Arti Kata “Iman” dan Efek Belajar Islam di Barat

 Arti Kata “Iman” dan Efek Belajar Islam di Barat

Alquran (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Istilah “iman” dalam Islam nyaris tidak pernah diterjemahkan secara tepat ketika coba dijelaskan kedalam bahasa Inggris atau istilah ilmiah di Barat. Kata trust, faith, dan believe/belief sama sekali tidak bisa jadi ungkapan yang tepat dalam menterjemahkan kata “iman”.

Apabila “trust” mungkin sudah jelas, jadi memang tidak digunakan. Tetapi “faith” dan “belief” yang sering dipakai dalam menerjemahkan iman, ternyata sangat bertentangan artinya dengan apa yang dipelajari dalam dunia keilmuan Islam.

Di mana kata iman dalam dunia keilmuwan berarti “marifatu sye ala ma huwa alaihi an dalil“. Artinya, pengetahuan terhadap sesuatu sesuai dengan kenyataannya berdasarkan argumen.

Pemahaman iman seperti itu begitu jauh jika diterjemahkan dengan belief atau faith. Di mana keduanya itu mempunyai makna tentang sebuah keyakinan pada sesuatu tanpa melihat apakah itu berdasarkan dalil/argumen atau tidak.

Sebenarnya dalam istilah keislaman, pemahaman itu lebih sesuai dinamakan dengan itikad atau taklid. Mungkin padanan kata paling dekat untuk menerjemahkan kata iman dalam bahasa Inggris adalah knowledge.

Tapi siapa yang pulang belajar dari Barat lalu menerjemahkannya seperti itu? Sedikit sekali.

Kesalahan Terjemah Picu Kesalahan Pandangan Terhadap Islam

Akibat kesalahan terjemah ini, maka terjadi kesalahan pandangan terhadap Islam. Jadi ketika mereka mempelajari dan membahas tentang pembahasan “iman” dalam Islam, yang ada dalam bayangan mereka adalah makna faith dan belief yang ada dalam bahasa Inggris.

Hal ini yang membuat mereka bermuamalah sama dengan akademisi Barat, bermuamalah dengan faith di Barat sana. Maka tak heran jargon-jargon seperti “iman kok mau dinalar secara logis”, “iman itu urusan pribadi”, “ketika membahas ilmu jangan bawa iman”, dan lain-lain begitu populer bagi alumni Barat yang tidak matang keilmuwan Islam.

Coba dibawa pulang kedunia Islam baik di Timur atau Barat, diimpor mentah-mentah. Ya, tentu saja jargon itu tidak akan diterima oleh dunia santri atau madrasah keIslaman karena menurut kaum Islam tradisionalis, iman itu ya pengetahuan, bukan doktrin.

Kadang sebagian mereka karena gelar akademik yang dia punya, akan memberi julukan bagi yang mencoba membela sebagai “fanatik”. Lalu berteriak “Tidak usah membawa iman di ruang akademik!”

Sudah salah paham ngegas lagi, tentu iman yang mereka maksud itu faith. Bayangan mereka terhadap orang beriman di Negeri mereka, ya bayangan mereka tentang faith.

Adu Kesombongan Ilmiah

Kadang kesombongan ilmiah ditampakkan di atas kesalahpahaman itu, dengan mengatakan “kalian tidak paham perkembangan metodelogi penelitian ilmiyah mutakhir”. Ini tentu tidak bisa diterima dalam dunia akademis Islam seperti pesantren.

Akhirnya sebagian membantah secara ilmiah, dan tentu sebagian dengan emosional karena tentu saja tidak semua orang “beriman” punya sumbu dingin dalam menanggapi ini.

Kadang kemarahan itu dijadikan pembenaran oleh akademisi lulusan Barat itu. Hal itu sebagai pembenaran atas asumsi mereka “kalau dunia keilmuwan Islam modal kefanatikan doank” ya faith la intinya.

Asumsi itu kadang terus dibangun tanpa melihat kelompok lain yang membiarkan mereka dan selalu membantah mereka secara ilmiah. Bahkan mereka yang membantah secara ilmiah juga dicap membantah karena kefanatikan, bedanya mereka lembut saja, tapi tetap fanatik.

Makanya keributan dan fitnah di akar rumput kadang tak terhindarkan, gara-gara masalah sepele “salah terjemah”. Uniknya, dikampus Islam dalam Negeri, kadang kita didoktrin untuk menerima terjemahan mereka yang salah.

Keberhasilan Ulama yang Mempelajari Islam di Barat

Itu baru salah satu contoh efek negatif belajar Islam di Barat yang sering kita temui, ada banyak hal lain yang mungkin akan kita bahas lain kali. Intinya mencoba menilai sesuatu tanpa paham objek yang coba mereka nilai, asumsinya bisa ke mana-mana

Saya bukan penentang seorang belajar metodelogi Barat dalam melihat dunia Islam. Ada banyak hal baru bermanfaat yang bisa diambil di sana, seperti kajian antropologis, misalnya.

Walaupun tentu saya tidak menerimanya secara penuh, bahkan lebih banyak mengkritiknya. Lagian kita juga melihat ada ulama kita yang belajar ke sana, dan tidak terpengaruh kok.

Tidak juga membawa pulang hal negatif, seperti yang banyak kita lihat selama ini. Di antaranya, seperti Imam Besar Al-Azhar Syeikh Ahmad Thayib, bapak hukum Islam modern Syeikh Abdurazaq Sanhury, Syed Naquib Alatas, dan lain-lain.

Mereka belajar ke Barat dan sukses menyaring apa yang berguna serta harus dibawa pulang dari sana ke negerinya. Apa yang tidak berguna, ditinggalkan disana, jadi mereka pulang dengan membawa hal bermanfaat, bukan membawa fitnah dan keributan.

 

 

Penulis : Fauzan Inzaghi

https://www.facebook.com/fauzan.inzaghi.39

Redaksi

Terkait

Leave a Reply