13 Hikmah Dibalik Maksiat Menurut Ibnu al-Qayyim

 13 Hikmah Dibalik Maksiat Menurut Ibnu al-Qayyim

Menyembah hanya pada Allah atas sifat-sifat yang Dia miliki (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Imam Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah menguraikan ada 31 (tiga puluh satu) hikmah dibalik terjadinya sebuah maksiat. Kenapa Allah SWT. membiarkan seorang hamba jatuh pada maksiat, kenapa tidak dihalangi antaranya dengan maksiat itu?

Dr. Adnan Ibrahim, cendekiawan muslim asal Palestina yang saat ini bermukim di Austria menceritakan kisah hikmah dibalik maksiat. “Ada seorang artis bercerita pada saya, suatu kali ia bersama ayahnya salat berjemaah di masjid dan ikut mendengar ceramah dari imam masjid,” tutur Dr. Adnan Ibrahim.

Ia melanjutkan ceritanya, para jemaah yang hadir tentu mengenal artis tersebut dan berbagai film yang dibintanginya. Sebagian mereka mulai berpandangan sinis pada sang artis tapi ia berusaha cuek.

Ironisnya, ketika memberikan ceramah, sang imam menggunakan bahasa-bahasa menyindir yang jelas diarahkan pada dirinya dan ayahnya. Artis itu berkata, “Hampir saja saya sekeluarga keluar dari Islam setelah mengalami peristiwa itu.”

Terlepas dari apa film yang dibintangi sang artis dan bagaimana kehidupannya yang sesungguhnya, tapi persepsi masyarakat pada dunia artis memang cenderung negatif. Padahal profesi artis tidak selalu identik dengan dosa. Sebagaimana ‘profesi’ ustaz juga tidak selalu identik dengan ketakwaan.

Melihat Secara Hakikat dan Syariat

Sangat disayangkan cara masyarakat, bahkan sebagian ustaz dan tokoh agama, dalam memandang sebuah maksiat. Seolah-olah orang yang melakukan maksiat adalah sosok yang kotor dan harus dijauhi. Padahal mereka tahu bahwa hati para makhluk hanya Sang Khaliq yang tahu.

Sejak dulu, para ulama -terutama kalangan Sufi- selalu berpesan :

انْظُرْ إِلىَ النَّاسِ بِعَيْنِ الْحَقِيْقَةِ وَانْظُرْ إِلَى نَفْسِكَ بِعَيْنِ الشَّرِيْعَةِ

“Lihatlah pada orang lain dengan kacamata hakikat, dan lihatlah pada dirimu dengan kacamata syariat.”

Dalam bahasa yang lebih ‘tajam’ dan ‘berani’, ada yang mengungkapkannya dengan :

انْظُرْ إِلىَ النَّاسِ بِعَيْنِ اللهِ

“Lihatlah orang lain dengan ‘kacamata’ Allah.”

Hikmah Dibalik Maksiat

1. Pintu Hidayah dan Ampunan

Allah SWT. mencintai orang-orang yang bertaubat dan bergembira dengan taubat mereka. Sebab gembira dengan taubat mereka itu Allah SWT. menetapkan dosa terhadap hamba-Nya. Hamba yang mendapat ‘inayah dan hidayah akan bertaubat setelah maksiat itu.

2. Menunjukkan Kebesaran Allah SWT.

Kedua, menyadarkan hamba akan kemaha-Agungan Allah SWT., bahwa kehendak-Nya juga yang akan berlaku.

3. Kebutuhan Manusia pada Tuhannya

Kemudian lewat maksiat Allah SWT. ingin menyadarkan hamba akan kebutuhannya kepada Sang Pencipta. Bahwa tanpa penjagaan dari-Nya tentu ia sudah dirobek-robek oleh setan.

4. Menyempurnakan Level Manusia

Selanjutnya, Allah ingin menyempurnakan maqam (level) adz-dzul (kehinaan) dan al-inkisar (kerendahan) pada diri hamba-Nya. Sebab, ketika seorang hamba hanya menyaksikan kesalihannya saja maka ia akan merasa bersih dan mengira bahwa ia sudah sampai ke maqam ini dan itu. Tapi ketika ia diuji dengan dosa ia akan merasa hina dan rendah.

Dalam konteks inilah hikmah Imam Ibnu ‘Athaillah as-Sakandariy رحمه الله :

رُبَّ مَعْصِيَةٍ أَوْرَثَتْ ذُلاًّ وَانْكِسَارًا خَيْرٌ مِنْ طَاعَةٍ أَوْرَثَتْ عِزًّا وَاسْتِكْبَارًا

“Terkadang maksiat yang melahirkan rasa hina dan rendah lebih baik daripada ketaatan yang melahirkan ketinggian dan kesombongan.”

