Apa Itu Akidah Mujassimah Karramiyah?

 Apa Itu Akidah Mujassimah Karramiyah?

Akidah Mujassimah Karramiyah (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Mujassimah dan Jahmiyah, dua-duanya memakai dalil Alquran, hadis dan akal untuk membela mazhabnya, meskipun porsinya berbeda. Mujassimah termasuk dalam golongan shifatiyah/mutsbitun (orang-orang yang menetapkan adanya sifat) namun yang ekstrem.

Adapun Jahmiyah termasuk dalam golongan muatthilah (orang-orang yang meniadakan sifat Allah). Mereka berdua bagai dua kutub yang tak mungkin bertemu.

Jahmiyah mengatakan bahwa Tuhan ada di mana-mana bersama manusia di bumi sedangkan Mujassimah mengatakan bahwa Tuhan ada di langit. Mereka berdebat panjang soal Mujassimah, saya sudah berulang kali menjelaskan bahwa keduanya salah di berbagai tulisan saya sebelum ini.

Sebelumnya perlu diketahui bahwa mereka semua sepakat mengatakan bahwa Allah berbeda dengan Makhluk, laisa kamitslihi syai’un. Hanya saja mereka berbeda memahami seberapa berbeda Allah Itu, apakah perbedaannya secara esensi ataukah hanya berbeda kaifiyahnya (bentuk fisik dan mekanisme teknis tindakannya).

Kedua golongan tersebut terbagi menjadi beberapa sekte lagi, tapi saya tak akan membahas semuanya kali ini melainkan hanya sekte Karramiyah saja.

Sekte Karramiyah, Cabang Akidah Mujassimah

Sekte Karramiyah adalah sekte akidah yang dinisbatkan pada Abu Abdillah Muhammad bin Karram as-Sijistani (wafat 255 H). Ia seorang Mujassimah yang populer sekali di daerah Khurasan dengan keberadaan ribuan pengikutnya di sana.

Menurut Syaikh adz-Dzahabi, dia adalah orang yang zuhud, ahli ibadah dan juga terkenal. Jadi, jangan kira yang rajin beribadah dan zuhud pasti akidahnya benar.

Sekte Karramiyah ini kerap tak satu suara dalam meyikapi sifat Allah, kadang ada perbedaan yang tajam. Misalnya, sebagian mengatakan bahwa Allah menempel di Arasy dan sebagian lain mengatakan ada jarak  yang memisahkan antara Allah dan Arasy.

Pembahasan tentang akidah Mujassimah bukan untuk diyakini tetapi agar para pembaca tahu bahwa yang seperti ini salah. Dalam tulisan ini saya akan menukil beberapa pernyataan tokoh Karramiyah tentang Allah yang tampaknya tetap dilestarikan oleh beberapa pihak hingga saat ini.

***

Adapun pernyataan yang sudah tak ada yang menyakininya, maka saya buang sebab percuma saja dinukil bila pengikutnya sudah tak ada. Berikut sebagian pernyataan mereka:

الملل والنحل (1/ 108)

نص أبو عبد الله على أن معبوده على العرش استقرارا، وعلى أنه بجهة فوق ذاتا

“Abu Abdillah (ibnu Karram) menjelaskan bahwa yang dia sembah menetap di atas Arasy dan bahwasanya Dzatnya ada arah atas”.

الملل والنحل (1/ 109)

وقال بعضهم: امتلأ العرش به، وصار المتأخرون منهم إلى أنه تعالى بجهة فوق، وأنه محاذ للعرش.

“Sebagian Karramiyah berkata: Arsy penuh dengan dzat Allah. Orang-orang belakangan dari mereka berpendapat bahwa Allah ta’ala di arah atas dan bahwasanya Dia lurus dengan Arasy”.

***

الملل والنحل (1/ 109)

وقال محمد بن الهيصم: إن بينه وبين العرش بعدا لا يتناهى، وإنه مباين للعالم بينونة أزلية، ونفي التحيز والمحاداة، وأثبت الفوقية والمباينة.

“Muhammad bin al-Haisham (imam kedua Karramiyah) berkata: Sesungguhnya antara Allah dan antara Arasy ada jarak yang tak terhingga dan sesungguhnya Allah terpisah dari alam dengan jarak yang azali (sudah sejak awal mula)”.

الوافي بالوفيات (4/ 266)

وَمن أَصْحَابه من قَالَ هُوَ على بعض أَجزَاء الْعَرْش وَمِنْهُم من قَالَ امْتَلَأَ بِهِ الْعَرْش

“Di antara pengikut Ibnu Karram ada yang berkata: “Allah itu berada di atas sebagian arasy”. Ada juga yang berkata: “Allah memenuhi seluruh Arasy”.

