Jepang Resmi Tunda Olimpiade Tokyo 2020 Karena Virus Corona

 Jepang Resmi Tunda Olimpiade Tokyo 2020 Karena Virus Corona

HIDAYATUNA.COM – Setelah melewati periode panjang dari apa yang tampaknya telah banyak disangkal oleh pemerintah, komite penyelenggara Tokyo dan pejabat lokal, akhirnya Olimpiade Tokyo dan Paralympic 2020 yang akan diadakan pada tanggal 24 Juli nanti telah ditunda selama kurun waktu satu tahun karena wabah virus corona, atau yang lebih dikenal sebagai covid-19.

Keputusan untuk menunda event tersebut selama satu tahun adalah hasil dari panggilan konferensi pada Selasa malam di Jepang, antara ketua International Olympic Committee (IOC) Thomas Bach, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, ketua panitia penyelenggara Tokyo 2020 Yoshiro Mori, dan Gubernur Tokyo Yuriko Koike.

Bandar taruhan di seluruh dunia selama berminggu-minggu telah bertaruh bahwa event ini tidak akan diadakan sesuai dengan jadwal yang ditetapkan, namun pada pertengahan Maret kemarin Koike masih bersikeras bahwa penundaan atau pembatalan itu adalah sesuatu yang ‘tidak mungkin’ terjadi

Para menteri pemerintahan Jepang dan anggota panitia telah mengambil garis yang sama baru-baru ini ketika ada tim yang menarik diri dari event itu pada hari Senin lalu. Abe pun sempat mengakui bahwa penundaan Olimpiade Tokyo itu adalah sebuah pilihan mengingat penyebaran virus corona secara global yang semakin cepat.

“Dalam beberapa minggu terakhir, dengan sangat cepat segala sesuatunya telah berputar di luar kendali di Amerika Serikat (AS) dan Eropa, dan telah ada kesadaran bahwa krisis COVID ini bukanlah sesuatu yang akan menjadi masalah selama sebulan saja di Asia Timur,” kata Stephen Nagy, seorang profesor senior di bidang politik dan hubungan internasional di Universitas Kristen Internasional Tokyo.

“Mungkin sudah ada kesadaran bahwa Olimpiade itu perlu untuk ditunda, tetapi bagian terpenting dari penyelesaian itu untuk Jepang adalah bahwa event itu tidak dibatalkan. Itu akan menjadi beban politik yang berbeda secara mendasar dibandingkan dengan penundaan,” kata Nagy.

Para ahli mengatakan bahwa meskipun event itu telah melibatkan investasi ekonomi yang besar, event itu juga merupakan kesempatan untuk menempatkan Jepang dalam sorotan dunia internasional.

“Sangat penting bagi Jepang untuk menunjukkan bahwa mereka memiliki model keberhasilan yang berbeda dengan China, sebuah masyarakat demokratis liberal yang dapat menyelenggarakan pertandingan tanpa adanya otoriterisme yang kaku. Dengan membatalkannya, mereka akan kehilangan semua kartu tersebut,” kata Nagy.

Seperti yang diketahui, meskipun Jepang merupakan salah satu negara pertama di luar China yang terkena wabah itu, mereka relatif berhasil dalam menahan sekaligus menangani tingkat penyebaran virus corona di negaranya. Mungkin hal itulah yang telah berkontribusi pada asumsi mereka bahwa event Olimpiade tersebut tetap dapat berjalan sesuai jadwal yang telah ditentukan.

Kasus pertama dari virus corona di Jepang telah didiagnosis pada pertengahan dan pada akhir bulan Januari, ada 17 pasien terinfeksi yang telah dikonfirmasi pada saat itu. Tetapi, sejak saat itu virus tersebut menyebar dengan jauh lebih lambat, dan tingkat kematian pun tetap rendah dibandingkan dengan di negara lain.

Tokyo sendiri hanya memiliki 162 kasus dan tiga kematian yang dilaporkan akibat virus corona. Sementara seluruh wilayah metropolitan yang lebih besar, dengan populasi lebih dari 40 juta jiwa, memiliki kurang dari 350 kasus dan sembilan kematian yang dilaporkan sampai pada tanggal 24 Maret. Tingkat infeksi nasional pun tetap stabil di angka sekitar sembilan per satu juta orang. Sebagai perbandingan, New York telah mengkonfirmasi adanya lebih dari 20.000 kasus, serta Italia, Swiss dan Luksemburg, semuanya memiliki tingkat infeksi lebih dari 1.000 per satu juta orang.

Walaupun ada tingkat kekhawatiran tentang rendahnya jumlah tes COVID-19 yang telah dilakukan di Jepang, setiap infeksi dalam kelompok besar yang tidak terdeteksi seharusnya telah menghasilkan banyak lagi jumlah kematian. Umur adalah salah satu faktor: 28 persen dari populasi Jepang telah berusia di atas 65 tahun, sebuah proporsi tertinggi di dunia.

Kehidupan di Tokyo sebagian besar adalah kegiatan bisnis seperti biasa, dengan toko-toko, restoran dan klub, walaupun lebih lengang dari sebelum adanya virus corona, tetapi masih tetap dibuka. (Aljazeera.com)

Redaksi

Terkait

Leave a Reply