Atas izin Allah untuk kekasih-Nya, maka doanya dikabulkan. Nabi Sulaiman As menangkap dan mengurungnya di bawah tanah yang gelap.

Setan Menjalankan Tugas Sesuai Kehendak-Nya

Beberapa hari kemudian, Nabi Sulaiman mengutus seorang untuk menjual beragam kerajinan di pasar dan pulang dengan tangan hampa. Kejadian ini berlangsung selama beberapa hari, tak satu pun aneka kerajinan yang hendak dijual laku terjual lantaran tidak ditemukan orang-orang yang dijumpai di sana.

Sulaiman As keheranan dan akhirnya mengadu padanya apa yang sebenarnya terjadi. “Wahai Sulaiman, menangkap dan memenjarakannya tidak akan menghadirkan kebaikan bagi manusia karena manusia akan tidak bergairah beribadah dan mencari nafkah.”

Sulaiman kemudian teringat dengan setan yang dikurungnya di bawah tanah dan melepaskannya, dan pasar kembali ramai begitu pula tempat  ibadah.

Dari penggalan kisah tersebut, iblis menjalankan fungsi dan tugasnya sesuai kehendak-Nya untuk menggoda dan memengaruhi kita setiap saat. Seandainya Allah tidak menghendaki setan untuk menggoda kita semua, tentu tidak akan meramaikan suasana Ramadan dengan bertaqarrub pada-Nya.

Maka dalam ayat-Nya yang lain, manusia berdiri di tengah-tengah, manusia berpotensi menjadi makhluk yang lebih mulia dari malaika. Begitu pun sebaliknya, dapat lebih keji dan hina dari binatang.

Setan Tak Berhenti Menggoda

Allah telah memberikan segala bentuk instrumen penting bagi manusia berupa akal, hati, dan Alquran dan Sunnah sebagai pegangan dan pedoman. Agar manusia menimbang-nimbang atas tindakan apa yang hendak diambil.

Dalam Ramadan sekalipun, tak menjamin seseorang untuk tidak melakukan perbuatan yang dilarang-Nya. Terlebih ketika menjelang Idul Fitri, begitu marak kejadian pencurian.

Memang benar, setan tukang goda dan memengaruhi manusia untuk mungkar. Bahkan dalam banyak ayat Alquran sering menyinggung hal ini hingga menyebut setan sebagai musuh yang nyata bagi manusia.

Betapa pun begitu, Rasulullah juga memperingatkan kita berkali-kali terkait ini. Sumber pedoman Islam telah mewanti-wanti itu, jadi membelenggu setan terus-menerus juga bukan solusi.

Hal itu justru akan memunculkan kejadian sebagaimana kisah di atas, semua merupakan garis takdir-Nya yang telah ditetapkan. Apa pun itu, yang dapat kita perbuat hanyalah berupaya semaksimal mungkin melaksanakan segala perintah-Nya dan menghindari apa yang dilarang seminimal mungkin.

Sekali lagi, mau naik satu derajat di atas malaikat, atau satu derajat di bawah hewan? Wallahu a’lam bi al-shawab

Ali Yazid Hamdani

https://hidayatuna.com/

Terkait

Leave a Reply