Apakah Bulan Syawal Baik untuk Menikah?

 Apakah Bulan Syawal Baik untuk Menikah?

Laki-laki menikah dengan perempuan yang lebih tua (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Banyak masyarakat yang melangsungkan pernikahan pada bulan Syawal. Apakah menikah di bulan Syawal termasuk bulan yang baik dan dianjurkan Rasulullah Saw?

Wakil Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pidie Jaya, Tgk Yusri Gade menjelaskan terkait baik tidaknya melangsungkan pernikahan di bulan Syawal. Pasalnya, realita ini kerap dijumpai di masyarakat.

“Di mana-mana diadakan pesta perkawinan (walimah) di Syawal. Tidak ada larangan menikah di bulan Syawal,” kata Tgk Yusri Gade dilansir dari NU Online, Senin (09/05/2022).

Ia menjelaskan bahwa baginda Rasulullah Saw menikahi Sayyidah Aisyah dan menggaulinya pada bulan Syawal.

“Dari Aisyah RA ia berkata, ‘Rasulullah Saw menikahi aku pada bulan Syawal dan menggauliku (pertama kali juga, pent) pada bulan Syawal. Lalu manakah istri-istri beliau saw yang lebih beruntung dan dekat di hatinya dibanding aku?'” paparnya.

Keyakinan Jahiliyah Jika Menikah di Bulan Syawal

Alumni Dayah Ma’hadul Ulum Diniyah Islamiyah (MUDI) Masjid Raya Samalanga itu mengutarakan, selain anjuran menikah, hadis di atas sekaligus menepis anggapan menikah di bulan Syawal adalah kesialan dan tidak membawa berkah. Anggapan tersebut merupakan keyakinan bangsa Arab Jahiliyah pada saat itu.

“Dalam tradisi Arab Jahiliyah, bulan Syawal dianggap bulan sial menikah karena anggapan di bulan Syawal unta betina yang mengangkat ekornya (syaalat bidzanabiha). Ini adalah tanda unta betina tidak mau dan enggan untuk menikah, sebagai tanda juga menolak unta jantan yang mendekat. Maka para wanita juga menolak untuk dinikahi dan para wali pun enggan menikahkan putri mereka,” ulasnya.

Selain itu, ia mengutip sebuah kitabnya Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab Al-Bidayah wan Nihayah, menjelaskan, “Rasulullah saw menikahi ‘Aisyah untuk membantah keyakinan yang salah sebagian masyarakat yaitu tidak suka menikah di antara dua ‘id (bulan Syawwal termasuk di antara ‘id fitri dan ‘idul Adha), mereka khawatir akan terjadi perceraian. Keyakinan ini tidaklah benar,” paparnya.

Bukan hanya itu, Abiya memperkuat argumen pernikahan di bulan Syawal merupakan sunnah Rasul, dalam hal ini Imam An-Nawawi mengatakan, “Dalam hadits ini terdapat anjuran untuk menikah dan membangun rumah tangga (campur) di bulan Syawal. Para ulama madzhab kami (Syafi’iyah) menegaskan anjuran hal ini. Mereka berdalil dengan hadits di atas,” pungkasnya.

Romandhon MK

Peminat Sejarah Pengelola @podcasttanyasejarah

Terkait

Leave a Reply