الفرق بين الفرق (ص: 204)

وَاخْتلف أَصْحَابه فى معنى الاسْتوَاء الْمَذْكُور فى قَوْله {الرَّحْمَن على الْعَرْش اسْتَوَى} فَمنهمْ من زعم أَن كل الْعَرْش مَكَان لَهُ وانه لَو خلق بازاء الْعَرْش عروشا موازية لعرشه لَصَارَتْ العروش كلهَا مَكَانا لَهُ لانه أكبر مِنْهَا كلهَا وَهَذَا القَوْل يُوجب عَلَيْهِم ان يكون عَرْشه الْيَوْم كبعضه فى عرضه وَمِنْهُم من قَالَ إِنَّه لَا يزِيد على عَرْشه فى جِهَة المماسة وَلَا يفضل مِنْهُ شىء على الْعَرْش وَهَذَا يقتضى ان يكون عرضه كعرض الْعَرْش

“Para sahabat Ibnu Karram berbeda pendapat tentang makna istiwa’ dalam firman Allah “Ar-Rahman istawa atas Arsy.” Sebagian mereka menyangka bahwa seluruh Arasy adalah tempat bagi Allah dan bahwasanya andai Allah menciptakan lagi di hadapan Arasy [yang sudah ada] itu beberapa Arasy lainnya yang pararel. Maka semua Arasy itu akan menjadi tempat bagi Allah sebab Allah lebih besar dari semuanya. Ucapan ini berkonsekuensi bahwa Arasy Allah saat ini luasnya seperti sebagian dari luas Allah. Sebagian lagi berkata bahwa sesungguhnya Allah tak lebih dari Arasy-Nya dari sisi sentuhan dan Allah tak lebih sedikitpun darinya. Ucapan ini bekonsekuensi bahwa luas Allah sama dengan luas Arasy.”

Pendapat Mengenai Jisim

Menariknya, pendapat mereka tentang jisim, bagi mereka sifat jisim bukanlah hal mustahil bagi Allah. Sebab menurutnya jisim bukan berarti susunan materi yang dapat dibagi-bagi seperti halnya seluruh makhluk.

Akan tetapi, jisim adalah keberadaan Dzat Allah itu sendiri, namun pengertian dzat ini tetap dalam makna hissy (fisikal). Dengan begitu, kata jisim (dalam arti dzat) diperlakukan sama ketika ia menempel pada Allah atau pun pada Arasy. Mereka berkata:

الملل والنحل (1/ 109)

نعني بكونه جسما أنه قائم بذاته، وهذا هو حد الجسم عندهم، وبنوا على هذا أن من حكم القائمين بأنفسهما أن يكونا متجاورين أو متباينين. فقضى بعضهم بالتجاور مع العرش، وحكم بعضهم بالتباين

“Yang kami maksud dengan keberadaan Allah sebagai jisim adalah bahwasanya Allah itu mandiri dengan dzatnya sendiri. Inilah definisi jisim menurut mereka. Dari sini mereka menyimpulkan bahwasanya dua hal (Allah dan Arasy) yang mandiri dengan dirinya sendiri ada kalanya keduanya bersebelahan dan adakalanya terpisah. Maka sebagian mereka berpendapat bersebelahan dan sebagian lagi berpendapat  keduanya terpisah.”

Paham Materialisme yang Dianut Karramiyah

Karramiyah menganut paham materialisme sebagaimana yang dianut filsuf-filsuf barat itu. Bagi mereka, seluruh yang wujud di dunia ini pastilah berupa materi yang menempati ruang dan waktu.

Kalau bukan materi, maka berarti tak wujud alias tak pernah ada. Dengan ini, karena Allah diyakini ada, maka berarti dzat Allah juga diyakini sebagai materi (jisim).

Siapa pun yang mengatakan Allah bukan jisim, maka akan mereka anggap telah meniadakan Allah. Akidah materialisme Karramiyah ini terlihat jelas dalam gugatannya terhadap Ibnu Furak, salah satu Imam Asy’ariyah kala itu.

Ketika terjadi perdebatan antara Ibnu al-Haisham dari pihak Karramiyah dan Ibnu Furak dari Asya’irah. Ibnu  al-Haisham berkata kepada Ibnu Furak:

درء تعارض العقل والنقل (6/ 253)

إنه قال لابن فورك: فلو أردت تصف المعدوم كيف كنت تصفه بأكثر من هذا؟ أو قال: فرق لي بين هذا الرب الذي تصفه وبين المعدوم؟

“Dia berkata pada Ibnu Furak: Kalau kamu mau menyifati sesuatu yang tak ada, maka bagaimana caramu menyifatinya lebih dari ini?. Atau dia berkata: Berikan aku perbedaan antara Tuhan ini yang kau sifati dan antara yang tak ada sama sekali!”.

Jadi, wajar saja bila hingga saat ini gugatan serupa seringkali diarahkan pada Asy’ariyah ketika mereka mengatakan bahwa Allah wujud tanpa arah dan tanpa tempat sebab bukan jisim.

Nalar Pengikut Ibnu Karramiyah

Nalar pengikut Ibnu Karram ini tak mungkin bisa menjangkau bahwa Allah Maha Berbeda secara mutlak dari seluruh makhluk. Keberadaannya sama sekali tak terikat ruang dan waktu dan tak terikat kaidah-kaidah materi. Andai mereka membuang nalar materialisme ini, maka mereka akan mulai paham.

