3 Syarat untuk Bisa Menikmati Manisnya Iman

 3 Syarat untuk Bisa Menikmati Manisnya Iman

Syarat untuk Bisa Menikmati Manisnya Iman (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Katib ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Akhmad Said Asrori menjelaskan ada tiga (3) syarat agar muslim dapat merasakan manisnya iman.

Kiai Asrori mengatakan syarat pertama yang harus dilakukan yaitu ada kecintaan di dalam hati mencintai Allah SWT dan Rasulnya melebihi apa pun.

“Cinta adalah pekerjaan hati nurani untuk lebih memperhatikan kepada sesuatu atau seseorang. Cinta kita, perhatian lebih kita, diupayakan nomor satu adalah Allah dan yang kedua adalah Rasulullah. Ini syarat pertama,” kata Kiai Asrori, dikutip dari tayangan video di TVNU, Rabu (27/04/2022).

Syarat yang kedua, kata Kiai Asrori, umat Islam dapat merasakan kenikmatan dan manisnya iman apabila mampu mencintai orang lain karena Allah, bukan karena perkara dunia seperti harta, kekayaan, dan jabatan.

“Kita semua harus mencintai orang lain, tetapi cinta kita karena Allah. Kita berupaya agar mencintai istri, saudara, anak, didasari karena Allah. Orang yang bisa mencintai orang lain karena Allah, dia akan memberikan perhatian penuh agar orang yang dicintai itu selalu diingatkan manakala melakukan hal-hal yang melanggar aturan, hukum, atau amalan-amalan yang bisa menyengsarakan dia,” terangnya.

Persahaban dan Persaudaraan karena Allah

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa cinta karena Allah itu bisa dilakukan dengan mengingatkan dan memberikan nasihat yang baik. Bahkan, berani melarang apabila orang yang dicintai itu akan melakukan pekerjaan yang bisa menjerumuskannya.

“Kita bisa melakukan amar ma’ruf nahi mungkar. Persaudaraan atau persahabatan yang didasari karena cinta Allah luar biasa. Pada tingkat yang lebih tinggi. Seperti cinta ibu kepada anaknya. Ibu tidak rela anaknya jatuh dari pohon, meskipun sang anak itu akan merasa kehilangan kebahagiaan jika dilarang naik pohon. Tapi ibu akan melarang itu sebagai rasa cinta kepada anaknya karena Allah,” jelasnya.

Ketiga, seorang yang akan mendapatkan atau menikmati manisnya iman adalah ketika mampu menjaga keimanan. Orang seperti ini tidak memiliki keinginan untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana dia tidak senang apabila dimasukkan di dalam bara api.

“Kalau kita melihat bara api, kita tentu akan menghindari agar kita tidak terbakar. Nah, kita menghindari kekufuran seperti menghindari api yang akan membakar kita, sehingga kita menjauhi perkara-perkara yang menyebabkan kekufuran,” tandasnya.

Romandhon MK

Peminat Sejarah Pengelola @podcasttanyasejarah

Terkait

Leave a Reply