5. Luasnya Kasih Sayang Allah

Kelima, menyadarkan hamba betapa luasnya sayang, santun dan kasih Allah سبحانه وتعالى ketika dosa dan maksiatnya ditutupi. Allah bisa saja menyegerakan azab saat ia berdosa, atau membuat aibnya tersebar di kalangan manusia. Tapi itu tidak Dia lakukan.

6. Rahmat Allah

Menyadarkan hamba bahwa tidak ada cara selamat kecuali dengan kemaafan dan ampunan (rahmat) Allah SWT. Bukan dengan amal dan kesalihannya.

7. Iqamatul Hujjah ‘ala al-‘abd

Ketujuh, iqamatul hujjah ‘ala al-‘abd (mendirikan hujjah terhadap seorang hamba sehingga tidak ada lagi alasan yang bisa ia kemukakan). Bahwa kalau Dia mengazab, maka hal itu karena kemahaadilan-Nya, dan yang Dia maafkan jauh lebih banyak.

Seorang tokoh tabi’in terkenal bernama Ahnaf bin Qais berkata :

اللهم إِنْ تَغْفِرْ لِي فَأَنْتَ أَهْلٌ لِذَاكَ وَإِنْ تُعَذِّبْنِي فَأَنَا أَهْلٌ لِذَاكَ

“Ya Allah, jika Engkau ampuni aku maka Engkau yang pantas untuk itu, dan jika Engkau azab aku maka aku memang pantas mendapatkan itu.”

8. Cara Allah Menyelamatkan dari Kesombongan

Allah ingin mencabut akar kesombongan ketaatan dari diri seorang hamba dan menyelamatkannya dari penyakit paling berbahaya ; al-kibr (sombong).

Rasulullah Saw bersabda :

لَوْ لَمْ تُذْنِبُوْا لَخِفْتُ عَلَيْكُمْ مَا هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ ؛ الْعُجْبُ

“Kalau kalian tidak berdosa, sungguh aku mengkhawatirkan hal yang lebih berbahaya dari dosa ; ‘ujub.”

9. Penghambaan Manusia yang Hakiki

Kesembilan, Allah ingin memunculkan dari dirinya sifat penghambaan yang hakiki. Dengan adanya al-khauf dan al-khasyah (rasa takut) serta dampak dari rasa takut itu ; tangisan dan penyesalan.

10. Berhati-hati dan Waspada

Kesepuluh, maksiat membuat seorang hamba lebih waspada terhadap jerat dan perangkap setan dan hawa nafsu karena ia pernah mengalaminya.

Dengan begitu ia akan lebih berhati-hati. Ibarat seorang dokter yang pernah merasakan sakit lalu minum obat dan merasakan manjurnya obat itu.

11. Memunculkan ‘Kemanusiaan’

Maksiat membuat seseorang lebih toleran, kasihan dan berempati terhadap pelaku maksiat yang lain. Sebab ia sendiri pernah terjerumus ke dalam lobang itu.

Ia tidak akan merasa lebih suci atau aman dari berbagai jerat setan dan hawa nafsu. Hanya mereka yang merasa suci saja yang merendahkan pelaku maksiat.

12. Ketenangan dan Kesempurnaan

Keduabelas, tak jarang kenikmatan yang dirasakan setelah bertaubat lalu kembali pada ‘afiyah ketaatan, jauh lebih sempurna dan menenangkan.

13. Ujian Naik Derajat

Maksiat sebagai ujian bagi seorang hamba, apakah ia layak untuk menjadi wali Allah atau tidak. Ketika seseorang bermaksiat, ia akan merasakan kegersangan dan kesendirian (wahsyah).

Kalau setelah itu ia bermunajat dengan sungguh-sungguh kepada Allah untuk dikembalikan lagi pada kondisi halawah (kemanisan) taat dan mu’amalah. Ia iringi dengan mujahadah sekuat tenaga, berarti ia layak menjadi kekasih (wali) Allah.

Tetapi jika ia tidak merasa ada yang hilang, atau tidak merasa rindu untuk kembali pada kondisi al-washl yang pernah ia rasakan. Berarti ia tidak layak menjadi kekasih-Nya.

 

 

(Selengkapnya silahkan rujuk ke kitab Thariq al-Hijratain wa Bab as-Sa’adatain).

Yendri Junaidi

Pengajar STIT Diniyah Putri Rahmah El Yunusiyah Padang Panjang. Pernah belajar di Al Azhar University, Cairo.

Terkait

Leave a Reply