3 Istilah dalam Kajian Tasawuf

 3 Istilah dalam Kajian Tasawuf

Istilah dalam kajian tasawuf, antara syariat, thariqat dan hakikat (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Ada tiga istilah yang selalu muncul dalam setiap kajian tasawuf yakni syariat, thariqat, dan hakikat. Beragam cara dalam memahami ketiga istilah ini. Ada yang masih di jalurnya, ada yang sudah keluar jalur.

Ada yang menganggap bahwa tiga istilah ini ibarat jenjang yang ketika sudah sampai di atas maka yang dibawah ditinggalkan. Tak heran jika ada yang merasa sudah sampai ke level hakikat, ia merasa tak memerlukan syariat lagi. Ini sesuatu yang ditentang bahkan oleh tokoh-tokoh tasawuf sendiri.

Ada sebuah kisah yang bisa menggambarkan bagaimana posisi antara syariat, thariqat dan hakikat. Kisah ini bisa saja bersifat ramziy (simbolik) dan karena itu, jangan terlalu melihat detail-detailnya, apalagi yang bersifat zawaid. Sebab, esensi dan pesan utama yang ingin disampaikannya adalah yang perlu menjadi perhatian.

Seorang laki-laki datang menemui seorang alim. Ia berkata, “Syekh, aku mohon tolong ajarkan padaku apa itu syariat, thariqat dan hakikat secara singkat dan cepat.”

Syekh yang alim ini menganggukkan kepalanya. Lalu ia mengajak laki-laki itu ke pasar. Setiba di pasar, keduanya melihat seorang penjual buah-buahan.

Syekh berkata pada laki-laki tadi: “Orang itu di masa mudanya melakukan dosa besar. Ia pantas untuk ditampar. Pergilah ke dekatnya lalu tampar wajahnya!”

***

Laki-laki ini mulanya ragu, bagaimana mungkin ia akan menampar orang yang tidak ia kenal dan tidak pernah ada masalah apa pun dengannya. Tapi demi menuruti perintah Syekh, ia pun melangkah menuju penjual buah itu lalu menamparnya.

Tidak menunggu lama, penjual buah tersebut membalas tamparan laki-laki itu dengan tamparan yang lebih keras. Tapi ketika tahu kalau Syekh yang menyuruh, penjual buah itu meminta maaf.

Keduanya kembali berjalan, tiba-tiba mereka melihat seorang penjual daging. Syekh berkata pada laki-laki tadi, “Orang ini juga telah melakukan dosa di waktu mudanya. Ia berhak untuk ditampar. Datanglah ke dekatnya dan tampar mukanya!”

Demi mentaati Syekh, laki-laki tersebut melangkah ke arah penjual daging tersebut lalu menamparnya. Namun penjual daging ini tidak membalas. Ia hanya menengadahkan wajahnya ke langit dan berkata, “Cukuplah Allah tempatku mengadu. Biarlah Dia yang membalasmu.”

Keduanya kembali melanjutkan perjalanan, tiba-tiba mereka melihat seorang tukang jagal yang berbadan tegap dan besar. Syekh memintanya untuk menampar tukang jagal itu. Dengan sedikit takut ia melangkah ke arah tukang jagal tersebut lalu menamparnya.

Setelah ditampar, tukang jagal ini hanya tersenyum. Ia tidak membalas sedikitpun. Lalu ia berkata, “Sampaikan salamku pada gurumu.”

Kemudian Syekh berkata pada laki-laki itu, “Yang pertama tadi, itulah syariah. Kezaliman dibalas dengan kezaliman. Dan memang untuk itulah ia diturunkan ; mengatur hubungan antar manusia secara tegas dan adil. Adapun yang kedua, itulah thariqah. Ia tidak mengambil haknya. Ia menyerahkan semuanya pada Allah apa balasan yang pantas untukmu. Sementara yang ketiga, itulah hakikat. Ia tidak merasa punya hak sama sekali. Lisan halnya berkata : ق��لْ كُلٌّ مِّنْ عِنْدِ اللهِ (Katakanlah semua dari sisi Allah).”

***

الشريعة : هذا لك وهذا لي

Syariat : Ini untukmu, ini untukku.

الطريقة : ما لي هو لك

Thariqat : Untukku adalah untukmu.

الحقيقة : لا لي ولا لك

Hakikat : Tidak ada untukku dan untukmu.

Semua adalah untuk dan milik Allah SWT.

Syekh Abdul Halim Mahmud, Syekh al-Azhar al-Asbaq, pernah berkata: “Bagaimana pun Anda tidak menyukai tasawuf, Anda tidak bisa mengingkari bahwa banyak orang yang memiliki kecenderungan kepada sisi ruhaniy lebih daripada sisi zhahiri (kasat mata). Sebagaimana banyak orang yang lebih cenderung kepada sisi zhahiri daripada ruhaniy. Pada akhirnya, ini adalah masalah masyrab (kecenderungan pikiran dan perasaan).”

Yendri Junaidi

Pengajar STIT Diniyah Putri Rahmah El Yunusiyah Padang Panjang. Pernah belajar di Al Azhar University, Cairo.

Terkait

Leave a Reply