Sebagai pengamalan firman Allah laisa kamitslihi syai’un, mereka berkata sebagaimana dinukil oleh adz-Dhahabi berikut:

سير أعلام النبلاء ط الرسالة (11/ 524)

وَقَالَ خَلْقٌ مِنَ الأَتْبَاعِ لَهُ: بِأَنَّ البَارِي جِسْمٌ لاَ كَالأَجْسَام

“Orang-orang yang menjadi pengikut Muhammad bin Karram berkata: Allah adalah jisim yang tak serupa dengan jisim-jisim lainnya”.

Jadi dalam benak mereka, asalkan mengatakan tak sama itu sudah cukup dan tidak sesat. Bagi mereka sesat dan melawan Alquran hanyalah kalau mengatakan bahwa Allah adalah jisim yang sama dengan jisim lain.

Tangan Allah sama dengan tangan lain, wajah Allah sama dengan wajah lain dan seterusnya. Asal mengatakan “tidak sama”, bagi mereka sudah bukan musyabbihah yang dilarang dalam Alquran.

Dzat Allah Mempunyai Sifat-sifat Hawadits

Sekadar mengingatkan kembali, dalam salah satu riwayat, Imam Ahmad mengafirkan orang yang berkata seperti di atas. Sedangkan Imam Ibnul Jauzi mengatakan bahwa ucapan seperti ini takhabbuth (kacau dan kontradiktif) dan muncul dari orang yang tak bisa membedakan mana sifat yang layak dan tidak layak disematkan pada Allah.

Tetapi dari semua aliran Karramiyah yang berbeda itu, mereka sepakat bahwa boleh saja Dzat Allah mempunyai sifat-sifat hawadits (sifat-sifat yang punya awal dan akhir sehingga tidak kekal). Misalnya sifat bergerak, berpindah dari satu tempat ke tempat lain dan seterusnya.

Dalam benak mereka, yang seperti ini bisa saja absah bagi Allah selama dalam makna yang mereka anggap “layak” bagi-Nya. Imam as-Syahrastani (548 H) menjelaskan kesepakatan mereka itu seperti berikut:

الملل والنحل (1/ 109)

ومن مذهبهم جميعا: جواز قيام كثير من الحوادث بذات الباري تعالى، ومن أصلهم أن ما يحدث في ذاته فإنما يحدث بقدرته

“Di antara mazhab mereka kesemuanya adalah bolehnya ada banyak sifat hawadits dalam dzat Allah ta’ala. Di antara dasar mazhab mereka adalah bahwasanya segala sesuatu yang bersifat baru dalam Dzat Allah tidak lain hanyalah hal baru yang disebabkan kekuasaannya”.

الوافي بالوفيات (4/ 266)

وَجوز الِانْتِقَال والتحول وَالنُّزُول

“Dia (Ibnu Karram) memperbolehkan adanya pergerakan, pergeseran dan turun bagi Allah”.

Ajaran Sekte Karramiyah

Bergerak dan bergeser dari satu tempat ke tempat lain atau turun dari atas ke bawah adalah jenis dari hawadits (sifat-sifat tidak kekal) yang oleh kalangan Ahlusunnah wal Jama’ah dianggap mustahil bagi Allah. Akan tetapi golongan ini menetapkannya bagi Allah atas nama kekuasaan Allah.

Begitulah ajaran sekte Karramiyah. Siapa yang pendapatnya seperti di atas, maka ia telah keliru dan menyimpang dari keyakinan ulama salaf yang salih di tiga kurun terbaik.

Adakah ulama yang sependapat dan terinspirasi dari ucapan mereka? Jawabannya adalah: ada dan bahkan banyak. Perhatikan kesaksian tentang Ibnu Khuzaimah, pakar hadis penulis kitab Shahih Ibnu Khuzaimah dan kitab at-Tauhid, yang dipuja setinggi langit oleh pendaku Salafi berikut:

الوافي بالوفيات (4/ 265)

وَأثْنى عَلَيْهِ ابْن خُزَيْمَة وَاجْتمعَ بِهِ غير مرّة وَأَبُو سعيد الْحَاكِم

“Ibnu Khuzaimah memuji Muhammad bin Karram dan berulang kali berkumpul bersamanya dengan Abu Sa’id al-Hakim”.

Kalaulah selevel ahli hadis seperti Ibnu Khuzaimah saja memuji-muji dia. Maka jangan kaget bila banyak pendaku pengikut ahli hadis di masa sekarang yang berkata persis dengan perkataan dan logika Karramiyah, cabang akidah Mujassimah ini.

Semoga bermanfaat.

Abdul Wahab Ahmad

Ketua Prodi Hukum Pidana Islam UIN KHAS Penulis Buku dan Peneliti di Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur dan Pengurus Wilayah LBM Jawa Timur.

Terkait

Leave a Reply