Ajaran Tasawuf; Anggapan dan Harapan

 Ajaran Tasawuf; Anggapan dan Harapan

Kalian harus tahu! Ajaran tasawuf; anggapan dan harapan. Berikut ini sebagamana telah dijelaskan tentang pengertian tasawuf.

HIDAYATUNA.COM – Ketika pertamakali mendnegar kata “tasawuf” yang terlintas dalam pikiran kebanyakan orang yaitu mistis bahkan ada juga yang menghubungkannya dengan klenik. Ada juga anggapan yang mengatakan bahwa tasawuf itu statis dan penyebab kemunduran peradaban Islam. Anggapan-anggapan ini terus berkembang tanpa bisa dikonfirmasi kebenarannya. Padahal jika dipelajari lebih mendalam justru tasawuf itu logis dan dinamis.

Menjawab anggapan-anggagapan di atas mari menilik sejarah, dimana pada masa penjajahan Belanda justru motor penggerak perlawanan adalah para sufi (orang ahli tasawuf). Sebagaimana dijelaskan dalam buku Tasawuf Studi; Pengantara belajar Tasawuf karya Dr. H. Syamsun Ni’am, pada tahun 1819 masehi muncul perlawanan menteng, perlawanan Yususf Makasar, perlawanan Petani Banten terhadap Belanda menjadi bukti dinamisnya ajaran tasawuf.

Dewasa ini, tarekat (perkumpulan orang-orang yang belajar tasawuf) bahkan terlibat dalam kegiatan politik yaitu pemenangan Pemilu dan Pilkada. Hal ini sudah bukan lagi menjadi rahasia bahwa para pelaku ajaran tasawuf tidak mungkin terlepas dari aktifitas keduniaan. Justru para pelaku ajaran tasawuf terlibat menjadi agen perubahan sosial.

Tasawuf ditengarai muncul dan berkembang seiring ajaran Islam. Bahkan ada yang menyebut tasawuf merupakan bagian integral Islam disampaing syariat dan tauhid. Maka sangat wajar bila tasawuf juga berperan dalam memecahkan problem atau persoalan keagamaan selain juga terlibat dalam perubahan sosial kemanusiaan.

Sementara, menurut kalangan Orientalis yaitu ilmuan non-Muslim yang mengaksi segala tentang Islam dengan metodolgi dan motif tertentu, menduga kemunculan tasawuf dalam berbagai versi teori. Ada yang menganggap bahwa tasawuf merupakan copy ajaran mistik Kristen sebagaimana diungkapkan oleh Margaret Smith. Ada juga teori yang menganggap bahwa tasawuf berasal atau dipengaruhi oleh ajaran Yunani sebagaimana diungkap oleh R.A. Nicholson. Juga teori Alferd von Kremer dan Ignaz Goldziher bahwa tasawuf berasal dari ajaran Hindu dan Budha.

Beragam teori kemunculan taswauf ini dihasilkan berdasarkan penelusuran masing-masing peneliti orientalis. Tentulah semua teori tersebut memang masih harus dibuktikan kebenarannya. Peneliti orientalis lainya beranggapan bahwa tasawuf berasal dari berbagai esotoris atau ajaran baik Islam, Persia, Kristen, India dan Gnotisisme yang diusung oleh Ricard Hartman. Dengan kata laun Ricard menganggap bahwa tasawuf adalah akumulasi dari berbagai ajaran yang masing-masing memiliki andil.

Kalangan orientalis juga ada menyebutkan dalam teorinya bahwa asal mula tasawuf adalah Islam. Ia mendasarkan bahwa dalam Alquran ditemukan benih-benih yang menjadi sumber utama ajaran tasawuf. Teori ini dikemukakan oleh Lusi Massington yang merupakan sarjana Islam Katolik.

Terleaps dari berabagai anggapan kemunculannya, justru dimasa sekarang ajaran tasawuf semakin berkembang. Tasawuf bahkan dianggap menjadi obat dari gersangnya nuansa spiritual dalam kehidupan yang serba kapitalistik. Zaman matrealistik-hedonistik sekarang ini menjadikan banyak orang yang batinnya kering.

Kondisi di atas diperparah lagi pemahaman agama dibajak oleh orang-orang yang menonjolkan sisi maskulinitas Tuhan. Akibatnya perseteruan, caci maki dan saling klaim kebenaran jelas tidak bisa terhindarkan. Maka fenomena orang-orang belajar tasawuf sangatlah membahagiaan itu berarti kita kembali memiliki harapan hadirnya lagi kenyamanan dan ketentraman dalam pergaulan. Sehatnya hubungan dengan Tuhan berarti juga sehatnya kemanusiaan dan lingkunga. Wallahu a’lam.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply